Tenaga Ahli Bupati Bantaeng Raysen Wijaya Klarifikasi Gestur Jari Tengah Saat Upacara HUT RI

SulawesiPos.com – Polemik video gestur jari tengah yang dilakukan seorang Tenaga Ahli Bupati Bantaeng saat rangkaian upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI akhirnya mendapat klarifikasi dari sosok yang bersangkutan.

Pria tersebut diketahui bernama Raysen Wijaya Kusuma.

Ia mengakui gestur yang terekam dalam video tersebut merupakan kekhilafan pribadi dan menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah Kabupaten Bantaeng serta masyarakat.

Peristiwa itu terjadi saat rangkaian upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Tribun Pantai Seruni, Bantaeng, pada 17 Agustus 2026.

Video yang memperlihatkan gestur tersebut kemudian beredar di media sosial dan memicu sorotan publik.

Raysen Sebut Gestur Terjadi Spontan

Dalam klarifikasinya, Raysen menjelaskan gestur tersebut terjadi secara spontan ketika dirinya tersorot kamera vlog milik Zaenal.

Ia menyebut tindakan tersebut merupakan respons refleks dalam interaksi pribadi dan tidak dimaksudkan untuk merendahkan simbol negara ataupun mengganggu jalannya upacara.

Meski demikian, Raysen mengakui gestur tersebut merupakan tindakan yang keliru dan tidak semestinya dilakukan, terlebih dalam suasana kegiatan kenegaraan.

BACA JUGA:  35+ Puisi Kemerdekaan Indonesia Terbaik yang Menyentuh Hati untuk HUT ke-81 RI

Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada pemerintah dan masyarakat Bantaeng.

“Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat atas tindakan yang tidak seharusnya saya lakukan pada saat itu,” kata Raysen.

Klarifikasi Disampaikan Setelah Video Viral

Sebelum polemik berkembang lebih jauh, Raysen disebut telah mengundang sejumlah awak media, LSM, dan aktivis untuk memberikan penjelasan mengenai kejadian tersebut sekaligus menyampaikan permohonan maaf.

Ia menyatakan kejadian itu menjadi pembelajaran besar bagi dirinya agar lebih berhati-hati dalam bersikap, terutama ketika berada dalam kegiatan resmi pemerintahan dan kenegaraan.

Sementara itu, Zaenal yang disebut sebagai pemilik kamera atau pembuat video juga menyampaikan permintaan maaf.

Ia mengakui terdapat kekeliruan dalam proses penyuntingan maupun pemilihan rekaman yang kemudian beredar dan memicu polemik.

DPRD Bantaeng Tetap Soroti

Meski Raysen telah meminta maaf, persoalan tersebut belum sepenuhnya berhenti.

Anggota DPRD Bantaeng dari Fraksi NasDem, Hasriani Tenri, menilai permintaan maaf tidak otomatis menutup persoalan.

BACA JUGA:  Peringatan HUT RI 2026 ke Berapa? Cek Sejarah, Jadwal, Tema dan Logonya di Sini!

Ia mendorong agar kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurutnya, sikap dalam kegiatan kenegaraan perlu menjadi perhatian karena upacara kemerdekaan berkaitan dengan penghormatan terhadap negara dan simbol-simbol kenegaraan.

Hasriani juga menyebut belum ada surat resmi terkait tindak lanjut persoalan tersebut saat dirinya memberikan keterangan.

Polemik ini kini memasuki babak baru setelah klarifikasi disampaikan.

Di satu sisi, Raysen telah mengakui kekhilafan dan meminta maaf.

Di sisi lain, sorotan publik dan dorongan DPRD agar persoalan tersebut menjadi bahan evaluasi masih berlanjut.

Yang jelas, peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk menjaga sikap selama mengikuti kegiatan resmi, terlebih momentum peringatan kemerdekaan yang sarat dengan penghormatan terhadap Merah Putih dan simbol negara.

SulawesiPos.com – Polemik video gestur jari tengah yang dilakukan seorang Tenaga Ahli Bupati Bantaeng saat rangkaian upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI akhirnya mendapat klarifikasi dari sosok yang bersangkutan.

Pria tersebut diketahui bernama Raysen Wijaya Kusuma.

Ia mengakui gestur yang terekam dalam video tersebut merupakan kekhilafan pribadi dan menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah Kabupaten Bantaeng serta masyarakat.

Peristiwa itu terjadi saat rangkaian upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Tribun Pantai Seruni, Bantaeng, pada 17 Agustus 2026.

Video yang memperlihatkan gestur tersebut kemudian beredar di media sosial dan memicu sorotan publik.

Raysen Sebut Gestur Terjadi Spontan

Dalam klarifikasinya, Raysen menjelaskan gestur tersebut terjadi secara spontan ketika dirinya tersorot kamera vlog milik Zaenal.

Ia menyebut tindakan tersebut merupakan respons refleks dalam interaksi pribadi dan tidak dimaksudkan untuk merendahkan simbol negara ataupun mengganggu jalannya upacara.

Meski demikian, Raysen mengakui gestur tersebut merupakan tindakan yang keliru dan tidak semestinya dilakukan, terlebih dalam suasana kegiatan kenegaraan.

BACA JUGA:  Isu “Uang Tebusan” Mencuat, Polisi di Bantaeng Bantah Empat Terduga Dilepas dalam Kasus Sabu

Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada pemerintah dan masyarakat Bantaeng.

“Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat atas tindakan yang tidak seharusnya saya lakukan pada saat itu,” kata Raysen.

Klarifikasi Disampaikan Setelah Video Viral

Sebelum polemik berkembang lebih jauh, Raysen disebut telah mengundang sejumlah awak media, LSM, dan aktivis untuk memberikan penjelasan mengenai kejadian tersebut sekaligus menyampaikan permohonan maaf.

Ia menyatakan kejadian itu menjadi pembelajaran besar bagi dirinya agar lebih berhati-hati dalam bersikap, terutama ketika berada dalam kegiatan resmi pemerintahan dan kenegaraan.

Sementara itu, Zaenal yang disebut sebagai pemilik kamera atau pembuat video juga menyampaikan permintaan maaf.

Ia mengakui terdapat kekeliruan dalam proses penyuntingan maupun pemilihan rekaman yang kemudian beredar dan memicu polemik.

DPRD Bantaeng Tetap Soroti

Meski Raysen telah meminta maaf, persoalan tersebut belum sepenuhnya berhenti.

Anggota DPRD Bantaeng dari Fraksi NasDem, Hasriani Tenri, menilai permintaan maaf tidak otomatis menutup persoalan.

BACA JUGA:  35+ Puisi Kemerdekaan Indonesia Terbaik yang Menyentuh Hati untuk HUT ke-81 RI

Ia mendorong agar kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurutnya, sikap dalam kegiatan kenegaraan perlu menjadi perhatian karena upacara kemerdekaan berkaitan dengan penghormatan terhadap negara dan simbol-simbol kenegaraan.

Hasriani juga menyebut belum ada surat resmi terkait tindak lanjut persoalan tersebut saat dirinya memberikan keterangan.

Polemik ini kini memasuki babak baru setelah klarifikasi disampaikan.

Di satu sisi, Raysen telah mengakui kekhilafan dan meminta maaf.

Di sisi lain, sorotan publik dan dorongan DPRD agar persoalan tersebut menjadi bahan evaluasi masih berlanjut.

Yang jelas, peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk menjaga sikap selama mengikuti kegiatan resmi, terlebih momentum peringatan kemerdekaan yang sarat dengan penghormatan terhadap Merah Putih dan simbol negara.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru