171 Anak di Bulukumba Sulsel Tercatat Diserang Morbili

SulawesiPos.com – Lonjakan kasus penyakit yang mengarah pada Morbili terjadi di Kabupaten Bulukumba.

Dalam kurun waktu sekitar tiga bulan terakhir, tercatat 171 anak masuk dalam kategori suspek.

Data tersebut dihimpun sejak November 2025 hingga pertengahan Februari 2026.

Meski jumlahnya cukup signifikan, seluruh kasus hingga kini masih berstatus dugaan karena belum melalui pemeriksaan laboratorium.

Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba, dr. Amrullah, menjelaskan bahwa proses uji sampel belum dapat dilakukan.

Penyebabnya adalah ketersediaan reagen yang belum terpenuhi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui jalur provinsi.

“Belum ada sampel yang diperiksa karena Dinas Kesehatan Provinsi, belum ada Reagen dari Kemenkes, sehingga pasien suspek morbili statusnya pending,” jelanya Selasa (17/2/2026) dikutip dari JawaPos Group.

Tanpa reagen tersebut, pemeriksaan laboratorium tidak bisa dijalankan untuk memastikan apakah gejala yang dialami pasien benar merupakan campak (Morbili) atau penyakit lain dengan tanda klinis serupa.

Walaupun kepastian diagnosis masih menunggu, Dinas Kesehatan setempat tetap mengintensifkan langkah pengendalian.

BACA JUGA: 
Permandian Lotong-Lotong Bulukumba, Sensasi Berenang di Kolam Jernih Tengah Sawah

Edukasi kepada masyarakat terus digencarkan, terutama mengenai gejala awal Morbili dan pentingnya imunisasi campak pada anak.

“Sudah dilakukan upaya KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) terkait Morbili di Masyarakat, dan maksimalkan Vaksinasi Campak bagi anak,” tambahnya.

Selain itu, orang tua diminta lebih sigap memantau kondisi kesehatan anak, termasuk menjaga asupan gizi dan daya tahan tubuh.

Penyakit ini diketahui mudah menular, terutama pada anak yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap.

Penyakit Morbili

Morbili atau yang lebih dikenal sebagai campak (measles) merupakan penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan dan bersifat sangat infeksius.

Penularannya tergolong cepat karena virus dapat menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin, bahkan melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menyerang sistem pernapasan.

Secara klinis, Morbili biasanya diawali dengan demam tinggi, disertai batuk dan pilek. Mata penderita juga cenderung tampak merah serta berair.

BACA JUGA: 
Pantau Harga di Pasar Cekkeng Bulukumba, Satgas Ingatkan Pedagang Soal Sanksi Tegas Jika Melanggar

Beberapa hari kemudian, muncul ruam kemerahan yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh, menjadi tanda paling mudah dikenali dari penyakit ini.

Karena tingkat penularannya tinggi, Morbili membutuhkan pencegahan serius, terutama melalui imunisasi dan pembatasan kontak dengan penderita.

SulawesiPos.com – Lonjakan kasus penyakit yang mengarah pada Morbili terjadi di Kabupaten Bulukumba.

Dalam kurun waktu sekitar tiga bulan terakhir, tercatat 171 anak masuk dalam kategori suspek.

Data tersebut dihimpun sejak November 2025 hingga pertengahan Februari 2026.

Meski jumlahnya cukup signifikan, seluruh kasus hingga kini masih berstatus dugaan karena belum melalui pemeriksaan laboratorium.

Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba, dr. Amrullah, menjelaskan bahwa proses uji sampel belum dapat dilakukan.

Penyebabnya adalah ketersediaan reagen yang belum terpenuhi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui jalur provinsi.

“Belum ada sampel yang diperiksa karena Dinas Kesehatan Provinsi, belum ada Reagen dari Kemenkes, sehingga pasien suspek morbili statusnya pending,” jelanya Selasa (17/2/2026) dikutip dari JawaPos Group.

Tanpa reagen tersebut, pemeriksaan laboratorium tidak bisa dijalankan untuk memastikan apakah gejala yang dialami pasien benar merupakan campak (Morbili) atau penyakit lain dengan tanda klinis serupa.

Walaupun kepastian diagnosis masih menunggu, Dinas Kesehatan setempat tetap mengintensifkan langkah pengendalian.

BACA JUGA: 
5 Rekomendasi Pantai Terindah di Bulukumba, Surga Wisata Bahari Sulawesi Selatan

Edukasi kepada masyarakat terus digencarkan, terutama mengenai gejala awal Morbili dan pentingnya imunisasi campak pada anak.

“Sudah dilakukan upaya KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) terkait Morbili di Masyarakat, dan maksimalkan Vaksinasi Campak bagi anak,” tambahnya.

Selain itu, orang tua diminta lebih sigap memantau kondisi kesehatan anak, termasuk menjaga asupan gizi dan daya tahan tubuh.

Penyakit ini diketahui mudah menular, terutama pada anak yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap.

Penyakit Morbili

Morbili atau yang lebih dikenal sebagai campak (measles) merupakan penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan dan bersifat sangat infeksius.

Penularannya tergolong cepat karena virus dapat menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin, bahkan melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menyerang sistem pernapasan.

Secara klinis, Morbili biasanya diawali dengan demam tinggi, disertai batuk dan pilek. Mata penderita juga cenderung tampak merah serta berair.

BACA JUGA: 
500 Tenaga Kesehatan PPPK Paruh Waktu di Bulukumba Tak Terima Upah, Ini Penjelasan Pemkab

Beberapa hari kemudian, muncul ruam kemerahan yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh, menjadi tanda paling mudah dikenali dari penyakit ini.

Karena tingkat penularannya tinggi, Morbili membutuhkan pencegahan serius, terutama melalui imunisasi dan pembatasan kontak dengan penderita.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru