SulawesiPos.com – Upaya Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi impor di tengah ketidakpastian dan krisis energi global terus berlanjut.
Pemerintah menargetkan implementasi mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026, setelah melalui rangkaian uji coba di berbagai sektor.
Kebijakan ini menjadi kelanjutan dari program biodiesel sebelumnya sekaligus penanda arah baru pengelolaan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan, implementasi tersebut segera dijalankan setelah uji coba menunjukkan hasil yang memadai.
“Ini akan segera diselesaikan, dan implementasinya akan dimulai pada 1 Juli,” ujarnya, dikutip dari Antara, Jumat (10/4/2026).
B50 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar.
Skema ini dipandang sebagai upaya menyeimbangkan kebutuhan energi nasional dengan pemanfaatan energi baru terbarukan.
Alokasi CPO Pemerintah
Di sisi hulu, pemerintah telah menyiapkan pasokan bahan baku berupa crude palm oil (CPO).
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyebutkan bahwa alokasi CPO telah ditetapkan untuk mendukung program tersebut.
“Itu 5,3 juta ton CPO kita yang kita ubah menjadi biofuel, ini arahan presiden,” kata Mentan Amran.
Dengan posisi Indonesia sebagai produsen utama minyak sawit dunia, pemerintah menilai pengalihan sebagian produksi untuk kebutuhan energi domestik masih dapat dilakukan tanpa mengganggu ekspor.
Peningkatan produksi nasional dalam beberapa tahun terakhir turut menopang kebijakan ini.
Pengalaman sebelumnya, pada implementasi B40 menjadi pijakan penting dalam keputusan ini.
Program tersebut sebelumnya tercatat mampu menekan impor solar dan menurunkan emisi karbon dalam jumlah signifikan.
Capaian itu memperkuat keyakinan pemerintah untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Bahlil menilai, dinamika global menjadi pengingat pentingnya kemandirian energi.
“Tanpa diversifikasi, keamanan energi kita akan rentan. Kita harus bergantung pada sumber daya kita sendiri,” ujarnya.
Pemerintah memperkirakan penerapan B50 akan menekan impor bahan bakar fosil sekaligus menghemat anggaran subsidi.
Kebijakan ini juga diharapkan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk pada sektor perkebunan sawit.
Hasil Uji Coba Teknis
Di sisi teknis, hasil uji coba menjadi perhatian utama. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat hasil awal yang positif, termasuk pada sektor alat berat pertambangan.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa performa mesin tetap terjaga selama pengujian.
“Secara umum, hasil sementara uji penggunaan B50 pada mesin diesel di sektor pertambangan menunjukkan performa yang stabil dan tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin,” ujarnya.
Pengujian dilakukan secara komprehensif, mulai dari kualitas bahan bakar hingga ketahanan operasional.
Hingga ratusan jam penggunaan, tidak ditemukan indikasi gangguan yang disebabkan oleh kualitas bahan bakar.
Dari sisi pelaku usaha, hasil yang diperoleh juga relatif serupa.
General Manager Plant PT Harmoni Panca Utama Rochman Alamsjah mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan uji pembanding antara B40 dan B50.
“Sejauh ini hingga mendekati hour meter 1000 jam performa mesin tidak menjadi masalah meskipun ada beberapa catatan kecil berupa konsumsi bahan bakar masih fluktuasi lebih tinggi 1-3% untuk B50,” kata Rochman.
Catatan tersebut menjadi salah satu aspek yang masih perlu dievaluasi.
Meski konsumsi bahan bakar sedikit meningkat, pelaku industri menilai hal itu masih dalam batas yang dapat diterima dan tidak mengganggu produktivitas.
Selain itu, kualitas bahan bakar B50 dinilai telah memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan, termasuk dari sisi stabilitas dan komposisi kimia.
Hal ini membuka peluang penggunaan yang lebih luas, tidak hanya pada sektor transportasi tetapi juga industri berat.
Meski demikian, pemerintah tetap berhati-hati dalam implementasi.
B50 direncanakan akan diterapkan secara bertahap sambil terus dievaluasi di lapangan.
Distribusi, kesiapan infrastruktur, serta kesinambungan pasokan bahan baku menjadi faktor yang akan terus dipantau.
Eniya menegaskan bahwa pengembangan biodiesel merupakan bagian dari strategi jangka panjang.
“Pengembangan B50 menjadi langkah penting dalam mendorong kemandirian energi nasional,” ujarnya.

