Hamparan tanaman padi di Desa Bila Riase, Sidrap, dalam konteks program IP300.
SulawesiPos.com – Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) terus memperkuat sektor pertanian melalui penerapan program Indeks Pertanaman (IP) 300.
Upaya tersebut ditandai dengan panen perdana yang digelar di Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase, Senin (20/7/2026), sebagai bagian dari pengembangan pola tanam tiga kali dalam setahun untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani.
Panen perdana dipimpin langsung Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, didampingi Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sidrap Andi Asmarani, anggota DPRD Sidrap Andi Tenri Sangka dan Kasman, Camat Pitu Riase A. Mukti Ali, serta Kepala Desa Bila Riase Sirajuddin.
Kegiatan tersebut menjadi simbol dimulainya penerapan IP300 secara lebih luas di kawasan pertanian yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Sulawesi Selatan.
Program IP300 mendorong petani meningkatkan intensitas tanam dari satu hingga dua kali menjadi tiga kali dalam setahun.
Melalui pola tanam yang lebih intensif, lahan pertanian diharapkan mampu menghasilkan produksi yang lebih tinggi tanpa harus membuka lahan baru.
Menurut Bupati Syaharuddin Alrif, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan para petani yang mulai memanfaatkan teknologi modern dalam proses budidaya.
“Semua lahan harus produktif. Kita harus tanam tepat waktu, panen tepat waktu, lalu tanam kembali. Dengan semangat itu, saya yakin target produksi gabah Sidrap akan terus meningkat. Yang paling penting, petani kita harus merasakan manfaatnya dan hidup lebih sejahtera,” ujar Syaharuddin.
Ia menegaskan pembangunan pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui modernisasi sektor pertanian.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sidrap terus mendorong penggunaan alat dan mesin pertanian, penyediaan benih unggul, perbaikan jaringan irigasi, serta memastikan ketersediaan pupuk bagi petani.
Syaharuddin mengatakan penggunaan combine harvester secara serentak dalam panen kali ini menjadi bukti bahwa mekanisasi pertanian di Sidrap terus berkembang.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi akan membuat proses budidaya menjadi lebih efisien sekaligus menekan biaya produksi.
Ia juga mengajak petani untuk terus mengikuti perkembangan teknologi agar mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing hasil pertanian.
“Saya ingin petani Sidrap menjadi petani yang maju, mandiri, dan modern. Bertani hari ini tidak lagi hanya mengandalkan tenaga, tetapi juga ilmu pengetahuan, teknologi, dan alat mesin pertanian. Kalau petani kita maju, hasil panennya meningkat, pendapatannya bertambah, dan kesejahteraannya juga ikut naik,” katanya.
Penerapan program IP300 mulai menunjukkan hasil positif. Jika sebelumnya produktivitas padi di kawasan tersebut berada di kisaran 6 ton per hektare, kini hasil panen dilaporkan meningkat hingga mencapai sekitar 10 ton per hektare.
Peningkatan tersebut dinilai menjadi indikator keberhasilan penerapan pola tanam yang lebih intensif disertai penggunaan teknologi pertanian.
Selain meningkatkan produksi per hektare, tambahan musim tanam juga memberikan peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan lebih besar dalam satu tahun.
Dengan tiga kali masa panen, produksi gabah meningkat sehingga diharapkan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah pedesaan.
Pemerintah Kabupaten Sidrap optimistis program IP300 akan menjadi salah satu strategi penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung target peningkatan produksi beras nasional.
Keberhasilan panen perdana di Desa Bila Riase diharapkan menjadi contoh bagi wilayah lain untuk menerapkan pola tanam serupa dengan dukungan teknologi, mekanisasi, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Melalui program tersebut, Sidrap menargetkan tidak hanya meningkatkan hasil produksi padi, tetapi juga menciptakan sektor pertanian yang lebih modern, efisien, dan mampu memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi para petani.