Penulis: Sukma
SulawesiPos.com – Bagi sebagian besar umat Muslim di Indonesia, bulan suci Ramadhan identik dengan suasana meriah, deretan penjual takjil di sore hari, serta masjid yang dipadati jamaah menjelang waktu berbuka. Jalanan dipenuhi aroma gorengan dan aneka hidangan manis, sementara keluarga dan sahabat berkumpul menanti azan Magrib bersama. Namun pengalaman yang berbeda terasa ketika Ramadhan dijalani di Changsha, ibu kota Provinsi Hunan, Tiongkok, di mana umat Muslim hidup sebagai bagian dari komunitas minoritas.
Berbeda dengan suasana di Indonesia
Ramadhan di kota Changsha berlangsung lebih tenang dan sederhana.Aktivitas kota berjalan normal seperti hari-hari biasa. Tidak tampak pasar takjil yang berjejer di setiap sudut jalan, dan tidak ada kemeriahan besar yang mencolok. Meski demikian, justru dalam kesederhanaan itulah terasa kekhusyukan dan ketenangan dalam menjalankan ibadah puasa.

“Berpuasa di tanah rantau mengajarkan kita arti sabar dan ikhlas yang sesungguhnya. Jauh dari keluarga dan suasana kampung halaman, kita belajar menerima perbedaan, menahan rindu, serta menemukan kekuatan dalam kebersamaan yang sederhana,” ujar Sukma .

Menurutnya, menjalani bulan suci Ramadhan di Changsha bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperdalam makna syukur dan memperkuat keteguhan iman di tengah lingkungan yang berbeda. “Di sini kita belajar bahwa kebahagiaan Ramadhan tidak selalu datang dari keramaian, tetapi dari hati yang tetap teguh dan saling menguatkan,” tambahnya.
Di area Masjid Changsha

Menariknya, di area Masjid Changsha para pedagang Muslim dari Xinjiang, Lanzhou, Gansu, serta penduduk lokal setempat menjajakan beragam makanan halal khas daerah asal mereka. Lapak-lapak sederhana mulai ramai menjelang waktu berbuka, menghadirkan suasana hangat yang menjadi pusat interaksi komunitas Muslim di kota tersebut. Aroma daging panggang dan roti hangat perlahan memenuhi udara, menarik para jamaah yang baru selesai beraktivitas seharian.
Hidangan seperti roti naan yang dipanggang dalam tungku tradisional, yoghurt fermentasi dengan rasa asam segar, roti isi daging berbumbu kuat, ayam panggang khas Asia Tengah, hingga sate domba dengan taburan rempah menjadi pilihan utama untuk berbuka puasa. Beberapa pedagang juga menawarkan mi tarik khas wilayah barat Tiongkok serta aneka olahan daging halal yang kaya cita rasa.

Ragam kuliner ini bukan sekadar santapan berbuka, melainkan juga cerminan jejak sejarah dan pertemuan budaya. Cita rasa Asia Tengah yang kental berpadu dengan sentuhan lokal Tiongkok menghadirkan pengalaman gastronomi yang berbeda dari suasana Ramadhan di Indonesia. Bagi mahasiswa dan perantau, makanan-makanan tersebut menghadirkan rasa kebersamaan sekaligus membuka wawasan baru tentang keragaman tradisi kuliner Muslim di berbagai belahan dunia.
Meskipun berstatus sebagai minoritas, umat Muslim di Changsha tetap dapat melaksanakan kegiatan keagamaan dengan tertib dan penuh khidmat. Salat lima waktu dan salat tarawih berjamaah dilaksanakan secara rutin di Masjid Changsha, yang menjadi pusat aktivitas spiritual sekaligus ruang berkumpul komunitas. Suasana masjid terasa hangat setiap malam Ramadhan, ketika jamaah dari berbagai latar belakang etnis dan negara bertemu dalam satu saf yang sama.
Tradisi buka puasa bersama juga menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi, terutama bagi mahasiswa dan pekerja Muslim yang tinggal jauh dari keluarga. Mereka saling berbagi makanan, cerita, dan dukungan moral selama menjalani ibadah di perantauan.

Keberlangsungan kegiatan ini menunjukkan bahwa kehidupan beragama di Changsha tetap berjalan dalam kerangka harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat. Umat Muslim dapat menjalankan ibadah dengan pengaturan yang tertib, berdampingan dengan komunitas lain dalam suasana saling menghormati.
Ramadhan di Changsha pada akhirnya menjadi cerminan bahwa makna ibadah tidak selalu diukur dari kemeriahan dan keramaian, melainkan dari keteguhan iman, rasa syukur, serta kebersamaan dalam kesederhanaan. Bagi mereka yang menjalani puasa jauh dari kampung halaman, pengalaman ini menghadirkan pelajaran tentang ketahanan spiritual dan arti persaudaraan yang melampaui batas budaya dan negara. Sebuah pengalaman Ramadhan yang berbeda, namun tetap sarat nilai dan keberkahan.
Penulis, Dosen pada Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, FIB-Unhas

