SulawesiPos.com – Di tengah tantangan anggaran yang sering kali menghambat langkah para atlet, Pengprov Akuatik Indonesia Sulawesi Selatan (Sulsel) justru menunjukkan nyali besar.
Tanpa bergantung pada sokongan dana pemerintah, Sulsel memastikan diri sebagai satu-satunya perwakilan dari tanah air yang mengirimkan atletnya ke Kejuaraan Dunia Akuatik di Cina, yang dijadwalkan berlangsung pada 29 April hingga 3 Mei 2026.
Langkah ini diambil bukan sekadar untuk berkompetisi, melainkan sebagai pernyataan tegas bahwa prestasi tidak boleh tersandera oleh birokrasi finansial.
Saat daerah lain memilih absen, Sulsel memilih untuk tetap melaju demi menjaga martabat olahraga air Indonesia di kancah global.
Ketua Umum Akuatik Sulsel, Amirullah Nur, menegaskan bahwa keputusan berangkat dengan biaya mandiri adalah bentuk komitmen nyata organisasi dalam membina atlet.
Seluruh kebutuhan, mulai dari tiket pesawat hingga akomodasi selama berlaga di Negeri Tirai Bambu, ditanggung sepenuhnya secara internal oleh organisasi.
Dalam acara pelepasan atlet di Makassar pada Kamis kemarin, Amirullah mengungkapkan betapa krusialnya keberangkatan ini bagi posisi Indonesia di mata dunia.
“Untuk kejuaraan dunia ini, hanya Sulawesi Selatan yang mengirim atlet. Bahkan Jakarta tidak ikut. Jadi kita yang mewakili Indonesia,” ujar Amirullah dalam keterangannya, Jumat (24/4).
Keputusan untuk bergerak mandiri ini dipicu oleh kesuksesan besar pada SEA Games 2025 di Thailand lalu, di mana atlet Sulsel menjadi bagian penting dari perolehan dua medali perunggu di cabang renang artistik.
Amirullah tak ingin momentum emas ini layu begitu saja hanya karena alasan ketiadaan anggaran daerah.
Beliau menekankan bahwa pola pikir pembinaan olahraga harus mulai berubah dan tidak boleh terus-menerus terpaku pada bantuan pemerintah yang seringkali datang terlambat.
“Kalau terus berharap pada APBD, pembinaan tidak akan jalan. Makanya kami bergerak sendiri,”* tegasnya.
Bagi Amirullah, konsistensi di kejuaraan dunia adalah modal besar untuk membidik target yang lebih tinggi, yakni Asian Games.
Ia percaya bahwa tanpa keberanian untuk tampil di level dunia sekarang, potensi atlet akan terbuang sia-sia.
Meski mengakui adanya kendala fasilitas kolam renang yang belum memadai di Sulsel, Amirullah memilih untuk tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk menyerah.
Ia memastikan bahwa organisasi telah bekerja keras agar para atlet bisa berangkat dengan tenang tanpa harus memikirkan urusan logistik yang rumit.
“Semua sudah kami siapkan. Atlet tinggal berangkat dan tampil maksimal. Yang penting mereka bisa berprestasi dan mengharumkan nama daerah dan negara,” tutupnya.
Langkah berani Akuatik Sulsel ini menjadi inspirasi sekaligus kritik bagi tata kelola olahraga nasional.
Mereka membuktikan bahwa di saat banyak pihak menunggu kepastian, mereka lebih memilih untuk menciptakan peluang—karena mimpi besar tidak mengenal kata tunda.

