Rusia Dorong Diplomasi AS-Iran, Akal Sehat Jadi Penentu

SulawesiPos.com – Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan bahwa akal sehat menjadi faktor penentu di balik meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pandangannya, konflik yang ada saat ini sejatinya hanya tertunda, dengan masing-masing pihak mengklaim keberhasilan.

“Jadi siapa yang menang? Pertama dan yang terpenting adalah akal sehat, yang sangat dirusak oleh pernyataan Gedung Putih tentang menghancurkan peradaban Iran dalam satu hari,” kata Medvedev, dikutip dari JawaPos, Kamis (9/4/2026).

Ia menambahkan bahwa kesiapan AS untuk mempertimbangkan rencana 10 poin dianggap sebagai capaian bagi Iran, meskipun belum jelas apakah semua proposal akan diterima Washington.

Medvedev mengingatkan bahwa pemerintah AS harus berhati-hati menjaga gencatan senjata yang masih rentan, karena langkah lanjutan berpotensi memperkeruh situasi.

Rusia Dorong Solusi Diplomatik

Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyoroti bahwa pendekatan agresif tanpa dasar yang jelas pada akhirnya tidak efektif.

BACA JUGA: 
Iran Sebut 600 Sekolah Hancur akibat Serangan AS–Israel, Tuding Kejahatan Perang

Ia menggambarkan situasi di Timur Tengah sebagai bukti bahwa strategi berbasis kekerasan dan eskalasi tidak berkelanjutan.

Menurut Zakharova, Rusia sejak awal menyerukan penghentian tindakan agresif, sekaligus menekankan pentingnya penyelesaian politik dan diplomatik melalui perundingan yang berlandaskan hukum internasional dan menghormati kepentingan semua pihak.

Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, yang dicapai kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump. Kedua negara dijadwalkan memulai perundingan di Pakistan pada Jumat (10/4).

SulawesiPos.com – Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan bahwa akal sehat menjadi faktor penentu di balik meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pandangannya, konflik yang ada saat ini sejatinya hanya tertunda, dengan masing-masing pihak mengklaim keberhasilan.

“Jadi siapa yang menang? Pertama dan yang terpenting adalah akal sehat, yang sangat dirusak oleh pernyataan Gedung Putih tentang menghancurkan peradaban Iran dalam satu hari,” kata Medvedev, dikutip dari JawaPos, Kamis (9/4/2026).

Ia menambahkan bahwa kesiapan AS untuk mempertimbangkan rencana 10 poin dianggap sebagai capaian bagi Iran, meskipun belum jelas apakah semua proposal akan diterima Washington.

Medvedev mengingatkan bahwa pemerintah AS harus berhati-hati menjaga gencatan senjata yang masih rentan, karena langkah lanjutan berpotensi memperkeruh situasi.

Rusia Dorong Solusi Diplomatik

Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyoroti bahwa pendekatan agresif tanpa dasar yang jelas pada akhirnya tidak efektif.

BACA JUGA: 
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Kecuali untuk Kapal Musuh

Ia menggambarkan situasi di Timur Tengah sebagai bukti bahwa strategi berbasis kekerasan dan eskalasi tidak berkelanjutan.

Menurut Zakharova, Rusia sejak awal menyerukan penghentian tindakan agresif, sekaligus menekankan pentingnya penyelesaian politik dan diplomatik melalui perundingan yang berlandaskan hukum internasional dan menghormati kepentingan semua pihak.

Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, yang dicapai kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump. Kedua negara dijadwalkan memulai perundingan di Pakistan pada Jumat (10/4).

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru