SulawesiPos.com – Pemerintah memproyeksikan inflasi akan mengalami kenaikan setelah momentum Idulfitri 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut potensi tersebut dipengaruhi oleh faktor perbandingan atau base effect yang rendah pada tahun sebelumnya.
“Nanti kita lihat, inflasi kan perhitungannya lebih cepat. Jadi kita lihat saja sampai akhir dari Lebaran. Tetapi, base-nya tahun kemarin rendah,” ujar Airlangga, dikutip dari JawaPos, Senin (23/3/2026).
Menurut Airlangga, rendahnya basis inflasi pada 2025 tidak lepas dari kebijakan tarif listrik yang sempat menekan harga.
Kondisi tersebut bahkan menyebabkan deflasi pada komponen listrik, sehingga ketika dibandingkan dengan tahun ini, angka inflasi berpotensi terlihat lebih tinggi.
“Jadi, tahun kemarin sampai Februari itu ada listrik. Itu yang membuat inflasi tahun kemarin dari segi listriknya deflasi. Karena sekarang tidak ada, berarti angkanya akan lebih tinggi,” jelasnya.
Di tengah potensi kenaikan inflasi, pemerintah melihat aktivitas ekonomi selama Ramadan menunjukkan tren positif.
Peningkatan konsumsi masyarakat dinilai menjadi indikator kuat bahwa target pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di jalur yang diharapkan.
“Kelihatannya target pertumbuhan ekonomi 5,5 persen bisa dicapai. Geliat selama Ramadan kemarin,” kata Airlangga.
Harga Pangan Diklaim Tetap Terkendali
Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan harga pangan selama Ramadan hingga Idulfitri tetap terkendali.
“Sesuai arahan Bapak Presiden sejak sebelum Ramadhan, harga pangan tidak boleh naik berlebihan. Ini yang kami jaga,” tegasnya.
Pemerintah juga menjalankan berbagai program intervensi untuk menjaga stabilitas harga, seperti Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Gerakan Pangan Murah (GPM), serta bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng.
Sepanjang Maret, pelaksanaan GPM tercatat telah dilakukan sebanyak 789 kali di 24 provinsi dan 153 kabupaten/kota.

