Alexander Zverev menjuarai US Open 2026 usai mengalahkan Ben Shelton 6-3, 7-6(2), 5-7, 6-2. Dalam pidato kemenangannya, petenis Jerman itu mengenang dukungan sang ibu saat ia didiagnosis diabetes tipe 1 pada final tunggal putra di Arthur Ashe Stadium, New York, Senin (14/9/2026). dok/usopen
SulawesiPos.com – Alexander Zverev menjuarai US Open 2026 setelah mengalahkan Ben Shelton 6-3, 7-6(2), 5-7, 6-2 pada final tunggal putra di Arthur Ashe Stadium, New York, Senin (14/9/2026).
Gelar di Flushing Meadows menjadi trofi Grand Slam kedua petenis Jerman itu pada tahun ini, sekaligus ia dedikasikan untuk sang ibu, Irina, yang sejak awal menolak membiarkan diabetes tipe 1 membatasi masa depannya.
Zverev, unggulan pertama, unggul lebih dulu melalui dua set pembuka.
Shelton memaksa pertandingan berlanjut setelah merebut set ketiga, tetapi Zverev segera mematahkan servis lawannya pada awal set keempat dan menuntaskan final dalam empat set.
Kemenangan itu menjadi gelar Grand Slam kedua Zverev setelah ia memenangi French Open 2026.
Sebelumnya, ia juga mencapai final Wimbledon, tetapi kalah dari Jannik Sinner.
Hadiah juara yang diterima Zverev mencapai US$5,5 juta atau sekitar Rp96,8 miliar dengan acuan kurs Jisdor Rp17.611 per dolar AS pada 11 September 2026.
Nilai tersebut sama dengan hadiah yang diterima juara tunggal putri Elena Rybakina dan merupakan hadiah terbesar dalam sejarah Grand Slam.
Dedikasi untuk Irina Zverev
Dalam seremoni trofi, Zverev menyisihkan penghormatan khusus untuk ibunya.
Irina, mantan petenis profesional, disebut tidak hadir menyaksikan pertandingan tersebut, tetapi menjadi sosok penting dalam perjalanan hidup serta kariernya.
Zverev mengingat masa ketika ia didiagnosis diabetes tipe 1 pada usia empat tahun.
Dokter ketika itu memberi gambaran bahwa aktivitas hidup dan olahraga anaknya mungkin akan sangat terbatas.
“Ketika putra Anda yang berusia empat tahun didiagnosis diabetes dan dokter mengatakan kehidupan serta olahraga akan sangat terbatas bagi anak itu, dibutuhkan seorang ibu yang sangat kuat untuk berkata, ‘putra saya akan menjadi apa pun yang dia inginkan’,” kata Zverev, dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Menurut Zverev, sang ibu memegang keyakinan bahwa penyakit tersebut tidak akan menentukan pilihan hidupnya.
“Jika dia ingin menjadi petenis, dia akan menjadi petenis. Jika dia ingin melakukan hal lain, dia akan melakukannya, tetapi penyakit ini tidak akan menentukan kami,” ujar Zverev, mengulang sikap ibunya.
Petenis berusia 29 tahun itu mengatakan dukungan keluarga membantunya melalui tantangan sepanjang perjalanan menuju gelar mayor.
“Saya senang kami berhasil melaluinya dan sekarang melakukan hal-hal yang kami lakukan. Ibu saya adalah orang terpenting dan terkuat yang saya kenal karena dibutuhkan perempuan yang luar biasa kuat untuk melakukan apa yang dia lakukan,” ucapnya.
Zverev mengatakan trofi di New York menutup periode penting bersama tim yang turut diisi ayahnya, Alexander Zverev Sr., dan kakaknya, Mischa.
“Kami hampir 30 tahun tanpa memenangi gelar Grand Slam dan sekarang kami memenangi dua gelar dalam rentang tiga bulan,” katanya.
Ia sebelumnya kehilangan final US Open 2020 setelah sempat unggul dua set atas Dominic Thiem.
Zverev menilai gelar French Open pada musim ini membuat beban dari kekalahan tersebut berangsur hilang.
“Bekas luka dari final US Open 2020 itu menghilang setelah saya menang di Paris,” ujar Zverev.
Shelton, yang tampil pada final Grand Slam pertamanya, memberi selamat kepada Zverev saat seremoni penyerahan trofi.
Petenis Amerika Serikat itu memenangi set ketiga, tetapi tidak mampu menghentikan Zverev meraih gelar US Open pertamanya.