NTP Nasional Tembus 131,11 pada September, Sulsel Naik 2,79 Persen

SulawesiPos.com – Nilai Tukar Petani (NTP) nasional mencapai 131,11 pada September 2026, naik 1,49 persen dibandingkan Agustus.

Di Sulawesi Selatan, NTP juga menguat hingga 125,94 atau tumbuh 2,79 persen dalam periode yang sama.

Kenaikan NTP nasional terjadi ketika indeks harga yang diterima petani tumbuh 1,93 persen, lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani yang hanya naik 0,44 persen.

Komoditas yang turut mendorong peningkatan indeks harga yang diterima petani antara lain gabah, karet, cabai rawit, dan kelapa sawit.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut capaian September membawa NTP nasional ke level tertinggi.

“Nilai Tukar Petani atau biasa kita sebut dengan NTP pada kondisi September tahun 2026 tercatat sebesar 131,11,” kata Ateng dalam rilis Berita Resmi Statistik, Kamis (1/10/2026).

Kenaikan NTP juga terjadi pada sejumlah subsektor pertanian. Hortikultura mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 4,04 persen.

Kenaikan tersebut ditopang indeks harga yang diterima petani hortikultura yang tumbuh 4,34 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar hanya meningkat 0,30 persen.

BACA JUGA:  Mentan Amran Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu, SIngkong, dan Jagung untuk Bioetanol

“Untuk subsektor yang mengalami kenaikan NTP tertinggi yaitu hortikultura,” ujar Ateng.

Cabai rawit, cabai merah, dan tomat menjadi komoditas yang dominan memengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani hortikultura.

Sementara itu, NTP subsektor tanaman pangan berada di angka 119,24, hortikultura 129,50, tanaman perkebunan rakyat 171,67, dan peternakan 102,91 pada September.

NTP Sulsel September Menguat 2,79 Persen

Di Sulawesi Selatan, NTP meningkat dari 122,52 pada Agustus menjadi 125,94 pada September 2026.

Kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan NTP nasional yang berada di level 1,49 persen.

Penguatan NTP Sulsel didorong kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 3,26 persen. Sementara indeks harga yang dibayar petani hanya meningkat 0,45 persen.

Dengan demikian, pertumbuhan harga yang diterima petani Sulsel pada September berada jauh di atas kenaikan harga yang harus dibayar untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi rumah tangga petani.

Secara kumulatif, NTP nasional sepanjang Januari-September 2026 tercatat 127,03 atau meningkat 3,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

BACA JUGA:  Mentan Amran ke Mahasiswa Baru Unismuh: Mau Sukses Harus Punya Karakter

Subsektor hortikultura menjadi penyumbang kenaikan kumulatif terbesar dengan pertumbuhan 6,60 persen.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan peningkatan produksi pangan perlu berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani.

“Namun yang lebih penting, swasembada itu harus menghadirkan kesejahteraan bagi petani,” tegas Mentan Amran.

Menurutnya, peningkatan produksi dapat dilihat dari jumlah pangan yang dihasilkan, sekaligus juga dari keuntungan yang diterima petani.

SulawesiPos.com – Nilai Tukar Petani (NTP) nasional mencapai 131,11 pada September 2026, naik 1,49 persen dibandingkan Agustus.

Di Sulawesi Selatan, NTP juga menguat hingga 125,94 atau tumbuh 2,79 persen dalam periode yang sama.

Kenaikan NTP nasional terjadi ketika indeks harga yang diterima petani tumbuh 1,93 persen, lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani yang hanya naik 0,44 persen.

Komoditas yang turut mendorong peningkatan indeks harga yang diterima petani antara lain gabah, karet, cabai rawit, dan kelapa sawit.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut capaian September membawa NTP nasional ke level tertinggi.

“Nilai Tukar Petani atau biasa kita sebut dengan NTP pada kondisi September tahun 2026 tercatat sebesar 131,11,” kata Ateng dalam rilis Berita Resmi Statistik, Kamis (1/10/2026).

Kenaikan NTP juga terjadi pada sejumlah subsektor pertanian. Hortikultura mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 4,04 persen.

Kenaikan tersebut ditopang indeks harga yang diterima petani hortikultura yang tumbuh 4,34 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar hanya meningkat 0,30 persen.

BACA JUGA:  Mentan Amran Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu, SIngkong, dan Jagung untuk Bioetanol

“Untuk subsektor yang mengalami kenaikan NTP tertinggi yaitu hortikultura,” ujar Ateng.

Cabai rawit, cabai merah, dan tomat menjadi komoditas yang dominan memengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani hortikultura.

Sementara itu, NTP subsektor tanaman pangan berada di angka 119,24, hortikultura 129,50, tanaman perkebunan rakyat 171,67, dan peternakan 102,91 pada September.

NTP Sulsel September Menguat 2,79 Persen

Di Sulawesi Selatan, NTP meningkat dari 122,52 pada Agustus menjadi 125,94 pada September 2026.

Kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan NTP nasional yang berada di level 1,49 persen.

Penguatan NTP Sulsel didorong kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 3,26 persen. Sementara indeks harga yang dibayar petani hanya meningkat 0,45 persen.

Dengan demikian, pertumbuhan harga yang diterima petani Sulsel pada September berada jauh di atas kenaikan harga yang harus dibayar untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi rumah tangga petani.

Secara kumulatif, NTP nasional sepanjang Januari-September 2026 tercatat 127,03 atau meningkat 3,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

BACA JUGA:  Dari Pupuk Murah hingga HPP Gabah, Jalan Menuju Swasembada Dimulai dari Petani

Subsektor hortikultura menjadi penyumbang kenaikan kumulatif terbesar dengan pertumbuhan 6,60 persen.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan peningkatan produksi pangan perlu berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani.

“Namun yang lebih penting, swasembada itu harus menghadirkan kesejahteraan bagi petani,” tegas Mentan Amran.

Menurutnya, peningkatan produksi dapat dilihat dari jumlah pangan yang dihasilkan, sekaligus juga dari keuntungan yang diterima petani.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru