Tenun Emas Sidrap Didorong Naik Kelas, Siap Tembus Pasar Lebih Luas

SulawesiPos.com – Tenun emas khas Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dinilai memiliki peluang besar untuk “naik kelas” dan bersaing di pasar yang lebih luas.

Potensi tersebut menjadi sorotan dalam kunjungan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, ke sentra pengrajin di Kecamatan Tellulimpoe.

Dalam kunjungan tersebut, Fatmawati menekankan pentingnya transformasi bagi pelaku UMKM agar mampu berkembang dan memiliki daya saing.

Didampingi Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah, Fatmawati menyaksikan langsung proses menenun tradisional yang masih dipertahankan oleh para pengrajin.

Salah satunya adalah Mannia Parenta (68), yang telah puluhan tahun menggeluti kerajinan tenun emas secara manual.

Di rumahnya yang sederhana, Mannia masih setia menggunakan alat tenun tradisional. Ia mengungkapkan, satu lembar kain bisa diselesaikan hingga dua bulan, tergantung tingkat kerumitan motif.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp4 juta hingga Rp5 juta per lembar.

Menariknya, motif yang dihasilkan kini tidak hanya mengandalkan pola lama, tetapi juga mulai beradaptasi dengan tren modern yang diperoleh dari media sosial.

BACA JUGA: 
Polda Sulsel Hentikan Penyidikan Kasus Putri Dakka, Status Tersangka Dicabut

“Lewat Facebook. Macam-macam (harganya), ada yang Rp4 juta sampai Rp5 juta, tregantung tingkat kerumitan,” jelas Mannia.

Hal ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM mulai berupaya mengikuti perkembangan pasar.

Meski demikian, Mannia mengaku masih membutuhkan dukungan, terutama dalam hal pemasaran, permodalan, dan penguatan kapasitas usaha berbasis digital.

Menanggapi hal tersebut, Fatmawati menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mendorong penguatan UMKM melalui berbagai program pembinaan.

Mulai dari pelatihan, akses pembiayaan, hingga pemanfaatan platform digital untuk pemasaran.

Menurutnya, langkah “naik kelas” bagi UMKM tidak hanya soal peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana membangun branding, kualitas produk, serta kemampuan menembus pasar nasional hingga global.

“Kita ingin UMKM lokal seperti tenun emas ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan mampu menembus pasar yang lebih luas, karena kualitas dan nilai budayanya sangat kuat,” kata Fatmawati dikutip Kamis (9/4/2026).

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga terus mengarahkan pengembangan produk unggulan daerah melalui hilirisasi, agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dan mampu bersaing di tengah pasar yang semakin kompetitif.

BACA JUGA: 
Terungkap Penyebab Putri Dakka Laporkan Wagub Sulsel Fatmawati Rusdi ke Mabes Polri

Kunjungan ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mendorong pelaku UMKM lokal untuk bertransformasi menjadi usaha yang lebih modern, adaptif, dan berdaya saing tinggi, tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitasnya.

SulawesiPos.com – Tenun emas khas Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dinilai memiliki peluang besar untuk “naik kelas” dan bersaing di pasar yang lebih luas.

Potensi tersebut menjadi sorotan dalam kunjungan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, ke sentra pengrajin di Kecamatan Tellulimpoe.

Dalam kunjungan tersebut, Fatmawati menekankan pentingnya transformasi bagi pelaku UMKM agar mampu berkembang dan memiliki daya saing.

Didampingi Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah, Fatmawati menyaksikan langsung proses menenun tradisional yang masih dipertahankan oleh para pengrajin.

Salah satunya adalah Mannia Parenta (68), yang telah puluhan tahun menggeluti kerajinan tenun emas secara manual.

Di rumahnya yang sederhana, Mannia masih setia menggunakan alat tenun tradisional. Ia mengungkapkan, satu lembar kain bisa diselesaikan hingga dua bulan, tergantung tingkat kerumitan motif.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp4 juta hingga Rp5 juta per lembar.

Menariknya, motif yang dihasilkan kini tidak hanya mengandalkan pola lama, tetapi juga mulai beradaptasi dengan tren modern yang diperoleh dari media sosial.

BACA JUGA: 
Gubernur Sulsel Terima Satyalancana Wira Karya dari Presiden, Apresiasi Kontribusi Sulsel di Sektor Pertanian

“Lewat Facebook. Macam-macam (harganya), ada yang Rp4 juta sampai Rp5 juta, tregantung tingkat kerumitan,” jelas Mannia.

Hal ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM mulai berupaya mengikuti perkembangan pasar.

Meski demikian, Mannia mengaku masih membutuhkan dukungan, terutama dalam hal pemasaran, permodalan, dan penguatan kapasitas usaha berbasis digital.

Menanggapi hal tersebut, Fatmawati menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mendorong penguatan UMKM melalui berbagai program pembinaan.

Mulai dari pelatihan, akses pembiayaan, hingga pemanfaatan platform digital untuk pemasaran.

Menurutnya, langkah “naik kelas” bagi UMKM tidak hanya soal peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana membangun branding, kualitas produk, serta kemampuan menembus pasar nasional hingga global.

“Kita ingin UMKM lokal seperti tenun emas ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan mampu menembus pasar yang lebih luas, karena kualitas dan nilai budayanya sangat kuat,” kata Fatmawati dikutip Kamis (9/4/2026).

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga terus mengarahkan pengembangan produk unggulan daerah melalui hilirisasi, agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dan mampu bersaing di tengah pasar yang semakin kompetitif.

BACA JUGA: 
IKN Diserbu Wisatawan saat Libur Lebaran 2026, UMKM Raup Lonjakan Omzet

Kunjungan ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mendorong pelaku UMKM lokal untuk bertransformasi menjadi usaha yang lebih modern, adaptif, dan berdaya saing tinggi, tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru