SulawesiPos.com – Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat menyoroti meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, dinamika konflik tersebut harus disikapi secara hati-hati oleh Indonesia dengan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif.
Hal itu disampaikan Syahrul saat pertemuan Komisi I DPR dengan jajaran Tentara Nasional Indonesia di Markas Komando Daerah Militer XX Tuanku Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat, Jumat (6/3/2026).
Syahrul menegaskan bahwa sejak awal Indonesia menempatkan diri sebagai negara yang tidak berpihak pada blok kekuatan tertentu.
Ia menilai prinsip tersebut harus menjadi pedoman utama dalam menyikapi konflik global, termasuk dinamika antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Indonesia adalah negara non-blok dan secara konstitusi kita juga mengutuk penjajahan. Karena itu kita harus melihat konflik ini secara objektif dan berdasarkan prinsip hukum internasional,” ujarnya, dikutip dari Parlementaria, Sabtu (7/3/2026).
Syahrul juga mempertanyakan dasar legitimasi serangan yang dilakukan Amerika terhadap Iran.
Menurutnya, tindakan tersebut tidak memiliki mandat dari lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ia menyebut bahkan di Amerika sendiri telah muncul kritik dari sebagian masyarakat yang menilai konflik tersebut lebih banyak berkaitan dengan kepentingan geopolitik tertentu di kawasan.
Syahrul menilai konflik berpotensi semakin panjang, terutama setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu respons militer Iran yang lebih luas terhadap kepentingan Amerika di kawasan Timur Tengah.
Ia mencontohkan serangan balasan Iran yang menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk sebagai indikator meningkatnya eskalasi konflik.
Dalam konteks perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri, Syahrul memastikan pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia telah memiliki prosedur tetap dalam menghadapi situasi darurat.
Ia mengatakan WNI di luar negeri selalu diminta berkoordinasi dengan perwakilan diplomatik Indonesia, termasuk jika sewaktu-waktu diperlukan proses evakuasi akibat konflik.
Konflik jadi pengingat pentingnya kemandirian nasional
Lebih jauh, Syahrul menilai dinamika konflik global harus menjadi pelajaran strategis bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian nasional.
Ia mencontohkan Iran yang tetap mampu bertahan dan mengembangkan teknologi pertahanan meski menghadapi embargo internasional selama puluhan tahun.
Menurutnya, ada tiga sektor utama yang harus dikuasai negara agar memiliki kekuatan nasional yang kokoh, yakni produksi pangan, industri obat-obatan, serta industri pertahanan.
“Kalau negara bisa memproduksi pangan, obat, dan senjata sendiri, maka negara itu akan kuat,” tegasnya.

