Ia ingin memastikan setiap sesi latihan dan pertandingan dijalani dengan konsentrasi penuh tanpa terbebani opini publik yang kerap berubah-ubah.
Sikap ini dinilai sebagai bentuk kedewasaan yang jarang dimiliki pemain di usia sangat muda.
Dalam beberapa musim terakhir, banyak pesepak bola muda berbakat yang kariernya terhambat akibat tekanan mental dan eksposur berlebihan di media sosial.
Yamal tampaknya belajar dari pengalaman tersebut dan memilih langkah preventif demi menjaga masa depannya tetap berada di jalur yang benar.
Keputusan menjauh dari hiruk-pikuk dunia maya ini juga sejalan dengan filosofi Barcelona yang menekankan pembinaan karakter dan mental pemain muda.
Klub ingin memastikan bahwa Yamal tidak hanya berkembang secara teknis, tetapi juga memiliki fondasi psikologis yang kuat untuk menghadapi kerasnya dunia sepak bola profesional.
Langkah ini pun mendapat respons positif dari berbagai kalangan.
Banyak pengamat menilai keputusan Yamal sebagai contoh ideal bagi pemain muda lain yang mulai merasakan tekanan popularitas di usia dini.
Dengan pendekatan yang lebih terkontrol dan fokus penuh pada sepak bola, Lamine Yamal diharapkan mampu menjaga konsistensi performa sekaligus mengembangkan potensinya secara maksimal.
Di tengah era digital yang serba cepat, pilihannya untuk membatasi media sosial justru dianggap sebagai investasi penting demi karier jangka panjang.

