24 C
Makassar
3 February 2026, 3:18 AM WITA

Distribusi BBM dan Elpiji di Luwu Kembali Normal Setelah Aksi Blokade Jalan

Overview

  • Pasokan BBM dan elpiji di Kabupaten Luwu kembali lancar setelah blokade Jalan Trans Sulawesi dibuka.

  • Normalnya distribusi berdampak langsung pada stabilnya ketersediaan dan harga BBM yang sebelumnya sempat melonjak hingga Rp30 ribu per liter.

  • Penutupan jalan sebelumnya dilakukan sebagai bentuk tuntutan pemekaran wilayah oleh massa Aliansi Wija To Luwu dan berlangsung selama sekitar lima hari.

SulawesiPos.com – Pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mulai kembali lancar setelah akses Jalan Trans Sulawesi yang sempat diblokade akhirnya dibuka.

Distribusi logistik kini kembali menjangkau wilayah Luwu dan daerah sekitarnya.

Warga mengaku kondisi tersebut berdampak langsung pada ketersediaan dan harga BBM di tingkat pengecer. Sebelumnya, kelangkaan pasokan menyebabkan harga pertalite melonjak tajam.

“Sekarang sudah normal lagi, BBM dan elpiji sudah masuk. Kemarin harga pertalite sempat sampai Rp30 ribu per liter,” ujar Hariansyah, warga Luwu, saat dihubungi dari Makassar, Jumat.

“Alhamdulillah masyarakat sudah dapat BBM dan gas elpiji lagi dengan harga normal yang sebelumnya untuk BBM jenis pertalite mencapai Rp30 ribu per liter,” kata warga Luwu, Hariansyah, Jumat (30/1/2026) dikutip dari Antara.

Baca Juga: 
Elpiji 3 Kg Langka di Bone, Warga Berburu Tabung hingga Kabupaten Tetangga

Masuknya kembali pasokan BBM dan elpiji terjadi setelah kendaraan pengangkut logistik dapat melintasi jalur perbatasan Kota Palopo–Kabupaten Luwu serta akses menuju wilayah perbatasan Kabupaten Wajo yang sebelumnya tertutup.

Penutupan Jalan Trans Sulawesi tersebut dilakukan oleh massa yang tergabung dalam Aliansi Wija To Luwu.

Aksi itu merupakan bentuk tuntutan pemekaran wilayah, dengan dorongan pembentukan Provinsi Luwu Raya serta pemekaran Kabupaten Luwu Tengah.

Blokade dilakukan dengan penebangan pohon di badan jalan yang oleh massa aksi disebut sebagai “revolusi senso”.

Aksi tersebut berlangsung sejak Jumat (23/1/2026), dan berlangsung selama sekitar lima hari.

Overview

  • Pasokan BBM dan elpiji di Kabupaten Luwu kembali lancar setelah blokade Jalan Trans Sulawesi dibuka.

  • Normalnya distribusi berdampak langsung pada stabilnya ketersediaan dan harga BBM yang sebelumnya sempat melonjak hingga Rp30 ribu per liter.

  • Penutupan jalan sebelumnya dilakukan sebagai bentuk tuntutan pemekaran wilayah oleh massa Aliansi Wija To Luwu dan berlangsung selama sekitar lima hari.

SulawesiPos.com – Pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mulai kembali lancar setelah akses Jalan Trans Sulawesi yang sempat diblokade akhirnya dibuka.

Distribusi logistik kini kembali menjangkau wilayah Luwu dan daerah sekitarnya.

Warga mengaku kondisi tersebut berdampak langsung pada ketersediaan dan harga BBM di tingkat pengecer. Sebelumnya, kelangkaan pasokan menyebabkan harga pertalite melonjak tajam.

“Sekarang sudah normal lagi, BBM dan elpiji sudah masuk. Kemarin harga pertalite sempat sampai Rp30 ribu per liter,” ujar Hariansyah, warga Luwu, saat dihubungi dari Makassar, Jumat.

“Alhamdulillah masyarakat sudah dapat BBM dan gas elpiji lagi dengan harga normal yang sebelumnya untuk BBM jenis pertalite mencapai Rp30 ribu per liter,” kata warga Luwu, Hariansyah, Jumat (30/1/2026) dikutip dari Antara.

Baca Juga: 
Viral Video Pocong di Sinjai Sulsel Ternyata Prank, Polisi Amankan Dua Pemuda

Masuknya kembali pasokan BBM dan elpiji terjadi setelah kendaraan pengangkut logistik dapat melintasi jalur perbatasan Kota Palopo–Kabupaten Luwu serta akses menuju wilayah perbatasan Kabupaten Wajo yang sebelumnya tertutup.

Penutupan Jalan Trans Sulawesi tersebut dilakukan oleh massa yang tergabung dalam Aliansi Wija To Luwu.

Aksi itu merupakan bentuk tuntutan pemekaran wilayah, dengan dorongan pembentukan Provinsi Luwu Raya serta pemekaran Kabupaten Luwu Tengah.

Blokade dilakukan dengan penebangan pohon di badan jalan yang oleh massa aksi disebut sebagai “revolusi senso”.

Aksi tersebut berlangsung sejak Jumat (23/1/2026), dan berlangsung selama sekitar lima hari.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/