Soroti Tingginya Kasus Depresi Mahasiswa, Unhas Perkuat Dukungan Kesehatan Mental

Komitmen ini diwujudkan melalui peringatan Mental Health Day 2026 yang diisi dengan Sharing Session, Art Therapy, dan Screening Session di Makassar, Sabtu (10/10/2026).

Merujuk studi dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry (2022) yang melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis pada populasi mahasiswa, gejala depresi dan kecemasan cukup marak ditemukan.

Data ini menjadi pengingat serius bagi pengelola perguruan tinggi bahwa tantangan psikologis yang dihadapi mahasiswa maupun beban kerja dosen dan tenaga kependidikan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Mengutip panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental didefinisikan sebagai kesejahteraan yang membantu individu menghadapi tekanan, berkembang, serta berkontribusi bagi komunitasnya.

Artinya, kondisi psikologis berdampak langsung pada produktivitas belajar, pekerjaan, dan hubungan sosial di lingkungan akademis.

Dalam sesi bertajuk “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Changes”, pemateri Dwiana Fajriati Dewi menegaskan pentingnya mengubah cara pandang institusi dan individu terhadap kesehatan mental.

Menurutnya, kesehatan mental harus dipahami sebagai sebuah kontinum atau rentang kondisi yang dapat bergeser dari kurang baik menuju lebih stabil.

BACA JUGA:  PWI dan IKWI Sulsel Semarakkan HUT RI ke-81, Ada Lomba Tekan Balon Suami-Istri

“Memahami perubahan kondisi psikologis ini sangat penting untuk membantu seseorang mengenali kebutuhan dirinya. Hal ini sekaligus meruntuhkan stigma bahwa isu kesehatan mental hanya perlu dibicarakan saat seseorang berada dalam kondisi krisis,” ujar Dwiana.

Ia menjelaskan bahwa intervensi dan perawatan mental tidak selalu harus menunggu kondisi memburuk, melainkan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari seperti menjaga pola tidur, asupan nutrisi, serta melatih pola bicara pada diri sendiri (self-talk) yang lebih suportif.

“Penerimaan diri, kemandirian dalam menentukan pilihan, pertumbuhan pribadi, dan tujuan hidup merupakan bagian dari kesejahteraan psikologis yang perlu dipelihara secara konsisten di lingkungan kampus,” tambahnya.

Sementara itu, pada sesi Art Therapy and Screening Session, pemateri Syafirah Nadhrah Mustamin mengingatkan bahwa perasaan cemas, takut, ragu, maupun sedih adalah bagian dari pengalaman emosional manusia yang wajar dan perlu divalidasi, bukan diabaikan. Untuk menjaga kestabilan psikologis di tengah padatnya dinamika perkuliahan dan pekerjaan, ia membagikan formula praktis pengelolaan fokus harian.

BACA JUGA:  Keributan di Jalan Borong Jambu Makassar Resahkan Warga, Dipicu Pesta Ballo

“Sebagai cara membagi perhatian dan menjaga keseimbangan emosi, gunakan porsi 60 persen untuk menjalani masa kini, 20 persen untuk merencanakan masa depan, dan 20 persen untuk mengambil pelajaran dari masa lalu,” terang Syafirah.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Unhas berkomitmen tidak hanya menjadi ruang penempaan akademis, tetapi juga menciptakan ekosistem kampus yang aman (safe space) dan inklusif.

Penyediaan fasilitas screening awal dan edukasi berkelanjutan diharapkan dapat mendorong civitas akademika untuk berani mengungkapkan kesulitan serta mengakses bantuan profesional secara tepat waktu.

 

Komitmen ini diwujudkan melalui peringatan Mental Health Day 2026 yang diisi dengan Sharing Session, Art Therapy, dan Screening Session di Makassar, Sabtu (10/10/2026).

Merujuk studi dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry (2022) yang melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis pada populasi mahasiswa, gejala depresi dan kecemasan cukup marak ditemukan.

Data ini menjadi pengingat serius bagi pengelola perguruan tinggi bahwa tantangan psikologis yang dihadapi mahasiswa maupun beban kerja dosen dan tenaga kependidikan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Mengutip panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental didefinisikan sebagai kesejahteraan yang membantu individu menghadapi tekanan, berkembang, serta berkontribusi bagi komunitasnya.

Artinya, kondisi psikologis berdampak langsung pada produktivitas belajar, pekerjaan, dan hubungan sosial di lingkungan akademis.

Dalam sesi bertajuk “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Changes”, pemateri Dwiana Fajriati Dewi menegaskan pentingnya mengubah cara pandang institusi dan individu terhadap kesehatan mental.

Menurutnya, kesehatan mental harus dipahami sebagai sebuah kontinum atau rentang kondisi yang dapat bergeser dari kurang baik menuju lebih stabil.

BACA JUGA:  Tolak Aturan Ganjil-Genap BBM, Ratusan Pengemudi Ojol Gelar Aksi di DPRD Sulsel

“Memahami perubahan kondisi psikologis ini sangat penting untuk membantu seseorang mengenali kebutuhan dirinya. Hal ini sekaligus meruntuhkan stigma bahwa isu kesehatan mental hanya perlu dibicarakan saat seseorang berada dalam kondisi krisis,” ujar Dwiana.

Ia menjelaskan bahwa intervensi dan perawatan mental tidak selalu harus menunggu kondisi memburuk, melainkan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari seperti menjaga pola tidur, asupan nutrisi, serta melatih pola bicara pada diri sendiri (self-talk) yang lebih suportif.

“Penerimaan diri, kemandirian dalam menentukan pilihan, pertumbuhan pribadi, dan tujuan hidup merupakan bagian dari kesejahteraan psikologis yang perlu dipelihara secara konsisten di lingkungan kampus,” tambahnya.

Sementara itu, pada sesi Art Therapy and Screening Session, pemateri Syafirah Nadhrah Mustamin mengingatkan bahwa perasaan cemas, takut, ragu, maupun sedih adalah bagian dari pengalaman emosional manusia yang wajar dan perlu divalidasi, bukan diabaikan. Untuk menjaga kestabilan psikologis di tengah padatnya dinamika perkuliahan dan pekerjaan, ia membagikan formula praktis pengelolaan fokus harian.

BACA JUGA:  Detik-detik Suami Habisi Istri yang Sedang Main HP

“Sebagai cara membagi perhatian dan menjaga keseimbangan emosi, gunakan porsi 60 persen untuk menjalani masa kini, 20 persen untuk merencanakan masa depan, dan 20 persen untuk mengambil pelajaran dari masa lalu,” terang Syafirah.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Unhas berkomitmen tidak hanya menjadi ruang penempaan akademis, tetapi juga menciptakan ekosistem kampus yang aman (safe space) dan inklusif.

Penyediaan fasilitas screening awal dan edukasi berkelanjutan diharapkan dapat mendorong civitas akademika untuk berani mengungkapkan kesulitan serta mengakses bantuan profesional secara tepat waktu.

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru