Mengenal Jalur Pendakian Gunung Monrolo Maros, Lokasi Lima Pendaki Tersambar Petir

SulawesiPos.com – Insiden lima pendaki yang tersambar petir di puncak Gunung Monrolo, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Minggu (24/5/2026), menjadi pengingat bahwa jalur pendakian di kawasan tersebut bukan hanya menantang, tetapi juga memiliki risiko tinggi jika cuaca berubah ekstrem.

Dalam kejadian itu, satu pendaki dilaporkan meninggal dunia setelah sambaran petir menghantam area terbuka di puncak gunung saat rombongan sedang mengambil dokumentasi.

Peristiwa tersebut kembali membuat Gunung Monrolo atau Bulu Monrolo menjadi sorotan para pecinta alam.

Gunung yang berada di wilayah Kecamatan Tompobulu, Maros, ini memang dikenal memiliki jalur pendakian cukup ekstrem dengan trek menanjak dan medan alami yang belum banyak tersentuh pengelolaan wisata resmi.

Berbeda dengan destinasi populer lain di Maros seperti kawasan karst Rammang-Rammang, Bulu Monrolo menawarkan pengalaman pendakian yang lebih liar dan menantang.

Jalurnya didominasi tanjakan curam, hutan lebat, serta minim fasilitas pendukung bagi pendaki.

Jalur Pendakian Bulu Monrolo

Bulu Monrolo berada di kawasan Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu. Dari pusat Kota Maros, perjalanan menuju titik awal pendakian memakan waktu sekitar 1,5 jam hingga 2 jam menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

BACA JUGA: 
Taman Purbakala Sumpang Bita, Jejak Kehidupan Prasejarah di Pangkep

Akses menuju desa melewati jalan pegunungan yang berkelok dengan pemandangan perbukitan hijau khas kawasan karst Maros.

Setibanya di desa, pendaki biasanya singgah di rumah warga yang selama ini menjadi titik awal atau basecamp sederhana sebelum memulai perjalanan menuju puncak.

Pendakian ke Bulu Monrolo lebih sering dilakukan dengan sistem tektok atau naik-turun dalam satu hari.

Meski ketinggiannya tidak terlalu ekstrem, karakter jalurnya cukup menguras tenaga karena hampir tidak memiliki trek datar.

Para pendaki juga perlu mempersiapkan perlengkapan secara matang. Jalur menuju puncak belum memiliki pos resmi, sumber air yang memadai, maupun warung di sepanjang perjalanan.

Oleh karena itu, membawa bekal makanan, air minum, jas hujan, hingga perlengkapan navigasi menjadi hal penting sebelum mendaki.

Apalagi penanda jalur di gunung ini masih sangat sederhana dan hanya mengandalkan tali rafia yang diikat di beberapa titik pepohonan.

Memasuki area tengah pendakian, medan mulai terasa lebih berat. Kemiringan jalur di beberapa titik cukup ekstrem sehingga pendaki sering memanfaatkan akar pohon atau batang kayu untuk menjaga keseimbangan saat menanjak.

BACA JUGA: 
Menjelajah Pulau Gusung Makassar: Surga Pasir Putih yang Hanya 15 Menit dari Kota

Tidak adanya papan petunjuk resmi membuat pendaki harus fokus memperhatikan arah jalur.

Salah mengambil percabangan bisa membawa pendaki menuju kawasan Air Terjun Salu yang berada di jalur berbeda.

Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Pendaki

Perjalanan menuju puncak umumnya memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam tergantung kondisi fisik dan cuaca.

Menjelang area atas gunung, vegetasi mulai terbuka dan pemandangan perbukitan Maros terlihat jelas dari kejauhan.

Di puncak Bulu Monrolo, pendaki dapat menikmati panorama pegunungan Tompobulu, hamparan lembah hijau, hingga kabut tipis yang menyelimuti perbukitan saat pagi maupun sore hari.

Namun di balik keindahan tersebut, kondisi cuaca di kawasan gunung dapat berubah sangat cepat.

Kabut tebal, hujan deras, hingga sambaran petir berpotensi terjadi terutama ketika pendaki berada di area terbuka di puncak.

Insiden yang menimpa lima pendaki beberapa waktu lalu menjadi pengingat penting bagi pecinta alam agar selalu memperhatikan prakiraan cuaca sebelum mendaki dan menghindari bertahan di puncak saat hujan maupun petir mulai muncul.

BACA JUGA: 
Rammang-Rammang, Negeri Karst Raksasa di Maros yang Menyimpan Keajaiban Alam Sulsel

Selain faktor cuaca, pendaki juga diimbau tidak memaksakan perjalanan apabila kondisi fisik mulai menurun.

Jalur curam dan minim fasilitas membuat pendakian di Bulu Monrolo membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta manajemen perjalanan yang baik.

Dengan panorama alam yang masih asri dan trek yang menantang, Gunung Monrolo tetap menjadi salah satu destinasi favorit pendaki lokal di Sulawesi Selatan.

Namun keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama sebelum menikmati keindahan alam di atas ketinggian.

SulawesiPos.com – Insiden lima pendaki yang tersambar petir di puncak Gunung Monrolo, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Minggu (24/5/2026), menjadi pengingat bahwa jalur pendakian di kawasan tersebut bukan hanya menantang, tetapi juga memiliki risiko tinggi jika cuaca berubah ekstrem.

Dalam kejadian itu, satu pendaki dilaporkan meninggal dunia setelah sambaran petir menghantam area terbuka di puncak gunung saat rombongan sedang mengambil dokumentasi.

Peristiwa tersebut kembali membuat Gunung Monrolo atau Bulu Monrolo menjadi sorotan para pecinta alam.

Gunung yang berada di wilayah Kecamatan Tompobulu, Maros, ini memang dikenal memiliki jalur pendakian cukup ekstrem dengan trek menanjak dan medan alami yang belum banyak tersentuh pengelolaan wisata resmi.

Berbeda dengan destinasi populer lain di Maros seperti kawasan karst Rammang-Rammang, Bulu Monrolo menawarkan pengalaman pendakian yang lebih liar dan menantang.

Jalurnya didominasi tanjakan curam, hutan lebat, serta minim fasilitas pendukung bagi pendaki.

Jalur Pendakian Bulu Monrolo

Bulu Monrolo berada di kawasan Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu. Dari pusat Kota Maros, perjalanan menuju titik awal pendakian memakan waktu sekitar 1,5 jam hingga 2 jam menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

BACA JUGA: 
Ke’te Kesu, Desa Toraja yang Menjadikan Tradisi sebagai Nafas Kehidupan

Akses menuju desa melewati jalan pegunungan yang berkelok dengan pemandangan perbukitan hijau khas kawasan karst Maros.

Setibanya di desa, pendaki biasanya singgah di rumah warga yang selama ini menjadi titik awal atau basecamp sederhana sebelum memulai perjalanan menuju puncak.

Pendakian ke Bulu Monrolo lebih sering dilakukan dengan sistem tektok atau naik-turun dalam satu hari.

Meski ketinggiannya tidak terlalu ekstrem, karakter jalurnya cukup menguras tenaga karena hampir tidak memiliki trek datar.

Para pendaki juga perlu mempersiapkan perlengkapan secara matang. Jalur menuju puncak belum memiliki pos resmi, sumber air yang memadai, maupun warung di sepanjang perjalanan.

Oleh karena itu, membawa bekal makanan, air minum, jas hujan, hingga perlengkapan navigasi menjadi hal penting sebelum mendaki.

Apalagi penanda jalur di gunung ini masih sangat sederhana dan hanya mengandalkan tali rafia yang diikat di beberapa titik pepohonan.

Memasuki area tengah pendakian, medan mulai terasa lebih berat. Kemiringan jalur di beberapa titik cukup ekstrem sehingga pendaki sering memanfaatkan akar pohon atau batang kayu untuk menjaga keseimbangan saat menanjak.

BACA JUGA: 
Wisata Religi ke Masjid Lompoe Maros: Napak Tilas Penyebaran Islam di Maros Abad Ke-19

Tidak adanya papan petunjuk resmi membuat pendaki harus fokus memperhatikan arah jalur.

Salah mengambil percabangan bisa membawa pendaki menuju kawasan Air Terjun Salu yang berada di jalur berbeda.

Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Pendaki

Perjalanan menuju puncak umumnya memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam tergantung kondisi fisik dan cuaca.

Menjelang area atas gunung, vegetasi mulai terbuka dan pemandangan perbukitan Maros terlihat jelas dari kejauhan.

Di puncak Bulu Monrolo, pendaki dapat menikmati panorama pegunungan Tompobulu, hamparan lembah hijau, hingga kabut tipis yang menyelimuti perbukitan saat pagi maupun sore hari.

Namun di balik keindahan tersebut, kondisi cuaca di kawasan gunung dapat berubah sangat cepat.

Kabut tebal, hujan deras, hingga sambaran petir berpotensi terjadi terutama ketika pendaki berada di area terbuka di puncak.

Insiden yang menimpa lima pendaki beberapa waktu lalu menjadi pengingat penting bagi pecinta alam agar selalu memperhatikan prakiraan cuaca sebelum mendaki dan menghindari bertahan di puncak saat hujan maupun petir mulai muncul.

BACA JUGA: 
Air Terjun Kali Jodoh: Wisata Alam Pinrang yang Dipercaya Bisa Mendatangkan Jodoh

Selain faktor cuaca, pendaki juga diimbau tidak memaksakan perjalanan apabila kondisi fisik mulai menurun.

Jalur curam dan minim fasilitas membuat pendakian di Bulu Monrolo membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta manajemen perjalanan yang baik.

Dengan panorama alam yang masih asri dan trek yang menantang, Gunung Monrolo tetap menjadi salah satu destinasi favorit pendaki lokal di Sulawesi Selatan.

Namun keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama sebelum menikmati keindahan alam di atas ketinggian.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru