SulawesiPos.com – Keputusan Iran menutup Selat Hormuz langsung mengguncang pasar energi dunia. Langkah itu diambil sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sejumlah kapal yang berada di kawasan Teluk dilaporkan menerima peringatan radio dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) agar tidak melintasi jalur strategis tersebut.
Penutupan ini bukan sekadar manuver militer. Dampaknya berpotensi sistemik, mulai dari gangguan pasokan minyak global hingga tekanan ekonomi di negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
Kenapa Selat Hormuz Sangat Vital?
Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Di titik tersempitnya, lebar selat hanya sekitar 33 kilometer, dengan jalur pelayaran efektif masing-masing sekitar 3 kilometer per arah.
Artinya, lalu lintas kapal di kawasan ini padat dan sangat rentan terhadap gangguan.
Data lembaga energi internasional menunjukkan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari.
Sekitar 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar dikirim melalui jalur tersebut per hari.
Selain minyak, Qatar sebagai salah satu eksportir LNG terbesar dunia, juga sangat bergantung pada jalur ini untuk mengirimkan gas alam cair ke pasar global.
Sebagian besar pengiriman energi tersebut ditujukan ke Asia. Data mencatat, sekitar 82 persen pengiriman minyak mentah dan bahan bakar lain dikirim ke Asia melalui Selat Hormuz.
China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi konsumen utama, menyerap hampir 70 persen arus minyak yang melewati Selat Hormuz.
Jika jalur ini tersumbat dalam waktu lama, negara-negara tersebut akan menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.
Ironisnya, Iran sendiri juga menggunakan Selat Hormuz untuk mengekspor minyaknya.
Artinya, penutupan berkepanjangan berisiko merugikan secara ekonomi dan berpotensi memperumit hubungan dengan negara-negara lainnya.
Efek Domino ke Pasar Global
Pasar energi biasanya merespons cepat setiap eskalasi di kawasan Teluk.
Ketika risiko pasokan meningkat, harga minyak dunia cenderung melonjak akibat kekhawatiran kekurangan suplai.
Lonjakan harga tidak hanya memengaruhi sektor energi, tetapi juga memicu kenaikan biaya logistik, transportasi, hingga harga pangan di banyak negara.
Situasi ini berpotensi memperbesar inflasi global dan menekan pertumbuhan ekonomi, terutama di negara berkembang.
Dampak Langsung bagi Indonesia
Bagi Indonesia, konsekuensinya bisa terasa di beberapa lini.
1. Tekanan Harga dan Subsidi Energi
Sebagai negara yang masih mengimpor minyak mentah dan bahan bakar dalam jumlah besar, kenaikan harga minyak global akan langsung berdampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Jika harga energi melonjak tajam, beban subsidi berpotensi membengkak.
Pemerintah bisa menghadapi dilema antara mempertahankan subsidi dengan risiko tekanan fiskal atau melakukan penyesuaian harga yang berisiko memicu inflasi domestik.
Ketua Umum ASPEBINDO, Anggawira, menegaskan bahwa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan hampir sepertiga perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz.
“Setiap eskalasi di kawasan tersebut akan berdampak langsung terhadap lonjakan harga energi global, termasuk biaya impor BBM dan LNG Indonesia yang saat ini masih cukup tinggi,” kata Anggawira, dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026).
2. Risiko Pelemahan Rupiah
Kenaikan harga minyak biasanya dibarengi peningkatan ketidakpastian global.
Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman.
Arus modal keluar dapat menekan nilai tukar rupiah.
Jika rupiah melemah sementara harga energi naik, tekanan ganda bisa terjadi, yakni biaya impor meningkat dan inflasi berpotensi terdorong naik.
3. Ancaman Imported Inflation
Ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM yang telah melampaui 50 persen membuat perekonomian nasional rentan terhadap imported inflation, kenaikan harga dalam negeri akibat lonjakan harga internasional.
Dampaknya bisa merembet ke biaya produksi, tarif transportasi, hingga harga kebutuhan pokok.
Situasi yang Perlu Diwaspadai
Penutupan Selat Hormuz, jika berlangsung singkat, mungkin hanya memicu lonjakan harga sementara.
Namun jika berkepanjangan, efeknya bisa lebih luas seeprti gangguan rantai pasok energi, tekanan fiskal negara pengimpor, serta volatilitas pasar keuangan global.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi sumber energi dan percepatan transisi energi domestik.
Ketergantungan pada impor energi membuat perekonomian sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik di luar negeri.
Selat Hormuz mungkin ribuan kilometer dari Jakarta, tetapi dampaknya bisa terasa langsung di SPBU, nilai tukar rupiah, hingga stabilitas APBN.

