SulawesiPos.com – Ada anomali yang terlihat dalam aksi pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, pada balapan Moto3 di Sirkuit Ayrton Senna, Brazil, Minggu (22/3/2026) malam WIB.
Pada balapan awal, Veda Pratama yang start dari posisi 4 sempat menyodok ke posisi 3. Namun, tak bertahan lama, posisinya melorot ke belakang hingga ke posisi 10.
Balapan dihentikan oleh Race Direction dengan mengibarkan bendera merah atau red flag pada lap 14. Penghentian itu terkait dengan banyaknya pembalap yang mengalami kecelakaan.
Saat balapan ulang atau restart dengan lima lap, Veda Pratama start dari posisi 10.
Di balapan restart ini, Veda Pratama langsung gacor. Saat bendera start dikibarkan, dia langsung naik ke posisi 9, lalu menyalip pembalap Malaysia Hakim Danish untuk naik ke posisi 8.
Apa yang terjadi selanjutnya membuat banyak pengamat otomotif terheran-heran.
Veda Pratama dengan mulus menyalip satu per satu pembalap di depannya, mulai dari lap 1 hingga lap-lap selanjutnya.
Veda Pratama akhirnya berhasil mengejar posisi podium di lap terakhir dengan menyalip pembalap Spanyol Alvaro Carpe.
Dua Pertanyaan soal Aksi Veda Pratama
Pertanyaannya adalah mengapa Veda Pratama tak mampu bertahan di posisi depan saat balapan awal?
Lalu, mengapa Veda kemudian tampil trengginas di balapan restart hingga menduduki pososo podium?
Untuk menjawabnya, kita bisa merunut ke belakang, yakni ketika Veda Pratama mengikuti kejuaraan Rede Bull Rookies Cup pada 2025.
Pada balapan di Mugello, Italia, Juni 2025, Veda Pratama juara back to back.
Pada balapan pertama, Veda Pratama memperlihatkan kecerdasannya dalam mengatur strategi.
Pada awal balapan, dia mencoba merangsek ke depan. Namun, persaingan sangat ketat dan situasinya sangat crowdit.
Itu sebabnya, Veda tidak tampil ngotot. Dia memilih untuk memelihara ban. Dia pun terus melorot hingga ke posisi 13.
Namun, di delapan lap terakhir, Veda Pratama langsung menggebrak. Dia menyalip satu per satu pembalap di depannya hingga berhasil meraih posisi terdepan.
Mengapa Veda Pratama mampu tampil trengginas di delapan lap terakhir dengan menyalip semua pembalap di depannya?
Itu karena strategi memelihara ban tadi. Saat hampir semua pembalap berkejar-kejaran dan memacu motor sekencang-kencangnya, dampak yang terjadi adalah ban cepat aus.
Berbeda dengan Veda Pratama. Ia masih memiliki ban yang bagus pada delapan lap terakhir. Itu sebabnya, dia dengan mudah menyalip semua pembalap di depannya.
Startegi Mugello Dipakai di Brazil
Strategi yang sama coba diterapkan Veda Pratama di balapan Moto3 di Sirkuit Ayrton Senna, Brazil, Minggu malam lalu.
Veda memang melorot ke belakang, tapi dia terus menjaga posisinya agar tetap di 10 besar dan tidak terlepas dari rombongan besar.
Balapan Moto3 di Brazil digelar dalam 24 lap. Saat balapan dihentikan pada lap 14, sebenarnya masih ada 10 lap terakhir, yang bisa menjadi momentum bagi Veda untuk kembali bangkit dan merangsek ke depan.
Dengan merawat ban sehingga masih tetap solid, Veda memiliki kesempatan untuk tampil trengginas.
Sayangnya, sebelum Veda kembali menunjukkan aksinya sama seperti di balapan Red Bull Rookies Cup, balapan dihentikan.
Tapi, tak jadi masalah dengan Veda. Meski balapan restart hanya lima lap, ia memiliki keunggulan yang tak dimiliki lagi oleh pembalap di depannya, yakni unggul ban.
Dia pun melakukan aksi yang sama seperti di Mugello pada Juni 2025. Dari posisi belakang dia menyalip satu per satu pembalap di depannya.
Sayang, balapan restart hanya 5 lap. Veda Pratama tak punya waktu yang cukup untuk mengejar dua pembalap di depan, Maximo Quiles dan Marco Morelli.aih
Tapi, meraih P3 tetap membanggakan. Begitulah Veda Pratama.*

