Gowa Diselimuti Kabut Asap, BBMKG Wilayah 4 Deteksi PM2,5 Kategori Tidak Sehat

SulawesiPos.com – Kabut asap yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (12/10/2026).

Di tengah kondisi tersebut, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV merilis informasi konsentrasi PM2,5 yang masuk kategori tidak sehat.

Kondisi berkabut di Gowa ramai dibicarakan di media sosial setelah sejumlah warga membagikan video yang memperlihatkan wilayah tersebut diselimuti kabut. Warganet menyebut kondisi serupa telah terjadi selama beberapa hari terakhir.

“Dari hari Selasa ji penampakannya, paling parah kemarin,” tulis akun Ojang Krik.

Akun Kumala Sari Idha juga menyebut kondisi tersebut telah berlangsung hampir sepekan. Ia mengingatkan masyarakat agar menjaga kesehatan.

“Hampir satu pekanmi begini, jaga kesehatanki semuanya,” ujarnya.

PM2,5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, yakni 2,5 mikrometer atau lebih kecil, yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan berdampak pada kesehatan.

Paparan partikel ini dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta berisiko memperburuk penyakit pernapasan.

BACA JUGA:  5 Wisata Makassar Terdekat dari Bandara, Cocok untuk Liburan Singkat

Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan perlu lebih mewaspadai paparan PM2,5 karena berisiko mengalami dampak kesehatan yang lebih serius.

BBMKG Wilayah 4 merilis informasi kualitas udara, Senin (12/10/2026)
BBMKG Wilayah 4 merilis informasi kualitas udara, Senin (12/10/2026)

BMKG juga memprediksi kualitas udara di Sulawesi Selatan bertahan pada kategori sedang hingga tidak sehat sampai 13 Oktober 2026.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Amhar Ulfiana, mengatakan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian, terutama pada pagi hingga siang hari.

“Untuk tiga hari ke depan diprediksi hingga tanggal 13 Oktober kualitas udara diprediksi sedang hingga tidak sehat di wilayah Sulsel,” kata Amhar kepada wartawan, Sabtu (10/10/2026).

Musim kemarau yang masih berlangsung di wilayah Sulawesi Selatan turut menjadi kondisi yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi penurunan kualitas udara.

Kabut di Maros Pengaruhi Jarak Pandang Bandara

Di Kabupaten Maros, Bupati Chaidir Syam membagikan masker kepada perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) saat apel rutin untuk digunakan oleh aparatur sipil negara (ASN).

Ia meminta masyarakat mewaspadai kabut yang diduga berkaitan dengan karhutla serta membatasi aktivitas di luar ruangan jika tidak memiliki keperluan mendesak.

BACA JUGA:  Udara Makassar Memburuk, BMKG Sebut Asap Karhutla Dibawa Angin

Selain itu, kabut juga berdampak pada jarak pandang di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, yang dilaporkan mencapai 5 kilometer dengan kondisi cuaca berkabut atau haze.

Senior Forecaster BMKG Sultan Hasanuddin, Dofiali Dwi, mengatakan angin umumnya bertiup dari barat dengan kecepatan hingga 15 kilometer per jam.

“Untuk visibility 5 km dengan kondisi cuaca haze,” kata Dofiali, Minggu (11/10/2026).

Masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan mengurangi kegiatan yang tidak mendesak selama kondisi udara kurang baik.

SulawesiPos.com – Kabut asap yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (12/10/2026).

Di tengah kondisi tersebut, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV merilis informasi konsentrasi PM2,5 yang masuk kategori tidak sehat.

Kondisi berkabut di Gowa ramai dibicarakan di media sosial setelah sejumlah warga membagikan video yang memperlihatkan wilayah tersebut diselimuti kabut. Warganet menyebut kondisi serupa telah terjadi selama beberapa hari terakhir.

“Dari hari Selasa ji penampakannya, paling parah kemarin,” tulis akun Ojang Krik.

Akun Kumala Sari Idha juga menyebut kondisi tersebut telah berlangsung hampir sepekan. Ia mengingatkan masyarakat agar menjaga kesehatan.

“Hampir satu pekanmi begini, jaga kesehatanki semuanya,” ujarnya.

PM2,5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, yakni 2,5 mikrometer atau lebih kecil, yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan berdampak pada kesehatan.

Paparan partikel ini dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta berisiko memperburuk penyakit pernapasan.

BACA JUGA:  Udara Makassar Memburuk, BMKG Sebut Asap Karhutla Dibawa Angin

Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan perlu lebih mewaspadai paparan PM2,5 karena berisiko mengalami dampak kesehatan yang lebih serius.

BBMKG Wilayah 4 merilis informasi kualitas udara, Senin (12/10/2026)
BBMKG Wilayah 4 merilis informasi kualitas udara, Senin (12/10/2026)

BMKG juga memprediksi kualitas udara di Sulawesi Selatan bertahan pada kategori sedang hingga tidak sehat sampai 13 Oktober 2026.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Amhar Ulfiana, mengatakan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian, terutama pada pagi hingga siang hari.

“Untuk tiga hari ke depan diprediksi hingga tanggal 13 Oktober kualitas udara diprediksi sedang hingga tidak sehat di wilayah Sulsel,” kata Amhar kepada wartawan, Sabtu (10/10/2026).

Musim kemarau yang masih berlangsung di wilayah Sulawesi Selatan turut menjadi kondisi yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi penurunan kualitas udara.

Kabut di Maros Pengaruhi Jarak Pandang Bandara

Di Kabupaten Maros, Bupati Chaidir Syam membagikan masker kepada perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) saat apel rutin untuk digunakan oleh aparatur sipil negara (ASN).

Ia meminta masyarakat mewaspadai kabut yang diduga berkaitan dengan karhutla serta membatasi aktivitas di luar ruangan jika tidak memiliki keperluan mendesak.

BACA JUGA:  Kloter 43 Jadi Penutup, Pemberangkatan Jemaah Haji Embarkasi Makassar Resmi Tuntas

Selain itu, kabut juga berdampak pada jarak pandang di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, yang dilaporkan mencapai 5 kilometer dengan kondisi cuaca berkabut atau haze.

Senior Forecaster BMKG Sultan Hasanuddin, Dofiali Dwi, mengatakan angin umumnya bertiup dari barat dengan kecepatan hingga 15 kilometer per jam.

“Untuk visibility 5 km dengan kondisi cuaca haze,” kata Dofiali, Minggu (11/10/2026).

Masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan mengurangi kegiatan yang tidak mendesak selama kondisi udara kurang baik.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru