Categories: News

Siapa Dudung Abdurachman, Loper Koran, Bergelar Jenderal Baliho, Jadi KSAD dan Kini Menko Polkam

SulawesiPos.com – Dudung Abdurachman merupakan jenderal purnawirawan TNI Angkatan Darat yang kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (1/10/2026).

Penunjukan itu menjadi babak baru dalam perjalanan seorang anak Bandung yang pernah menjadi loper koran sebelum mencapai jabatan militer tertinggi sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Dudung tidak langsung berada di lingkaran elite militer. Ia tumbuh melalui masa remaja yang penuh tanggung jawab keluarga, menempuh pendidikan militer, bertugas di wilayah operasi, memimpin satuan teritorial dan strategis, lalu masuk ke pemerintahan setelah pensiun dari dinas aktif.

Dudung lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 19 November 1965.

Ayahnya meninggal dunia pada 1981 ketika Dudung masih duduk di bangku SMP. Kepergian sang ayah membuat Dudung ikut membantu ibunya mencari nafkah.

Saat itu, ia bekerja sebagai loper koran. Setiap hari Dudung disebut bangun sekitar pukul 04.00 WIB, mengantar koran ke rumah pelanggan dengan mengayuh sepeda, lalu membantu ibunya menjajakan kue klepon di lingkungan Bekangdam III/Siliwangi.

Ia memilih bersekolah pada siang hari agar tetap dapat membantu ibunya pada pagi hari. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari kisah hidup Dudung karena berlangsung jauh sebelum ia dikenal sebagai jenderal bintang empat.

Dudung menempuh pendidikan di SDN Patrakomala Bandung pada 1972–1979, kemudian SMP Kartika XIX-1 Bandung hingga 1982.

Ia melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 9 Bandung dan lulus pada 1985. Setelah itu, Dudung diterima di Akademi Militer Magelang dan menyelesaikan pendidikan pada 1988 dari kecabangan infanteri.

Setelah lulus Akmil dengan pangkat Letnan Dua, ia pertama kali ditugaskan ke Dili, Timor Timur, pada 1988. Penugasan itu menjadi awal perjalanan panjangnya sebagai perwira TNI Angkatan Darat.

Jejak Karier di TNI Angkatan Darat

Dudung mengawali pengalaman kepemimpinannya melalui berbagai jabatan di lingkungan TNI AD. Ia antara lain pernah menjadi Asisten Personel Kasdam VII/Wirabuana pada 2010 dan Komandan Resimen Induk Kodam II/Sriwijaya.

Kariernya berlanjut sebagai Wakil Gubernur Akademi Militer pada 2015 hingga 2016. Ia kemudian dipercaya menjadi staf khusus KSAD dan Wakil Asisten Teritorial KSAD.

Pada 2018, Dudung diangkat menjadi Gubernur Akademi Militer. Jabatan itu mempertemukannya dengan tugas membentuk calon-calon perwira TNI sekaligus mengelola lembaga pendidikan utama bagi taruna.

Pada 27 Juli 2020, Dudung dipercaya memimpin Kodam Jaya sebagai Pangdam Jaya. Jabatan tersebut membuat namanya semakin dikenal publik karena ia menghadapi persoalan keamanan, ketertiban, dan dinamika sosial di Ibu Kota.

Pada Mei 2021, Dudung diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat atau Pangkostrad. Beberapa bulan kemudian, pada 17 November 2021, ia dilantik menjadi KSAD menggantikan Jenderal Andika Perkasa.

Sebagai KSAD, Dudung menjabat hingga 2023 sebelum memasuki masa purnawirawan. Setelah itu, ia kembali mendapat kepercayaan di pemerintahan dan ditunjuk sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional pada 21 Oktober 2024.

Pada 27 April 2026, Presiden Prabowo melantiknya sebagai Kepala KSP menggantikan Muhammad Qodari. Jabatan tersebut menempatkan Dudung pada posisi yang berhubungan dengan pengelolaan isu strategis dan koordinasi kerja pemerintahan di lingkungan kepresidenan.

Kini, ia menjabat Menko Polkam di Kabinet Merah Putih setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026.

Momen yang Membentuk Citra Dudung

Salah satu momen paling menonjol dalam karier Dudung terjadi ketika ia menjabat Pangdam Jaya pada 2020. Ia memerintahkan penurunan baliho dan spanduk bergambar Rizieq Shihab yang dinilai tidak sesuai ketentuan dan berpotensi menimbulkan keresahan.

“Saya katakan itu perintah saya. Dan ini akan saya bersihkan semua, tidak ada itu baliho yang mengajak revolusi dan segala macam,” ujar Dudung dalam pemberitaan saat itu.

Pangdam Jaya juga menyatakan penertiban dilakukan setelah proses sebelumnya melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja dan Polri. Ketika itu sebanyak 338 baliho telah diturunkan dalam kurun sekitar dua bulan.

Sikapnya terhadap kelompok yang dianggap melanggar aturan membuat Dudung dikenal sebagai perwira yang tegas. Namun, pernyataan dan langkah tersebut juga menjadi bagian dari perdebatan publik mengenai batas kewenangan, penegakan aturan, dan peran aparat di ruang sipil.

Pada 2021, Dudung kembali mendapat perhatian setelah meminta Polda Metro Jaya menindak tegas debt collector yang meneror warga. Ia menyatakan TNI AD bersama kepolisian akan berdiri di depan untuk membantu masyarakat yang menghadapi tindakan premanisme.

Pernyataan itu muncul setelah kasus pengepungan dan penganiayaan terhadap Serda Nurhadi oleh sejumlah debt collector. Dudung bahkan membuka saluran komunikasi langsung agar masyarakat dapat melaporkan gangguan keamanan yang mereka alami.

Pengalaman Menarik di Timor dan Papua

Pengalaman Dudung di Timor Timur menjadi salah satu bagian menarik dalam perjalanan militernya. Ketika berkunjung ke Nusa Tenggara Timur sebagai KSAD pada 2022, ia berdialog dengan veteran dan warga eks Timor Timur menggunakan bahasa Tetum.

“Namamu siapa, tinggal di mana, pangkatmu apa?” kata Dudung saat menyapa warga dalam bahasa Tetum.

Kemampuan itu mengejutkan Gubernur NTT saat itu, Viktor B Laiskodat, yang mendampinginya. Sejumlah veteran juga mengaku masih mengenali Dudung dan mengingat kebaikannya ketika ia menjadi perwira remaja di Batalion Infanteri 744/SYB di Dili.

Dalam perjalanan tugasnya, Dudung juga pernah menghadapi persoalan serius di Papua. Saat menjabat KSAD, ia bersama Panglima TNI menangani proses penindakan dan evaluasi terkait kasus mutilasi warga sipil di Mimika yang melibatkan prajurit TNI.

Kasus tersebut mendapat perhatian karena TNI AD menetapkan enam prajurit sebagai tersangka. Pengamat dari Center for Intermestic and Diplomatic Engagement menilai langkah cepat pimpinan TNI dalam menangani perkara itu patut diapresiasi, meski tetap diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan personel dan persenjataan.

Peran Setelah Pensiun

Setelah tidak lagi berdinas aktif, Dudung tetap terlibat dalam kegiatan kebangsaan dan organisasi alumni.

Pada 2025, ia terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Lemhannas untuk masa bakti 2025–2030 melalui Musyawarah Nasional IKAL Lemhannas.

Dalam sambutan pertamanya sebagai ketua umum, Dudung menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menjadikan IKAL sebagai rumah besar bagi seluruh alumni Lemhannas.

Posisi tersebut memperpanjang pengabdiannya di luar struktur komando TNI. Dudung tidak hanya membawa pengalaman militer, tetapi juga pengalaman mengelola organisasi, isu pertahanan, dan ketahanan nasional.

Dalam kehidupan pribadi, Dudung menikah dengan Rahma Setyaningsih dan memiliki tiga anak. Informasi publik mengenai keluarganya tidak sebanyak rekam jejak tugas dan jabatannya di TNI serta pemerintahan.

Perjalanan Dudung memperlihatkan perubahan peran yang panjang: dari remaja yang mengantar koran dan menjual klepon, prajurit infanteri yang bertugas di Dili, perwira yang memimpin Akmil dan Kodam Jaya, KSAD, penasihat presiden, hingga Kepala KSP dan kini jadi Menko Polkam.

Profil Dudung Abdurachman

• Nama: Dudung Abdurachman.
• Nama yang juga muncul dalam sebagian pemberitaan: Dudung Abdurrahman.
• Tempat, tanggal lahir: Bandung, 19 November 1965.
• Status: Purnawirawan TNI Angkatan Darat.
• Pangkat terakhir: Jenderal TNI.
• Jabatan saat ini: Menteri Luar Negeri RI sejak 1 Oktober 2026.
• Jabatan sebelumnya: Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional.
• Jabatan militer utama: KSAD, Pangkostrad, Pangdam Jaya, Gubernur Akmil, Wakil Gubernur Akmil, Wakil Asisten Teritorial KSAD, dan Komandan Rindam II/Sriwijaya.
• Pendidikan dasar: SDN Patrakomala Bandung.
• Pendidikan menengah: SMP Kartika XIX-1 Bandung dan SMA Negeri 9 Bandung.
• Pendidikan militer: Akademi Militer Magelang, lulusan 1988.
• Kecabangan: Infanteri.
• Penugasan awal: Dili, Timor Timur, pada 1988.
• Pengalaman menarik: pernah menjadi loper koran dan penjual klepon saat remaja.
• Pengalaman lapangan: berdialog menggunakan bahasa Tetum dengan warga dan veteran Timor Timur.
• Organisasi: Ketua Umum IKAL Lemhannas periode 2025–2030.
• Keluarga: menikah dengan Rahma Setyaningsih dan memiliki tiga anak.*

Andi As

Share
Published by
Andi As
Tags: Dudung Abdurachman KSAD Menko Polkam Pangdam Jaya Profil Tokoh TNI AD