SulawesiPos.com – Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyoroti masih terjadinya kematian akibat campak di Indonesia, baik pada balita maupun orang dewasa.
Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk mengevaluasi pelaksanaan program imunisasi.
“Kasus kematian akibat campak sejak awal tahun ini harus menjadi peringatan bagi kita semua. Ini juga menjadi kabar duka bagi layanan kesehatan Indonesia,” ujar Puan, dikutip Kamis (2/4/2026).
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan adanya 10 kematian akibat campak sepanjang 2026.
Sebagian besar korban merupakan balita yang belum mendapatkan imunisasi campak.
Salah satu kasus juga menimpa tenaga kesehatan, yakni dokter internsip berinisial AMW (25) di Cianjur yang meninggal dunia akibat komplikasi setelah diduga terpapar saat menangani pasien.
Menurut Puan, rangkaian kasus tersebut menunjukkan adanya celah dalam perlindungan kesehatan dasar masyarakat.
Kasus Masih Ditemukan di Sejumlah Daerah
Meski secara nasional terjadi penurunan signifikan hingga 93 persen pada pekan ke-12 tahun 2026 dibanding awal tahun, kasus campak masih ditemukan di sejumlah wilayah.
Di Jawa Tengah, misalnya, ribuan kasus masih tercatat dan tiga daerah telah berstatus kejadian luar biasa (KLB), yakni Klaten, Cilacap, dan Pati.
“Walaupun ada tren penurunan, fakta di lapangan menunjukkan kasus campak masih muncul. Ini harus menjadi pengingat pentingnya vaksinasi pada anak,” ujar Puan.
Puan menegaskan bahwa campak merupakan penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.
Namun, ia mengingatkan bahwa rendahnya cakupan vaksinasi dapat meningkatkan risiko komplikasi serius hingga kematian.
Menurutnya, tantangan kesehatan tidak hanya terletak pada ketersediaan layanan, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat terhadap vaksin.
“Setiap kematian yang sebenarnya dapat dicegah harus menjadi bahan evaluasi serius. Negara tidak boleh membiarkan perlindungan kesehatan dasar melemah hanya karena informasi yang salah lebih cepat dipercaya dibanding penjelasan ilmiah,” tegasnya.
Dorong Edukasi dan Perluasan Cakupan Vaksinasi
Puan juga menilai penanganan kasus campak tidak cukup hanya dengan respons medis jangka pendek.
Ia mendorong penguatan sistem pencegahan melalui peningkatan cakupan imunisasi, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas.
Selain itu, edukasi berbasis komunitas dan strategi komunikasi publik dinilai penting untuk menjawab keraguan masyarakat.
Ia juga menyoroti perlunya perhatian terhadap kelompok dewasa muda, terutama tenaga kesehatan atau kelompok dengan risiko paparan tinggi.
Di akhir, Puan menekankan pentingnya penguatan sistem kesehatan publik yang diiringi peningkatan literasi masyarakat.
“Negara perlu hadir hingga tingkat komunitas agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar, merasa dilibatkan, dan percaya bahwa setiap kebijakan kesehatan dijalankan untuk melindungi hak hidup seluruh warga negara,” pungkasnya.

