24 C
Makassar
6 February 2026, 22:25 PM WITA

HUT Ke-18, Dasco Berharap Partai Gerindra Tetap Eksis hingga 1.000 Tahun

Di antaranya Ketua Dewan Kehormatan Gerindra yang juga Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Sekretaris Jenderal Gerindra yang juga Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, serta Menteri Koperasi Ferry Juliantono.

Sejarah Gerindra

Gagasan pendirian Partai Gerindra bermula dari perbincangan Fadli Zon dan Hashim Djojohadikusumo saat perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta pada November 2007.

Keduanya menilai praktik demokrasi kala itu telah menyimpang karena dikuasai kepentingan pemodal besar, sehingga rakyat kerap menjadi korban politik.

Fadli juga menyinggung kasus hukum yang pernah menjerat Hashim terkait tudingan pencurian benda purbakala di Museum Radya Pustaka, yang menurutnya tidak lepas dari situasi politik saat itu.

Ia lalu mengutip pemikiran Edmund Burke tentang pentingnya orang baik bertindak melawan kejahatan, yang kemudian menginspirasi gagasan pembentukan partai baru.

Wacana itu dibahas di lingkaran Hashim dan Prabowo Subianto.

Meski sempat muncul usulan bergabung dengan partai lama, termasuk peluang Prabowo di Partai Golkar.

Tapi akhirnya disepakati mendirikan partai baru dengan manifesto perjuangan kesejahteraan rakyat.

Baca Juga: 
Deklarasi di Waktu Berdekatan, Dua Partai Baru Ini Beda Dukungan Politik

Pada Desember 2007, sejumlah tokoh seperti Ahmad Muzani, Sufmi Dasco Ahmad, hingga Prof. Suhardi berkumpul di markas Institute for Policy Studies (IPS) untuk menyusun AD/ART partai.

Proses dilakukan intensif hingga akhirnya nama “Gerindra” digagas Hashim, sementara lambang kepala garuda diusulkan Prabowo.

Partai Gerindra resmi dideklarasikan pada 6 Februari 2008, berdekatan dengan tahapan Pemilu.

Di antaranya Ketua Dewan Kehormatan Gerindra yang juga Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Sekretaris Jenderal Gerindra yang juga Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, serta Menteri Koperasi Ferry Juliantono.

Sejarah Gerindra

Gagasan pendirian Partai Gerindra bermula dari perbincangan Fadli Zon dan Hashim Djojohadikusumo saat perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta pada November 2007.

Keduanya menilai praktik demokrasi kala itu telah menyimpang karena dikuasai kepentingan pemodal besar, sehingga rakyat kerap menjadi korban politik.

Fadli juga menyinggung kasus hukum yang pernah menjerat Hashim terkait tudingan pencurian benda purbakala di Museum Radya Pustaka, yang menurutnya tidak lepas dari situasi politik saat itu.

Ia lalu mengutip pemikiran Edmund Burke tentang pentingnya orang baik bertindak melawan kejahatan, yang kemudian menginspirasi gagasan pembentukan partai baru.

Wacana itu dibahas di lingkaran Hashim dan Prabowo Subianto.

Meski sempat muncul usulan bergabung dengan partai lama, termasuk peluang Prabowo di Partai Golkar.

Tapi akhirnya disepakati mendirikan partai baru dengan manifesto perjuangan kesejahteraan rakyat.

Baca Juga: 
Rapat Paripurna Perdana 2026: 286 dari 580 Anggota DPR Absen Serta Pelantikan Anggota Baru

Pada Desember 2007, sejumlah tokoh seperti Ahmad Muzani, Sufmi Dasco Ahmad, hingga Prof. Suhardi berkumpul di markas Institute for Policy Studies (IPS) untuk menyusun AD/ART partai.

Proses dilakukan intensif hingga akhirnya nama “Gerindra” digagas Hashim, sementara lambang kepala garuda diusulkan Prabowo.

Partai Gerindra resmi dideklarasikan pada 6 Februari 2008, berdekatan dengan tahapan Pemilu.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/