Dr Andi Amran Sulaiman: Anak SAR Itu Ikhlas Hatinya

Catatan: Laode M Syarif

SulawesiPos.com – Dalam rangka memperingati hari jadi ke-40 tahun Search and Rescue (SAR) Universitas Hasanuddin, para pioner (angkatan pertama) SAR Unhas, melakukan anjang sana dengan Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) Unhas, Bapak Dr Ir H Andi Amran Sulaiman MP.

Para pioner yang hadir terdiri dari:

  • Umar Arsal (FISIP 1982/Ketua SAR Unhas Pertama).
  • Riady Bakri (Teknik Elektro 1981, swasta, pemerhati konservasi burung))
  • dr Priyatno Sismadi (Kedokteran 1981, praktisi kesehatan)
  • Bohari Lewa, (Hukum 1984, notaris)
  • Herman (Kelautan 1997, Kemen Kelautan dan Perikanan)
  • Juninho Yanto Benny (Teknik Mesin, 2021, Ketua SAR sekarang)
  • Laode M Syarif (Hukum 1985, mantan Pimpinan KPK)

Pertemuan ini diatur oleh Kak Umar dan asisten pribadi Pak Ketua Umum, sedangkan kami menyesuaikan dengan jadwal yang disepakati.

Kami bersyukur, karena walaupun Pak Andi Amran memiliki agenda yang sangat padat di akhir pekan, beliau berkenan untuk bertemu kami pada hari Sabtu 11 April 2026 jam 6 pagi, suatu waktu yang jarang dipakai untuk silaturahim.

Mengingat kami harus bertemu pada saat fajar menyingsing, terpaksa kami bertujuh harus membelah jalanan Jakarta ketika embun masih menempel di dedaunan hutan kota.

Alhamdulillah, kami telah berada di gerbang kediaman beliau sebelum jam 6 pagi. Mungkin karena kami masih mengingat disiplin Latihan Dasar yang harus lari setelah shalat shubuh di kedinginan Malino 40 tahun yang lalu.

Tanpa prosesi yang lama, Ketua Umum IKA Unhas keluar menemui kami dengan “pakaian dinas” salat shubuh dengan peci yang telah rapi.

BACA JUGA: 
JK Telepon Andi Amran Sulaiman soal Absen di PSBM 2026, Sampaikan Permohonan Maaf ke Warga KKSS

Saya kurang tahu persis, mengapa beliau suka bertemu di saat fajar, karena beberapa tahun yang lalu, beliau pernah juga mengajak saya bertemu Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, persis setelah salat shubuh.

Jadi, saya bisa menyimpulkan bahwa beliau adalah “morning person” sejati. Mungkin gara-gara itu, beliau dimudahkan rezekinya, karena menurut petuah orang tua “kalau bangun siang, rezeki telah dipatuk ayam”.

Pertemuan diawali dengan perkenalan dari Kak Umar dengan menjelaskan maksud kedatangan kami bahwa SAR Unhas akan merayakan hari jadi yang ke-40.

Dan kami meminta kesediaan beliau untuk memberikan sambutan tertulis pada “Pengantar Buku” kami yang berjudul “Rumah Jingga Tamalanrea: Monumen Ingatan 40 tahun SAR Unhas, 1986-2026”.

Beliau langsung bersedia dan mengatakan bahwa “anggota-anggota SAR selalu IKHLAS hatinya”, sehingga wajib untuk didukung.

Beliau menambahkan bahwa “anak-anak SAR bahkan sering melupakan kepentingan pribadinya karena mendahulukan panggilan kemanusiaan untuk menolong masyarakat yang lagi kesusahan”.

Oleh karena itu, ketika SAR Unhas mengirim tim relawan pada bencana banjir di Sumatra, Pak Andi Amran tidak segan-segan menggalang dana bantuan lebih dari 70 miliar rupiah dan memberikan bantuan kepada adik-adik Tim SAR Unhas puluhan juta dari kantong pribadi beliau.

Pak Andi Amran berkali-kali mengulang pentingnya ‘keikhlasan’ dalam memberikan bantuan, karena Tuhan menurut beliau, tidak melihat nilai sedekah dari jumlahnya, tapi melihat “keikhlasan hati’ sang pemberi.

BACA JUGA: 
Antisipasi Kemarau Lebih Awal, Kementan Dorong Pemanfaatan Varietas Padi Adaptif

Beliau juga banyak memberikan contoh-contoh kedermawanan yang dibalas seketika oleh Tuhan dari sumber-sumber yang tak terduga, termasuk dari orang yang belum pernah beliau temui sekalipun.

Pertemuan yang awalnya hanya dijadwalkan satu jam, karena beliau ada tamu lain, tapi beliau melarang kami pulang karena ‘tertarik’ dengan cerita anak-anak pioner SAR Unhaa, yang pernah menyelamatkan masyarakat yang kecelakaan saat ‘naik haji’ di puncak Gunung Bawakaraeng di Malino.

Setelah kembali  bergabung dengan kami, beliau menceritakan ‘kedekatan spiritualnya’ dengan makam leluhur di kaki Gunung Bawakaraeng, makanya banyak masyarakat yang salah kaprah dan memutuskan ‘naik haji’ di Bawakaraeng.

Dari cerita beliau yang detail, akhirnya kami paham, mengapa masih banyak masyarakat yang ‘naik haji’ di Gunung Bawakareng sampai dengan sekarang.

Sayang, saya tidak bisa menuliskan beberapa detail ‘kedekatan’ Pak Andi Amran dengan Gunung Bawakaraeng karena bersifat pribadi.

Pak Andi Amran juga menunjukan photo-photo pondokan beliau di samping kampus Tamalanrea yang kurang nyaman, sehingga beliau sering memanfaatkan ‘ruang kantor SAR Unhas di PKM untuk istrahat dan ngobrol dengan anak-anak SAR di zaman beliau masih kuliah di Fakultas Pertanian.

Setelah beliau berbagi pengalaman dan ‘nostalgia kesusahan’ saat kuliah, kami meminta adik Juninho Yanto Benny memasangkan slayer jingga SAR Unhas sebagai pertanda pengangkatan beliau sebagai anggota kehormatan SAR Unhas dan foto bersama.

BACA JUGA: 
Sudah Minggu Tenang Jelang Lebaran, Mentan Amran Malah “Bikin Ribut” di Maros

Setelah itu, beliau menyampaikan kesanggupannya untuk memberikan Sambutan Pengantar pada buku 40 tahun SAR Unhas.

Di luar dugaan kami, tanpa diminta,  beliau langsung menyumbang Rp 50 juta dari kantong pribadi beliau untuk persiapan perayaan 40 tahun SAR Unhas

Belum sempat kami berterima kasih, beliau meminta asistennya untuk menambahkan dana ratusan juta rupiah untuk operasi bantuan kemanusiaan SAR Unhas, dengan pesan bahwa uang tersebut akan ditransfer ke rekening SAR Unhas dan hanya digunakan untuk misi-misi pertolongan kemanusiaan.

Bantuan itu berupa Rp 250 juta untuk bantuan bencana dari Kementan Peduli dan Rp 50 juta untuk bantuan operasional relawan dari Kementan Peduli.

Total bantuan yang diserahkan Rp 350 juta.

Kami berterima kasih atas kedermawanan beliau dan sekaligus memberikan jaminan bahwa uang operasional kemanusiaan tersebut akan dikelola secara transparan dan akuntabel dan tidak akan disalahgunakan oleh adik-adik SAR Unhas.

Terima kasih Pak Andi Amran atas bantuan dan dukungan kepada SAR Unhas. Kami akan menyampaikan nasihat Bapak kepada adik-adik SAR Unhas agar tetap mendahulukan keikhlasan dalam membantu kemanusiaan dan bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki halal agar lebih leluasa dalam memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang dalam kesusahan.

Intinya, adik-adik SAR Unhas diharapkan untuk mempraktikkan pesan rasul Tuhan bahwa “tangan di atas lebih baik dibanding tangan di bawah”.*

Catatan: Laode M Syarif

SulawesiPos.com – Dalam rangka memperingati hari jadi ke-40 tahun Search and Rescue (SAR) Universitas Hasanuddin, para pioner (angkatan pertama) SAR Unhas, melakukan anjang sana dengan Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) Unhas, Bapak Dr Ir H Andi Amran Sulaiman MP.

Para pioner yang hadir terdiri dari:

  • Umar Arsal (FISIP 1982/Ketua SAR Unhas Pertama).
  • Riady Bakri (Teknik Elektro 1981, swasta, pemerhati konservasi burung))
  • dr Priyatno Sismadi (Kedokteran 1981, praktisi kesehatan)
  • Bohari Lewa, (Hukum 1984, notaris)
  • Herman (Kelautan 1997, Kemen Kelautan dan Perikanan)
  • Juninho Yanto Benny (Teknik Mesin, 2021, Ketua SAR sekarang)
  • Laode M Syarif (Hukum 1985, mantan Pimpinan KPK)

Pertemuan ini diatur oleh Kak Umar dan asisten pribadi Pak Ketua Umum, sedangkan kami menyesuaikan dengan jadwal yang disepakati.

Kami bersyukur, karena walaupun Pak Andi Amran memiliki agenda yang sangat padat di akhir pekan, beliau berkenan untuk bertemu kami pada hari Sabtu 11 April 2026 jam 6 pagi, suatu waktu yang jarang dipakai untuk silaturahim.

Mengingat kami harus bertemu pada saat fajar menyingsing, terpaksa kami bertujuh harus membelah jalanan Jakarta ketika embun masih menempel di dedaunan hutan kota.

Alhamdulillah, kami telah berada di gerbang kediaman beliau sebelum jam 6 pagi. Mungkin karena kami masih mengingat disiplin Latihan Dasar yang harus lari setelah shalat shubuh di kedinginan Malino 40 tahun yang lalu.

Tanpa prosesi yang lama, Ketua Umum IKA Unhas keluar menemui kami dengan “pakaian dinas” salat shubuh dengan peci yang telah rapi.

BACA JUGA: 
Percepatan Rehabilitasi Irigasi Dorong Swasembada Pangan Nasional

Saya kurang tahu persis, mengapa beliau suka bertemu di saat fajar, karena beberapa tahun yang lalu, beliau pernah juga mengajak saya bertemu Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, persis setelah salat shubuh.

Jadi, saya bisa menyimpulkan bahwa beliau adalah “morning person” sejati. Mungkin gara-gara itu, beliau dimudahkan rezekinya, karena menurut petuah orang tua “kalau bangun siang, rezeki telah dipatuk ayam”.

Pertemuan diawali dengan perkenalan dari Kak Umar dengan menjelaskan maksud kedatangan kami bahwa SAR Unhas akan merayakan hari jadi yang ke-40.

Dan kami meminta kesediaan beliau untuk memberikan sambutan tertulis pada “Pengantar Buku” kami yang berjudul “Rumah Jingga Tamalanrea: Monumen Ingatan 40 tahun SAR Unhas, 1986-2026”.

Beliau langsung bersedia dan mengatakan bahwa “anggota-anggota SAR selalu IKHLAS hatinya”, sehingga wajib untuk didukung.

Beliau menambahkan bahwa “anak-anak SAR bahkan sering melupakan kepentingan pribadinya karena mendahulukan panggilan kemanusiaan untuk menolong masyarakat yang lagi kesusahan”.

Oleh karena itu, ketika SAR Unhas mengirim tim relawan pada bencana banjir di Sumatra, Pak Andi Amran tidak segan-segan menggalang dana bantuan lebih dari 70 miliar rupiah dan memberikan bantuan kepada adik-adik Tim SAR Unhas puluhan juta dari kantong pribadi beliau.

Pak Andi Amran berkali-kali mengulang pentingnya ‘keikhlasan’ dalam memberikan bantuan, karena Tuhan menurut beliau, tidak melihat nilai sedekah dari jumlahnya, tapi melihat “keikhlasan hati’ sang pemberi.

BACA JUGA: 
Sudah Minggu Tenang Jelang Lebaran, Mentan Amran Malah “Bikin Ribut” di Maros

Beliau juga banyak memberikan contoh-contoh kedermawanan yang dibalas seketika oleh Tuhan dari sumber-sumber yang tak terduga, termasuk dari orang yang belum pernah beliau temui sekalipun.

Pertemuan yang awalnya hanya dijadwalkan satu jam, karena beliau ada tamu lain, tapi beliau melarang kami pulang karena ‘tertarik’ dengan cerita anak-anak pioner SAR Unhaa, yang pernah menyelamatkan masyarakat yang kecelakaan saat ‘naik haji’ di puncak Gunung Bawakaraeng di Malino.

Setelah kembali  bergabung dengan kami, beliau menceritakan ‘kedekatan spiritualnya’ dengan makam leluhur di kaki Gunung Bawakaraeng, makanya banyak masyarakat yang salah kaprah dan memutuskan ‘naik haji’ di Bawakaraeng.

Dari cerita beliau yang detail, akhirnya kami paham, mengapa masih banyak masyarakat yang ‘naik haji’ di Gunung Bawakareng sampai dengan sekarang.

Sayang, saya tidak bisa menuliskan beberapa detail ‘kedekatan’ Pak Andi Amran dengan Gunung Bawakaraeng karena bersifat pribadi.

Pak Andi Amran juga menunjukan photo-photo pondokan beliau di samping kampus Tamalanrea yang kurang nyaman, sehingga beliau sering memanfaatkan ‘ruang kantor SAR Unhas di PKM untuk istrahat dan ngobrol dengan anak-anak SAR di zaman beliau masih kuliah di Fakultas Pertanian.

Setelah beliau berbagi pengalaman dan ‘nostalgia kesusahan’ saat kuliah, kami meminta adik Juninho Yanto Benny memasangkan slayer jingga SAR Unhas sebagai pertanda pengangkatan beliau sebagai anggota kehormatan SAR Unhas dan foto bersama.

BACA JUGA: 
KKSS-IKA Unhas Berbagi di Empang Panakukkang Makassar, 1.000 Anak Panti Terima Santunan

Setelah itu, beliau menyampaikan kesanggupannya untuk memberikan Sambutan Pengantar pada buku 40 tahun SAR Unhas.

Di luar dugaan kami, tanpa diminta,  beliau langsung menyumbang Rp 50 juta dari kantong pribadi beliau untuk persiapan perayaan 40 tahun SAR Unhas

Belum sempat kami berterima kasih, beliau meminta asistennya untuk menambahkan dana ratusan juta rupiah untuk operasi bantuan kemanusiaan SAR Unhas, dengan pesan bahwa uang tersebut akan ditransfer ke rekening SAR Unhas dan hanya digunakan untuk misi-misi pertolongan kemanusiaan.

Bantuan itu berupa Rp 250 juta untuk bantuan bencana dari Kementan Peduli dan Rp 50 juta untuk bantuan operasional relawan dari Kementan Peduli.

Total bantuan yang diserahkan Rp 350 juta.

Kami berterima kasih atas kedermawanan beliau dan sekaligus memberikan jaminan bahwa uang operasional kemanusiaan tersebut akan dikelola secara transparan dan akuntabel dan tidak akan disalahgunakan oleh adik-adik SAR Unhas.

Terima kasih Pak Andi Amran atas bantuan dan dukungan kepada SAR Unhas. Kami akan menyampaikan nasihat Bapak kepada adik-adik SAR Unhas agar tetap mendahulukan keikhlasan dalam membantu kemanusiaan dan bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki halal agar lebih leluasa dalam memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang dalam kesusahan.

Intinya, adik-adik SAR Unhas diharapkan untuk mempraktikkan pesan rasul Tuhan bahwa “tangan di atas lebih baik dibanding tangan di bawah”.*

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru