Motor baru ini diharapkan mengatasi kelemahan terbesar Bagnaia musim lalu, terutama dalam pengereman dan kontroltraksi.
“Saya ingin lebih bisa mengontrol traksi lewat throttle,” ujarnya.
Permintaan ini menegaskan bahwa masalah teknis, bukan sekadar performa lawan, menjadi kunci kegagalannya musim lalu.
Tak hanya teknis, Bagnaia juga melakukan pembenahan mental. Ia mengaku menggunakan musim dingin untuk menjauh sejenak dari dunia balap.
“Musim lalu sangat berat bagi saya. Saya belajar menerima penderitaan dan memahami di mana saya harus berubah,” katanya.
Ia bahkan mengakui mulai menganalisis keunggulan Marc Márquez, yang kerap tampil lebih kuat dalam situasi sulit.
Pernyataan ini memperlihatkan kedewasaan baru: Bagnaia tidak lagi sekadar bertahan di puncak, tetapi belajar dari rivalnya sendiri.
Isu panas tentang kursi Ducati 2027 terus berkembang, apalagi setelah CEO Aprilia Massimo Rivola menyebut Pedro Acosta sebagai kandidat kuat pengganti Bagnaia.
Namun Pecco memilih menutup telinga.
Baginya, musim 2026 bukan soal kontrak, melainkan soal harga diri.

