Dunia Waswas Krisis Pangan, Indonesia Justru Catat Rekor CBP 4,7 Juta Ton

SulawesiPos.com, Jakarta — Ketegangan geopolitik global yang dipicu konflik di Timur Tengah terus mempertebal kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pangan.

Eskalasi konflik, gangguan jalur logistik, serta ketidakpastian perdagangan internasional dinilai berpotensi menekan pasokan dan mendorong lonjakan harga pangan di tingkat global.

Bahkan Rusia telah menyerukan pembentukan cadangan pangan bersama negara-negara BRICS sebagai langkah antisipatif atas meningkatnya risiko krisis.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia mencatatkan perkembangan yang signifikan di sektor ketahanan pangan nasional.

Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai 4,7 juta ton, merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak Bulog berdiri, dan terus bergerak menuju angka 5 juta ton.

Capaian tersebut baru merupakan satu lapisan dari gambaran utuh ketahanan pangan Indonesia.

Di pasar domestik dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, dan Katering), ketersediaan beras tercatat mencapai 12 juta ton.

Selain itu, potensi standing crop diproyeksikan terus memberikan kontribusi produksi hingga akhir tahun.

BACA JUGA: 
350 Karung Beras Dibagikan, IKA Unhas Luncurkan Program Berkah Ramadhan 1447 H

Ketiga lapisan ketersediaan tersebut menjadi fondasi utama yang memastikan kebutuhan pangan Indonesia tercukupi hingga 11 bulan ke depan.

Capaian ini merupakan hasil dari visi dan kebijakan yang telah diletakkan sejak awal pemerintahan.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Januari 2025, Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan arah kebijakan pangan nasional.

“Dengan swasembada pangan, kita aman. Kita tidak boleh lagi bergantung pada sumber dari luar negeri. Dalam krisis global, tidak ada negara yang akan rela melepas pangannya ke luar negeri. Ini adalah hukum sejarah.”

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia telah mengambil langkah antisipatif jauh sebelum tekanan global menguat, sesuai arahan langsung Presiden Republik Indonesia.

“Sejak awal, Bapak Presiden sudah menekankan pentingnya swasembada dan penguatan cadangan pangan. Ini menjadi langkah strategis untuk menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian,” ujar Mentan Amran (15/4/2026).

Mentan Amran lebih lanjut menyampaikan bahwa, posisi cadangan pangan saat ini merupakan cerminan kesiapan Indonesia menghadapi berbagai skenario krisis global.

BACA JUGA: 
Mentan Amran: Stok Beras Menuju 5 Juta Ton, Kampus Harus Jadi Motor Inovasi Pertanian

“Cadangan kita saat ini 4,7 juta ton dan terus menuju 5 juta ton. Dengan posisi ini, kebutuhan pangan kita cukup hingga 11 bulan ke depan. Ini adalah bentuk kesiapan Indonesia dalam menghadapi potensi krisis pangan global,” tegasnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) menilai dinamika geopolitik global saat ini semakin menegaskan pentingnya setiap negara memiliki cadangan pangan yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan.

Ketergantungan terhadap rantai pasok global yang rentan terganggu dinilai sebagai kelemahan struktural yang harus diatasi secara serius dan sistematis.

“Dunia saat ini dihadapkan pada ketidakpastian. Bisa karena konflik, bisa karena kebijakan negara lain yang membatasi ekspor. Karena itu, kita harus memastikan produksi dalam negeri kuat dan cadangan kita cukup,” kata Mentan Amran.

Terkait seruan Rusia untuk membangun cadangan pangan bersama negara-negara BRICS, Kementan memandang inisiatif tersebut sebagai langkah strategis yang sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan global.

Kerja sama antarnegara dinilai menjadi instrumen penting dalam meredam dampak krisis pangan yang semakin kompleks.

BACA JUGA: 
Mau Diapakan Beras Selundupan 1.000 Ton? Mentan Amran dan Menkeu Purbaya Satu Suara: Musnahkan!

Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang dalam kelompok tersebut, berada pada posisi strategis untuk tidak hanya menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga berkontribusi aktif pada stabilitas pangan kawasan dan global.

Komitmen tersebut berlandaskan pada prinsip yang telah ditegaskan Presiden Prabowo Subianto saat mengumumkan pencapaian swasembada pangan nasional dalam Panen Raya Karawang, 7 Januari 2026.

“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan, tergantung bangsa lain.”

Dengan tiga lapisan ketersediaan pangan yang kokoh, yaitu cadangan pemerintah yang mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, ketersediaan beras di pasar domestik dan HoReCa, serta proyeksi produksi standing crop hingga akhir tahun, Indonesia berada pada posisi ketahanan pangan yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan dan ketidakpastian global.

SulawesiPos.com, Jakarta — Ketegangan geopolitik global yang dipicu konflik di Timur Tengah terus mempertebal kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pangan.

Eskalasi konflik, gangguan jalur logistik, serta ketidakpastian perdagangan internasional dinilai berpotensi menekan pasokan dan mendorong lonjakan harga pangan di tingkat global.

Bahkan Rusia telah menyerukan pembentukan cadangan pangan bersama negara-negara BRICS sebagai langkah antisipatif atas meningkatnya risiko krisis.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia mencatatkan perkembangan yang signifikan di sektor ketahanan pangan nasional.

Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai 4,7 juta ton, merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak Bulog berdiri, dan terus bergerak menuju angka 5 juta ton.

Capaian tersebut baru merupakan satu lapisan dari gambaran utuh ketahanan pangan Indonesia.

Di pasar domestik dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, dan Katering), ketersediaan beras tercatat mencapai 12 juta ton.

Selain itu, potensi standing crop diproyeksikan terus memberikan kontribusi produksi hingga akhir tahun.

BACA JUGA: 
Produksi dan Stok Beras Surplus, Raffi Ahmad Ajak Generasi Muda Kuatkan Sektor Pertanian

Ketiga lapisan ketersediaan tersebut menjadi fondasi utama yang memastikan kebutuhan pangan Indonesia tercukupi hingga 11 bulan ke depan.

Capaian ini merupakan hasil dari visi dan kebijakan yang telah diletakkan sejak awal pemerintahan.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Januari 2025, Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan arah kebijakan pangan nasional.

“Dengan swasembada pangan, kita aman. Kita tidak boleh lagi bergantung pada sumber dari luar negeri. Dalam krisis global, tidak ada negara yang akan rela melepas pangannya ke luar negeri. Ini adalah hukum sejarah.”

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia telah mengambil langkah antisipatif jauh sebelum tekanan global menguat, sesuai arahan langsung Presiden Republik Indonesia.

“Sejak awal, Bapak Presiden sudah menekankan pentingnya swasembada dan penguatan cadangan pangan. Ini menjadi langkah strategis untuk menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian,” ujar Mentan Amran (15/4/2026).

Mentan Amran lebih lanjut menyampaikan bahwa, posisi cadangan pangan saat ini merupakan cerminan kesiapan Indonesia menghadapi berbagai skenario krisis global.

BACA JUGA: 
Sentuhan Nyata untuk Rakyat Kecil: Mentan Amran Bantu Modal Rp20 Juta untuk Pedagang Kerupuk di Bone

“Cadangan kita saat ini 4,7 juta ton dan terus menuju 5 juta ton. Dengan posisi ini, kebutuhan pangan kita cukup hingga 11 bulan ke depan. Ini adalah bentuk kesiapan Indonesia dalam menghadapi potensi krisis pangan global,” tegasnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) menilai dinamika geopolitik global saat ini semakin menegaskan pentingnya setiap negara memiliki cadangan pangan yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan.

Ketergantungan terhadap rantai pasok global yang rentan terganggu dinilai sebagai kelemahan struktural yang harus diatasi secara serius dan sistematis.

“Dunia saat ini dihadapkan pada ketidakpastian. Bisa karena konflik, bisa karena kebijakan negara lain yang membatasi ekspor. Karena itu, kita harus memastikan produksi dalam negeri kuat dan cadangan kita cukup,” kata Mentan Amran.

Terkait seruan Rusia untuk membangun cadangan pangan bersama negara-negara BRICS, Kementan memandang inisiatif tersebut sebagai langkah strategis yang sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan global.

Kerja sama antarnegara dinilai menjadi instrumen penting dalam meredam dampak krisis pangan yang semakin kompleks.

BACA JUGA: 
Kepala Dinas Diminta Tancap Gas, Mentan Amran: Cetak Sawah dan Program Strategis Tak Boleh Kendur

Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang dalam kelompok tersebut, berada pada posisi strategis untuk tidak hanya menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga berkontribusi aktif pada stabilitas pangan kawasan dan global.

Komitmen tersebut berlandaskan pada prinsip yang telah ditegaskan Presiden Prabowo Subianto saat mengumumkan pencapaian swasembada pangan nasional dalam Panen Raya Karawang, 7 Januari 2026.

“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan, tergantung bangsa lain.”

Dengan tiga lapisan ketersediaan pangan yang kokoh, yaitu cadangan pemerintah yang mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, ketersediaan beras di pasar domestik dan HoReCa, serta proyeksi produksi standing crop hingga akhir tahun, Indonesia berada pada posisi ketahanan pangan yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan dan ketidakpastian global.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru