Overview:
SulawesiPos.com – Proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada hari ketiga dilakukan dengan memanfaatkan jalur ekstrem yang biasa digunakan masyarakat setempat.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengatakan jalur darat yang ditempuh saat ini merupakan akses lokal yang mengarah ke titik ditemukannya korban sehari sebelumnya.
“Jalur ini berdasarkan petunjuk masyarakat yang bisa mengakses lokasi ditemukannya korban kemarin. Saat ini sekitar delapan anggota masih stay di lokasi,” kata Andi Sultan.
Ia menjelaskan, sejumlah personel SAR tetap bertahan di sekitar lokasi korban untuk mengamankan posisi sambil menyiapkan tahapan evakuasi selanjutnya.
Menurut Andi Sultan, upaya evakuasi sebelumnya sempat direncanakan melalui jalur atas, namun terpaksa ditunda karena cuaca ekstrem yang melanda kawasan pegunungan Bulusaraung.
“Kemarin kami mencoba mengangkat korban melalui jalur atas, namun tidak memungkinkan karena cuaca. Sehingga kami mengambil opsi evakuasi melalui jalur yang biasa digunakan masyarakat,” ucap Andi Sultan.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan bahwa proses evakuasi pada Seni pagi mengombinasikan jalur darat dan udara.
Namun, evakuasi melalui udara sangat bergantung pada perkembangan cuaca di Gunung Bulusaraung.
“Opsi evakuasi besok adalah evakuasi dengan jalur udara Helikopter Caracal akan mencoba mendarat di puncak untuk melakukan evakuasi menggunakan metode hoist (ditarik dari helikopter). Apabila kondisi tidak memungkinkan jalur udara, maka evakuasi dilakukan melalui jalur darat oleh tim SAR gabungan,” ujar Syafii di Kantor Basarnas Makassar, Sulawesi Selatan, dilansir Antara, Minggu (18/1/2026).
Helikopter Caracal milik TNI AU telah disiagakan untuk mendukung proses evakuasi, baik dengan skema pendaratan langsung di puncak gunung maupun melalui teknik hoist.
Syafii menegaskan bahwa jalur udara tetap menjadi prioritas utama karena dinilai paling cepat, meskipun sangat bergantung pada kondisi cuaca.
“Pagi ini, kami akan berusaha maksimal untuk evakuasi via udara. Helikopter akan mencoba mendarat di puncak atau menggunakan teknik hoist (pengangkatan dengan tali) untuk menurunkan dan mengangkat tim serta korban. Ini adalah opsi tercepat meski sangat bergantung pada cuaca,” jelas Syafii.