Categories: Sport

Tiga Kelemahan Argentina Jelang Lawan Inggris: Sering Tertekan, Kebobolan, dan Terlalu Bergantung pada Messi

SulawesiPos.com – Argentina datang ke semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris sebagai juara bertahan dan tim yang masih ditopang Lionel Messi, tetapi rangkaian pertandingan terakhir menunjukkan ada celah nyata yang bisa menjadi masalah besar di Atlanta, Rabu, 15 Juli 2026 waktu setempat atau Kamis pagi, 16 Juli 2026 WITA.

Celah itu terlihat bukan dari hasil akhir semata, melainkan dari pola yang terus berulang. AP mencatat Argentina harus melalui extra time saat menundukkan Cape Verde 3-2 pada 3 Juli 2026, lalu bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk mengalahkan Mesir 3-2 pada 7 Juli 2026, sebelum kembali membutuhkan 120 menit ketika menyingkirkan Swiss 3-1 di perempat final pada 11 Juli 2026.

Rangkaian itu menunjukkan setidaknya tiga kelemahan yang kini sulit diabaikan menjelang duel dengan Inggris.

Sulit Mengontrol Laga Lebih Cepat

Masalah pertama adalah Argentina terlalu sering membiarkan pertandingan tetap hidup sampai fase berbahaya. Cape Verde mampu menyamakan skor di waktu normal dan kembali menyamakan kedudukan di extra time sebelum Argentina lolos 3-2.

Ketika menghadapi Mesir, situasinya bahkan lebih buruk. AP melaporkan Argentina tertinggal 2-0 hanya 11 menit sebelum waktu normal berakhir, lalu baru selamat lewat tiga gol pada fase akhir pertandingan. Pola seperti itu memperlihatkan Argentina tidak selalu mampu menutup ruang, mengamankan momentum, dan mengendalikan tempo sejak lebih awal.

Melawan Swiss, masalah itu muncul lagi. Setelah unggul lebih dulu, Argentina tetap gagal mengunci pertandingan dan harus melihat Dan Ndoye menyamakan skor pada menit ke-67. Laga baru benar-benar beres setelah gol Julian Alvarez pada menit ke-112 dan tambahan gol Lautaro Martinez.

Lini Belakang Masih Bisa Ditembus

Masalah kedua adalah Argentina tetap bisa dilukai, bahkan oleh lawan yang secara kertas berada di bawah atau setidaknya tidak lebih diunggulkan. Cape Verde mencetak dua gol ke gawang Emiliano Martinez, Mesir sempat memimpin dua gol, sementara Swiss juga berhasil memaksa laga tetap terbuka sampai babak tambahan.

Artinya, pertahanan Argentina belum benar-benar stabil. Dalam tiga laga gugur terakhir, mereka terus memberi lawan kesempatan untuk percaya bahwa pertandingan masih bisa dibalikkan atau setidaknya dipaksa sampai ujung. Itu menjadi alarm serius karena Inggris datang dengan dua ancaman yang sedang panas sekaligus, Jude Bellingham dan Harry Kane.

AP mencatat Bellingham mencetak dua gol saat Inggris menyingkirkan Norwegia 2-1 di perempat final, dan kini sudah sejajar dengan Kane dengan enam gol di turnamen. Kombinasi itu membuat celah kecil di lini belakang Argentina berpotensi langsung dibayar mahal.

Ketergantungan pada Messi Masih Sangat Besar

Masalah ketiga adalah Argentina masih sangat bergantung pada Messi untuk membuka jalan keluar. Dalam preview semifinal, AP menulis delapan gol Messi di turnamen ini dan momen magisnya telah menyeret Argentina melewati ketakutan besar saat melawan Cape Verde dan Mesir.

Pelatih Inggris Thomas Tuchel bahkan mengakui hal itu secara terbuka. “Perjalanannya di turnamen ini sungguh luar biasa, cara dia memikul tim itu benar-benar, benar-benar luar biasa,” kata Tuchel, dikutip AP.

Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi sekaligus menunjukkan titik rawan Argentina. Saat tim terlalu sering membutuhkan Messi untuk menyelamatkan pertandingan, lawan akan membaca dengan jelas di mana pusat gravitasi permainan mereka berada. Inggris pun sudah menyiapkan perhatian utama ke sana, sementara Argentina sendiri harus memikirkan ancaman di sisi lain.

Pelatih Lionel Scaloni mengakui tantangan tersebut. “Kami akan menghadapi pemain-pemain hebat, dua yang terbaik di dunia,” kata Scaloni soal Bellingham dan Kane.

Itulah sebabnya semifinal ini terasa berbahaya bagi Argentina. Mereka memang punya pengalaman, daya tahan, dan Messi, tetapi tiga pertandingan terakhir menunjukkan mereka kerap membiarkan lawan tetap bernapas terlalu lama, belum cukup rapat di belakang, dan masih sangat tergantung pada keajaiban satu pemain. Melawan Inggris yang datang dengan dua penyerang paling produktifnya, pola itu bisa berubah dari peringatan menjadi hukuman.

Andi As

Share
Published by
Andi As
Tags: Harry Kane Inggris vs Argentina Jude Bellingham Lionel Messi Piala Dunia 2026 Thomas Tuchel