25 C
Makassar
2 March 2026, 3:39 AM WITA

Hendra Wardana: Konflik Timur Tengah Berisiko Tekan IHSG

SulawesiPos.com – Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengingatkan bahwa memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel bukan lagi sekadar isu politik, melainkan telah menjadi risiko ekonomi global.

“Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven,” ujar Hendra dikutip dari Antara, Minggu (1/3/2026).

Menurutnya, pasar negara berkembang seperti Indonesia rentan terdampak arus dana keluar (capital outflow) apabila ketegangan terus meningkat.

Hendra menilai risiko terbesar muncul jika eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz.

Jalur strategis tersebut merupakan salah satu titik vital distribusi minyak dunia.

Jika pasokan terganggu, harga minyak global berpotensi melonjak tajam.

Dampaknya dapat menjalar ke inflasi global, nilai tukar, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara.

Bagi Indonesia, lonjakan harga energi dapat memicu inflasi impor dan meningkatkan beban biaya produksi emiten.

“Jika harga minyak bertahan di level tinggi, margin perusahaan bisa tertekan,” jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, IHSG berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di level 8.133.

Apabila level itu jebol, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya.

Sementara resistance terdekat berada di 8.300.

Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026) pekan lalu, IHSG ditutup menguat tipis 0,23 poin ke posisi 8.235,49.

Sementara indeks LQ45 turun 0,42 persen ke level 834,36.

Frekuensi perdagangan tercatat 2,52 juta kali transaksi dengan nilai Rp38,24 triliun.

Sebanyak 341 saham naik, 315 saham turun, dan 163 stagnan.

Strategi Investor

Meski risiko meningkat, Hendra menilai tidak semua sektor akan terdampak negatif.

Sektor komoditas justru berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga energi.

Bagi investor agresif, momentum di sektor komoditas bisa dimanfaatkan dengan manajemen risiko ketat.

Sementara investor konservatif disarankan menerapkan strategi wait and see sambil memantau perkembangan konflik dan arus dana asing.

“Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko tetap terkendali,” ujarnya.

SulawesiPos.com – Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengingatkan bahwa memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel bukan lagi sekadar isu politik, melainkan telah menjadi risiko ekonomi global.

“Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven,” ujar Hendra dikutip dari Antara, Minggu (1/3/2026).

Menurutnya, pasar negara berkembang seperti Indonesia rentan terdampak arus dana keluar (capital outflow) apabila ketegangan terus meningkat.

Hendra menilai risiko terbesar muncul jika eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz.

Jalur strategis tersebut merupakan salah satu titik vital distribusi minyak dunia.

Jika pasokan terganggu, harga minyak global berpotensi melonjak tajam.

Dampaknya dapat menjalar ke inflasi global, nilai tukar, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara.

Bagi Indonesia, lonjakan harga energi dapat memicu inflasi impor dan meningkatkan beban biaya produksi emiten.

“Jika harga minyak bertahan di level tinggi, margin perusahaan bisa tertekan,” jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, IHSG berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di level 8.133.

Apabila level itu jebol, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya.

Sementara resistance terdekat berada di 8.300.

Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026) pekan lalu, IHSG ditutup menguat tipis 0,23 poin ke posisi 8.235,49.

Sementara indeks LQ45 turun 0,42 persen ke level 834,36.

Frekuensi perdagangan tercatat 2,52 juta kali transaksi dengan nilai Rp38,24 triliun.

Sebanyak 341 saham naik, 315 saham turun, dan 163 stagnan.

Strategi Investor

Meski risiko meningkat, Hendra menilai tidak semua sektor akan terdampak negatif.

Sektor komoditas justru berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga energi.

Bagi investor agresif, momentum di sektor komoditas bisa dimanfaatkan dengan manajemen risiko ketat.

Sementara investor konservatif disarankan menerapkan strategi wait and see sambil memantau perkembangan konflik dan arus dana asing.

“Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko tetap terkendali,” ujarnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/