29 C
Makassar
2 March 2026, 19:15 PM WITA

Masjid Tua Gantarang Lalang Bata, Jejak Awal Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan

SulawesiPos.com – Masjid Tua Gantarang Lalang Bata menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang memiliki nilai penting dalam perjalanan panjang penyebaran Islam di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Masjid ini kerap disebut sebagai salah satu masjid tertua di provinsi tersebut dan hingga kini tetap berdiri sebagai saksi bisu masuknya ajaran Islam di kawasan timur Indonesia.

Keberadaan masjid ini tidak hanya mencerminkan perkembangan agama Islam, tetapi juga menggambarkan dinamika sosial, budaya, dan politik masyarakat pada masa lampau, khususnya di wilayah Kepulauan Selayar.

Akar Sejarah dari Abad ke-16

Masjid Tua Gantarang Lalang Bata diyakini dibangun pada abad ke-16 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Pangali Patta Raja.

Ia dikenal sebagai raja pertama yang memeluk agama Islam di wilayah tersebut. Pendirian masjid ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam di Sulawesi Selatan.

Dalam catatan sejarah lokal, nama Datu Ribandang muncul sebagai tokoh sentral penyebaran Islam.

Dari wilayah Selayar inilah dakwah Islam mulai berkembang dan kemudian menyebar ke daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan.

Masjid Gantarang menjadi bagian tak terpisahkan dari proses awal tersebut.

Saksi Bisu Penyebaran Islam di Sulsel

Nilai penting Masjid Tua Gantarang Lalang Bata tidak hanya terletak pada usia dan arsitekturnya, tetapi juga pada perannya sebagai saksi sejarah.

Kepulauan Selayar diyakini sebagai salah satu wilayah pertama yang menerima ajaran Islam di semenanjung Sulawesi Selatan, bahkan lebih awal dibandingkan beberapa daerah daratan.

Dari masjid inilah perjalanan dakwah Islam dimulai, menandai perubahan besar dalam sistem kepercayaan masyarakat setempat.

Keberadaan masjid ini menjadi bukti konkret bagaimana Islam tumbuh dan berakar kuat di wilayah tersebut.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Tua Gantarang Lalang Bata juga menjadi pusat kajian sejarah.

Para peneliti, mahasiswa, hingga pelajar kerap datang untuk mempelajari peninggalan-peninggalan bersejarah yang tersimpan di dalam masjid.

Beberapa benda bersejarah masih terawat hingga kini, seperti tongkat yang menyerupai pedang pusaka serta mimbar kuno yang dilengkapi bendera kain putih bertuliskan aksara Arab.

Peninggalan ini menjadi penanda jejak perjalanan dakwah Datu Ribandang dan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.

Destinasi Wisata Sejarah di Kampung Gantarang

Kampung Gantarang, lokasi berdirinya masjid ini, kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Kepulauan Selayar.

Letaknya sekitar 25 kilometer dari Kota Benteng dan dapat dijangkau menggunakan kendaraan pribadi.

Bagi pecinta sejarah dan budaya, Masjid Tua Gantarang Lalang Bata menawarkan pengalaman yang berbeda.

Selain menikmati keindahan arsitektur dan suasana yang tenang, pengunjung juga diajak menyelami kisah panjang penyebaran Islam yang sarat makna dan nilai spiritual.

Masjid Tua Gantarang Lalang Bata bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol perjalanan besar peradaban Islam di Sulawesi Selatan.

Keberadaannya mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan sejarah sebagai sumber pembelajaran dan inspirasi.

Pelestarian masjid ini menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap dapat mengenal, memahami, dan menghargai jejak perjuangan para pendahulu dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Sulawesi Selatan.

SulawesiPos.com – Masjid Tua Gantarang Lalang Bata menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang memiliki nilai penting dalam perjalanan panjang penyebaran Islam di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Masjid ini kerap disebut sebagai salah satu masjid tertua di provinsi tersebut dan hingga kini tetap berdiri sebagai saksi bisu masuknya ajaran Islam di kawasan timur Indonesia.

Keberadaan masjid ini tidak hanya mencerminkan perkembangan agama Islam, tetapi juga menggambarkan dinamika sosial, budaya, dan politik masyarakat pada masa lampau, khususnya di wilayah Kepulauan Selayar.

Akar Sejarah dari Abad ke-16

Masjid Tua Gantarang Lalang Bata diyakini dibangun pada abad ke-16 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Pangali Patta Raja.

Ia dikenal sebagai raja pertama yang memeluk agama Islam di wilayah tersebut. Pendirian masjid ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam di Sulawesi Selatan.

Dalam catatan sejarah lokal, nama Datu Ribandang muncul sebagai tokoh sentral penyebaran Islam.

Dari wilayah Selayar inilah dakwah Islam mulai berkembang dan kemudian menyebar ke daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan.

Masjid Gantarang menjadi bagian tak terpisahkan dari proses awal tersebut.

Saksi Bisu Penyebaran Islam di Sulsel

Nilai penting Masjid Tua Gantarang Lalang Bata tidak hanya terletak pada usia dan arsitekturnya, tetapi juga pada perannya sebagai saksi sejarah.

Kepulauan Selayar diyakini sebagai salah satu wilayah pertama yang menerima ajaran Islam di semenanjung Sulawesi Selatan, bahkan lebih awal dibandingkan beberapa daerah daratan.

Dari masjid inilah perjalanan dakwah Islam dimulai, menandai perubahan besar dalam sistem kepercayaan masyarakat setempat.

Keberadaan masjid ini menjadi bukti konkret bagaimana Islam tumbuh dan berakar kuat di wilayah tersebut.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Tua Gantarang Lalang Bata juga menjadi pusat kajian sejarah.

Para peneliti, mahasiswa, hingga pelajar kerap datang untuk mempelajari peninggalan-peninggalan bersejarah yang tersimpan di dalam masjid.

Beberapa benda bersejarah masih terawat hingga kini, seperti tongkat yang menyerupai pedang pusaka serta mimbar kuno yang dilengkapi bendera kain putih bertuliskan aksara Arab.

Peninggalan ini menjadi penanda jejak perjalanan dakwah Datu Ribandang dan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.

Destinasi Wisata Sejarah di Kampung Gantarang

Kampung Gantarang, lokasi berdirinya masjid ini, kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Kepulauan Selayar.

Letaknya sekitar 25 kilometer dari Kota Benteng dan dapat dijangkau menggunakan kendaraan pribadi.

Bagi pecinta sejarah dan budaya, Masjid Tua Gantarang Lalang Bata menawarkan pengalaman yang berbeda.

Selain menikmati keindahan arsitektur dan suasana yang tenang, pengunjung juga diajak menyelami kisah panjang penyebaran Islam yang sarat makna dan nilai spiritual.

Masjid Tua Gantarang Lalang Bata bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol perjalanan besar peradaban Islam di Sulawesi Selatan.

Keberadaannya mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan sejarah sebagai sumber pembelajaran dan inspirasi.

Pelestarian masjid ini menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap dapat mengenal, memahami, dan menghargai jejak perjuangan para pendahulu dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Sulawesi Selatan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/