Bisnis Walet di Bulukumba Tuai Protes, Warga: Bising dan Kotor

SulawesiPos.com – Keberadaan rumah burung walet di sejumlah titik di Bulukumba mulai menuai sorotan warga.

 Aktivitas usaha tersebut dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

Keluhan warga bukan tanpa alasan. Selain suara bising dari alat pemanggil burung walet yang kerap terdengar sepanjang hari, warga juga mengeluhkan kotoran burung yang berserakan dan berpotensi menimbulkan masalah kebersihan hingga kesehatan.

Salah satu titik yang ramai diperbincangkan berada di kawasan Jalan Sam Ratulangi.

Di lokasi ini, warga menyebut kotoran burung walet berserakan di permukiman sekitar dan ditemukan hingga ke badan jalan, sehingga mengganggu aktivitas harian.

Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Bulukumba memastikan akan segera melakukan pengecekan langsung di lapangan.

Kepala Bidang Penataan DLHK Bulukumba, Nurdin, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan masyarakat.

“Kami akan tinjau langsung lokasi yang dikeluhkan masyarakat,” ujarnya Senin (20/4/2026) dikutip JawaPos Group.

Ia juga mengungkapkan bahwa selama ini proses perizinan usaha rumah burung walet, termasuk dokumen lingkungan, umumnya ditangani melalui pemerintah pusat.

Oleh karena itu, pihak DLHK di daerah belum pernah secara langsung menerbitkan dokumen lingkungan untuk operasional usaha tersebut.

Meski demikian, DLHK menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas rumah burung walet yang ada.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan usaha tetap berjalan sesuai aturan, tanpa mengabaikan kenyamanan dan kualitas lingkungan warga sekitar.

Rumah Burung Walet

Sebagai informasi tambahanm, rumah burung walet pada dasarnya merupakan habitat buatan yang dirancang untuk menarik dan membudidayakan burung walet.

Bangunan ini dibuat menyerupai gua alami, gelap, lembap, dan relatif aman, agar burung dapat bersarang dan berkembang biak.

Nilai ekonominya cukup tinggi karena sarang walet yang dihasilkan dari air liur burung memiliki harga jual mahal di pasaran.

Tak heran, usaha ini berkembang pesat di wilayah yang dekat dengan sumber pakan seperti persawahan dan aliran sungai, termasuk di Bulukumba.

SulawesiPos.com – Keberadaan rumah burung walet di sejumlah titik di Bulukumba mulai menuai sorotan warga.

 Aktivitas usaha tersebut dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

Keluhan warga bukan tanpa alasan. Selain suara bising dari alat pemanggil burung walet yang kerap terdengar sepanjang hari, warga juga mengeluhkan kotoran burung yang berserakan dan berpotensi menimbulkan masalah kebersihan hingga kesehatan.

Salah satu titik yang ramai diperbincangkan berada di kawasan Jalan Sam Ratulangi.

Di lokasi ini, warga menyebut kotoran burung walet berserakan di permukiman sekitar dan ditemukan hingga ke badan jalan, sehingga mengganggu aktivitas harian.

Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Bulukumba memastikan akan segera melakukan pengecekan langsung di lapangan.

Kepala Bidang Penataan DLHK Bulukumba, Nurdin, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan masyarakat.

“Kami akan tinjau langsung lokasi yang dikeluhkan masyarakat,” ujarnya Senin (20/4/2026) dikutip JawaPos Group.

Ia juga mengungkapkan bahwa selama ini proses perizinan usaha rumah burung walet, termasuk dokumen lingkungan, umumnya ditangani melalui pemerintah pusat.

Oleh karena itu, pihak DLHK di daerah belum pernah secara langsung menerbitkan dokumen lingkungan untuk operasional usaha tersebut.

Meski demikian, DLHK menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas rumah burung walet yang ada.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan usaha tetap berjalan sesuai aturan, tanpa mengabaikan kenyamanan dan kualitas lingkungan warga sekitar.

Rumah Burung Walet

Sebagai informasi tambahanm, rumah burung walet pada dasarnya merupakan habitat buatan yang dirancang untuk menarik dan membudidayakan burung walet.

Bangunan ini dibuat menyerupai gua alami, gelap, lembap, dan relatif aman, agar burung dapat bersarang dan berkembang biak.

Nilai ekonominya cukup tinggi karena sarang walet yang dihasilkan dari air liur burung memiliki harga jual mahal di pasaran.

Tak heran, usaha ini berkembang pesat di wilayah yang dekat dengan sumber pakan seperti persawahan dan aliran sungai, termasuk di Bulukumba.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru