Dinilai Terlalu Jauh Menarik Kesimpulan
Lebih lanjut, Arya menyayangkan munculnya anggapan bahwa setiap langkah strategis klub selalu dikaitkan dengan agenda federasi.
Ia menilai asumsi tersebut terlalu berlebihan dan tidak didukung fakta konkret.
Menurutnya, tidak masuk akal jika PSSI dianggap bisa mengatur klub untuk membayar pemain tertentu demi kepentingan turnamen regional seperti AFF.
“Federasi tidak berada dalam posisi membayar kontrak pemain di klub. Itu bukan ranah PSSI,” tegasnya.
Ia pun mengajak publik dan para pengamat sepak bola untuk melihat persoalan secara rasional dan berdasarkan mekanisme industri sepak bola profesional.
Fokus Persiapan Timnas Tanpa Intervensi Transfer
Terkait persiapan Timnas Indonesia menuju Piala AFF 2026, Arya memastikan bahwa PSSI fokus pada pembinaan, agenda pemusatan latihan, serta program pengembangan jangka panjang.
Kehadiran pemain diaspora di kompetisi lokal, jika memang terjadi, disebutnya sebagai dinamika alami pasar sepak bola. Hal tersebut dinilai justru bisa memperkaya kualitas kompetisi domestik tanpa perlu dikaitkan dengan skenario tertentu.
“Kalau ada pemain diaspora bergabung dengan klub Indonesia, itu keputusan profesional antara pemain dan klub. Tidak perlu dibawa ke arah konspirasi,” katanya.
Publik Diminta Lebih Cermat
Menutup pernyataannya, Arya berharap masyarakat sepak bola Indonesia lebih bijak dalam menyikapi isu yang berkembang di ruang digital.
Ia menilai penting bagi media dan pengamat untuk menghadirkan informasi yang mencerdaskan, bukan memperkeruh suasana dengan asumsi tanpa dasar.

