Analisis Pencopotan Husniah Talenrang, Pengamat Unhas Sebut Upaya PAN Lepas dari Bayang-bayang Figur

SulawesiPos.com – Dinamika internal Partai Amanat Nasional (PAN) di Kabupaten Gowa yang berujung pada pergantian posisi Ketua DPD dari Husniah Talenrang menuai sorotan tajam.

Menanggapi fenomena ini, Pengamat Politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Endang Sari, menilai bahwa peristiwa tersebut merupakan refleksi dari proses pelembagaan partai yang tengah diuji.

Menurut Endang, kondisi partai politik di Indonesia secara umum memang masih berada pada tahap kelembagaan yang lemah.

Hal ini menyebabkan struktur organisasi seringkali belum mandiri dan masih menjadikan sosok ketua sebagai pusat gravitasi politik.

“Publik kita masih terbiasa dengan politik figur-sentris. Maka sangat wajar jika tafsir masyarakat terhadap dinamika internal partai selalu lari ke persoalan personal atau konflik antarfigur,” ujar Endang Sari, saat dihubungi SulawesiPos, Jumat (8/5/2026).

Meski isu personal sering mengemuka, Endang memberikan sudut pandang berbeda.

Ia melihat pencopotan atau pergantian kepemimpinan bisa jadi merupakan langkah strategis organisasi untuk: memperkuat basis sektoral di wilayah tertentu, termasuk pula untuk menyesuaikan arahan pusat guna sinkronisasi kebijakan partai, dan merespons dinamika politik lokal yang kian kompetitif.

BACA JUGA: 
Pengamat: Husniah Talenrang Sedari Awal Dinilai Belum Layak Pimpin PAN Sulsel

Dosen Ilmu Politik FISIP Unhas ini menyebutkan, mengacu pada teori pelembagaan partai dari Samuel Huntington, Endang menjelaskan bahwa kematangan sebuah organisasi politik diukur dari empat aspek: adaptabilitas, kompleksitas, otonomi, dan koherensi.

Dalam konteks PAN Gowa, Endang melihat ada upaya dari partai berlambang matahari tersebut untuk menunjukkan bahwa organisasi mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu sosok tertentu.

“Sebuah partai yang terlembaga dengan baik harus mampu menghadapi perubahan tanpa bergantung pada figur tertentu. Apa yang terjadi di PAN Gowa bisa jadi adalah upaya partai meningkatkan koherensi dan adaptabilitas organisasinya,” tambahnya.

Langkah PAN ini dianggap sebagai pesan internal maupun publik bahwa partai sedang membangun aturan main yang lebih kuat.

Endang menekankan pentingnya keseimbangan antara kekuatan figur dan kebutuhan struktur.

“Pencopotan ini adalah refleksi bagaimana PAN sedang berusaha menyeimbangkan antara kekuatan figur ketua dengan kebutuhan struktur kelembagaan. Ini adalah proses penting untuk konsolidasi dan pelembagaan partai, khususnya di Kabupaten Gowa, agar mencapai situasi yang lebih stabil dan tidak lagi bergantung pada individu,” tutupnya.

BACA JUGA: 
Bupati Gowa Awali Safari Ramadan di Tompobulu, Serahkan Bantuan dan Tegaskan Lanjutkan Perbaikan Jalan

SulawesiPos.com – Dinamika internal Partai Amanat Nasional (PAN) di Kabupaten Gowa yang berujung pada pergantian posisi Ketua DPD dari Husniah Talenrang menuai sorotan tajam.

Menanggapi fenomena ini, Pengamat Politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Endang Sari, menilai bahwa peristiwa tersebut merupakan refleksi dari proses pelembagaan partai yang tengah diuji.

Menurut Endang, kondisi partai politik di Indonesia secara umum memang masih berada pada tahap kelembagaan yang lemah.

Hal ini menyebabkan struktur organisasi seringkali belum mandiri dan masih menjadikan sosok ketua sebagai pusat gravitasi politik.

“Publik kita masih terbiasa dengan politik figur-sentris. Maka sangat wajar jika tafsir masyarakat terhadap dinamika internal partai selalu lari ke persoalan personal atau konflik antarfigur,” ujar Endang Sari, saat dihubungi SulawesiPos, Jumat (8/5/2026).

Meski isu personal sering mengemuka, Endang memberikan sudut pandang berbeda.

Ia melihat pencopotan atau pergantian kepemimpinan bisa jadi merupakan langkah strategis organisasi untuk: memperkuat basis sektoral di wilayah tertentu, termasuk pula untuk menyesuaikan arahan pusat guna sinkronisasi kebijakan partai, dan merespons dinamika politik lokal yang kian kompetitif.

BACA JUGA: 
Bupati Gowa Awali Safari Ramadan di Tompobulu, Serahkan Bantuan dan Tegaskan Lanjutkan Perbaikan Jalan

Dosen Ilmu Politik FISIP Unhas ini menyebutkan, mengacu pada teori pelembagaan partai dari Samuel Huntington, Endang menjelaskan bahwa kematangan sebuah organisasi politik diukur dari empat aspek: adaptabilitas, kompleksitas, otonomi, dan koherensi.

Dalam konteks PAN Gowa, Endang melihat ada upaya dari partai berlambang matahari tersebut untuk menunjukkan bahwa organisasi mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu sosok tertentu.

“Sebuah partai yang terlembaga dengan baik harus mampu menghadapi perubahan tanpa bergantung pada figur tertentu. Apa yang terjadi di PAN Gowa bisa jadi adalah upaya partai meningkatkan koherensi dan adaptabilitas organisasinya,” tambahnya.

Langkah PAN ini dianggap sebagai pesan internal maupun publik bahwa partai sedang membangun aturan main yang lebih kuat.

Endang menekankan pentingnya keseimbangan antara kekuatan figur dan kebutuhan struktur.

“Pencopotan ini adalah refleksi bagaimana PAN sedang berusaha menyeimbangkan antara kekuatan figur ketua dengan kebutuhan struktur kelembagaan. Ini adalah proses penting untuk konsolidasi dan pelembagaan partai, khususnya di Kabupaten Gowa, agar mencapai situasi yang lebih stabil dan tidak lagi bergantung pada individu,” tutupnya.

BACA JUGA: 
Bedah Buku Money Politics, Mantan Komisioner KPU Ungkap Fenomena Golput di Makassar: Ekspektasi Tak Terpenuhi

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru