Tambang Emas di Afrika Tengah Longsor, Lebih 100 Orang Tewas

SulawesiPos.com – Lebih dari 100 orang dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya masih tertimbun setelah tanah longsor meruntuhkan tambang emas rakyat di Desa Zamboye, Prefektur Nana-Mambéré, Republik Afrika Tengah, dekat perbatasan Kamerun, pada Selasa (18/8/2026), ketika para penambang sedang bekerja di dalam terowongan bawah tanah dengan perlindungan keselamatan yang sangat terbatas.

Tragedi tersebut diberitakan Reuters pada 20 Agustus 2026 mengonfirmasi skala korban berdasarkan keterangan relawan Palang Merah, pejabat daerah, pekerja tambang, dan organisasi pertambangan setempat.

Gervais Ganagoroh, relawan Palang Merah yang terlibat dalam operasi pertolongan, mengatakan lebih dari 100 jenazah telah dikeluarkan dari timbunan tanah, sementara pejabat pertambangan setempat memberikan angka korban yang hampir sama kepada Reuters.

Wali Kota Garoua-Boulaï, Adamou Abdon, menyebut sedikitnya 107 jenazah telah ditemukan, tetapi angka tersebut belum ditetapkan sebagai jumlah resmi karena pencarian, identifikasi korban, dan pendataan orang hilang masih berlangsung.

Lokasi bencana berada di wilayah Republik Afrika Tengah, sekitar 50 kilometer dari Kota Baboua dan hanya beberapa kilometer dari Garoua-Boulaï di Kamerun timur, sehingga penyebutan peristiwa ini sebagai “runtuhnya tambang di Kamerun” dalam sebagian pemberitaan merupakan kekeliruan geografis.

Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan sebagian lereng dan lapisan tanah di kawasan tambang runtuh seperti gelombang besar, lalu menimbun orang-orang yang sedang berada di dalam maupun di sekitar lubang penambangan.

BACA JUGA:  Tambang Emas Ilegal di Batu Putih Jayapura Longsor, Satu Penambang Tertimbun

Terowongan Ambruk, Tanah Mengubur Penambang

Kejaksaan Baboua menduga longsor dipicu oleh runtuhnya sejumlah terowongan bawah tanah tempat para penambang bekerja, tetapi penyebab teknis dan kemungkinan kelalaian pengelola masih diselidiki.

Penambang bernama Cédric Mbango menggambarkan bencana itu sebagai peristiwa katastrofik karena permukaan tanah runtuh sepenuhnya dan mengubur para pekerja, sementara sebagian korban diyakini masih berada di bawah timbunan.

Operasi pencarian melibatkan relawan, warga, aparat setempat, dan alat berat, tetapi penggunaan traktor di atas lapisan tanah yang tidak stabil dikhawatirkan dapat memperbesar tekanan terhadap rongga bawah tanah serta membahayakan korban yang mungkin masih hidup.

Bertrand Be Yangué dari Dewan Pemuda Zamboye mengatakan peluang menemukan korban dalam keadaan hidup semakin kecil karena jumlah orang yang berada di lokasi ketika longsor terjadi belum diketahui secara pasti.

Sejumlah korban selamat yang mengalami luka berat dievakuasi ke rumah sakit di Baboua, sedangkan pemerintah Republik Afrika Tengah menyatakan sedang menyalurkan pertolongan kepada korban dan keluarga terdampak.

Sedikitnya tiga warga Kamerun dilaporkan termasuk di antara korban, sehingga pemerintah Kamerun bekerja sama dengan pihak Republik Afrika Tengah untuk mengidentifikasi jenazah, memulangkan korban, dan menangani warga yang terluka.

BACA JUGA:  Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Baru Korupsi Tambang AKT, Desakan Ungkap Aktor Utama Menguat

Pemerintah daerah Kamerun timur juga menyiapkan proses pemulangan jenazah bagi keluarga korban, sementara koordinasi lintas perbatasan terus dilakukan karena penambang di Zamboye berasal dari kedua negara.

Kemiskinan di Balik Kilauan Emas

Bencana Zamboye memperlihatkan paradoks pertambangan rakyat di Afrika, yakni kekayaan mineral yang besar berdampingan dengan kemiskinan, pengangguran, lemahnya pengawasan negara, dan tingginya risiko kematian para pekerja.

Organisasi Perburuhan Internasional memperkirakan pertambangan rakyat dan skala kecil menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 40 juta orang di berbagai wilayah miskin dunia, tetapi banyak pekerjanya menghadapi terowongan tidak bertopang, longsor, debu beracun, paparan bahan kimia, minimnya alat pelindung, dan ketiadaan layanan kesehatan memadai.

Bank Dunia juga menilai komunitas pertambangan rakyat sangat rentan karena bekerja dalam kondisi tidak menentu, memiliki akses kesehatan terbatas, menghadapi penyakit pernapasan, serta sering beroperasi di wilayah dengan pengawasan pemerintah yang lemah.

Di Republik Afrika Tengah, ribuan orang menggantungkan hidup pada penambangan emas dan berlian skala kecil, tetapi banyak lokasi beroperasi tanpa izin, tanpa data pekerja yang akurat, dan di luar sistem perdagangan resmi.

Validasi Extractive Industries Transparency Initiative pada 2024 menemukan kelemahan serius dalam pencatatan pertambangan informal, data tenaga kerja, penerimaan negara, serta pengelolaan dampak lingkungan sektor ekstraktif Republik Afrika Tengah.

BACA JUGA:  BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Sulsel 13–15 Januari, Waspada Hujan Lebat Hingga Potensi Banjir

Tragedi Zamboye bukan peristiwa tunggal karena keruntuhan tambang Be-Mbari di kawasan perbatasan yang sama menewaskan puluhan orang pada Juni 2026, longsor di Ngourroum menewaskan tujuh orang pada Maret, dan kecelakaan di Gordi merenggut sekitar 20 nyawa pada Februari.

Investigasi Harus Menembus Akar Persoalan

Kejaksaan Baboua telah membuka penyelidikan untuk menentukan penyebab longsor, mengidentifikasi para korban dan pengelola lokasi, serta menilai kemungkinan adanya tanggung jawab pidana dalam pengoperasian tambang tersebut.

Penyelidikan itu perlu menjangkau lebih jauh daripada penyebab geologis dengan memeriksa izin operasi, konstruksi terowongan, sistem drainase, kondisi tanah, pengawasan keselamatan, penggunaan alat berat, pencatatan pekerja, dan pihak yang memperoleh keuntungan dari perdagangan emas.

Pencegahan tragedi serupa membutuhkan formalisasi pertambangan rakyat, inspeksi rutin, pemetaan geologi, penyangga terowongan, sistem peringatan longsor, pelatihan penyelamatan, alat pelindung, akses layanan kesehatan, serta jalur perdagangan emas yang transparan dan bertanggung jawab.

Kilauan emas Zamboye akhirnya memperlihatkan harga kemanusiaan yang mengerikan ketika sumber daya alam ditambang tanpa keselamatan memadai, sementara para pemuda dan perempuan miskin mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan keluarga mereka dari keputusasaan. (Ali)

SulawesiPos.com – Lebih dari 100 orang dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya masih tertimbun setelah tanah longsor meruntuhkan tambang emas rakyat di Desa Zamboye, Prefektur Nana-Mambéré, Republik Afrika Tengah, dekat perbatasan Kamerun, pada Selasa (18/8/2026), ketika para penambang sedang bekerja di dalam terowongan bawah tanah dengan perlindungan keselamatan yang sangat terbatas.

Tragedi tersebut diberitakan Reuters pada 20 Agustus 2026 mengonfirmasi skala korban berdasarkan keterangan relawan Palang Merah, pejabat daerah, pekerja tambang, dan organisasi pertambangan setempat.

Gervais Ganagoroh, relawan Palang Merah yang terlibat dalam operasi pertolongan, mengatakan lebih dari 100 jenazah telah dikeluarkan dari timbunan tanah, sementara pejabat pertambangan setempat memberikan angka korban yang hampir sama kepada Reuters.

Wali Kota Garoua-Boulaï, Adamou Abdon, menyebut sedikitnya 107 jenazah telah ditemukan, tetapi angka tersebut belum ditetapkan sebagai jumlah resmi karena pencarian, identifikasi korban, dan pendataan orang hilang masih berlangsung.

Lokasi bencana berada di wilayah Republik Afrika Tengah, sekitar 50 kilometer dari Kota Baboua dan hanya beberapa kilometer dari Garoua-Boulaï di Kamerun timur, sehingga penyebutan peristiwa ini sebagai “runtuhnya tambang di Kamerun” dalam sebagian pemberitaan merupakan kekeliruan geografis.

Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan sebagian lereng dan lapisan tanah di kawasan tambang runtuh seperti gelombang besar, lalu menimbun orang-orang yang sedang berada di dalam maupun di sekitar lubang penambangan.

BACA JUGA:  Kasus Tambang Emas Ilegal Kalbar Rp25,8 Triliun, Toko di Nganjuk Jadi Lokasi Penggeledahan

Terowongan Ambruk, Tanah Mengubur Penambang

Kejaksaan Baboua menduga longsor dipicu oleh runtuhnya sejumlah terowongan bawah tanah tempat para penambang bekerja, tetapi penyebab teknis dan kemungkinan kelalaian pengelola masih diselidiki.

Penambang bernama Cédric Mbango menggambarkan bencana itu sebagai peristiwa katastrofik karena permukaan tanah runtuh sepenuhnya dan mengubur para pekerja, sementara sebagian korban diyakini masih berada di bawah timbunan.

Operasi pencarian melibatkan relawan, warga, aparat setempat, dan alat berat, tetapi penggunaan traktor di atas lapisan tanah yang tidak stabil dikhawatirkan dapat memperbesar tekanan terhadap rongga bawah tanah serta membahayakan korban yang mungkin masih hidup.

Bertrand Be Yangué dari Dewan Pemuda Zamboye mengatakan peluang menemukan korban dalam keadaan hidup semakin kecil karena jumlah orang yang berada di lokasi ketika longsor terjadi belum diketahui secara pasti.

Sejumlah korban selamat yang mengalami luka berat dievakuasi ke rumah sakit di Baboua, sedangkan pemerintah Republik Afrika Tengah menyatakan sedang menyalurkan pertolongan kepada korban dan keluarga terdampak.

Sedikitnya tiga warga Kamerun dilaporkan termasuk di antara korban, sehingga pemerintah Kamerun bekerja sama dengan pihak Republik Afrika Tengah untuk mengidentifikasi jenazah, memulangkan korban, dan menangani warga yang terluka.

BACA JUGA:  BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Sulsel 13–15 Januari, Waspada Hujan Lebat Hingga Potensi Banjir

Pemerintah daerah Kamerun timur juga menyiapkan proses pemulangan jenazah bagi keluarga korban, sementara koordinasi lintas perbatasan terus dilakukan karena penambang di Zamboye berasal dari kedua negara.

Kemiskinan di Balik Kilauan Emas

Bencana Zamboye memperlihatkan paradoks pertambangan rakyat di Afrika, yakni kekayaan mineral yang besar berdampingan dengan kemiskinan, pengangguran, lemahnya pengawasan negara, dan tingginya risiko kematian para pekerja.

Organisasi Perburuhan Internasional memperkirakan pertambangan rakyat dan skala kecil menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 40 juta orang di berbagai wilayah miskin dunia, tetapi banyak pekerjanya menghadapi terowongan tidak bertopang, longsor, debu beracun, paparan bahan kimia, minimnya alat pelindung, dan ketiadaan layanan kesehatan memadai.

Bank Dunia juga menilai komunitas pertambangan rakyat sangat rentan karena bekerja dalam kondisi tidak menentu, memiliki akses kesehatan terbatas, menghadapi penyakit pernapasan, serta sering beroperasi di wilayah dengan pengawasan pemerintah yang lemah.

Di Republik Afrika Tengah, ribuan orang menggantungkan hidup pada penambangan emas dan berlian skala kecil, tetapi banyak lokasi beroperasi tanpa izin, tanpa data pekerja yang akurat, dan di luar sistem perdagangan resmi.

Validasi Extractive Industries Transparency Initiative pada 2024 menemukan kelemahan serius dalam pencatatan pertambangan informal, data tenaga kerja, penerimaan negara, serta pengelolaan dampak lingkungan sektor ekstraktif Republik Afrika Tengah.

BACA JUGA:  Tambang Emas Ilegal di Batu Putih Jayapura Longsor, Satu Penambang Tertimbun

Tragedi Zamboye bukan peristiwa tunggal karena keruntuhan tambang Be-Mbari di kawasan perbatasan yang sama menewaskan puluhan orang pada Juni 2026, longsor di Ngourroum menewaskan tujuh orang pada Maret, dan kecelakaan di Gordi merenggut sekitar 20 nyawa pada Februari.

Investigasi Harus Menembus Akar Persoalan

Kejaksaan Baboua telah membuka penyelidikan untuk menentukan penyebab longsor, mengidentifikasi para korban dan pengelola lokasi, serta menilai kemungkinan adanya tanggung jawab pidana dalam pengoperasian tambang tersebut.

Penyelidikan itu perlu menjangkau lebih jauh daripada penyebab geologis dengan memeriksa izin operasi, konstruksi terowongan, sistem drainase, kondisi tanah, pengawasan keselamatan, penggunaan alat berat, pencatatan pekerja, dan pihak yang memperoleh keuntungan dari perdagangan emas.

Pencegahan tragedi serupa membutuhkan formalisasi pertambangan rakyat, inspeksi rutin, pemetaan geologi, penyangga terowongan, sistem peringatan longsor, pelatihan penyelamatan, alat pelindung, akses layanan kesehatan, serta jalur perdagangan emas yang transparan dan bertanggung jawab.

Kilauan emas Zamboye akhirnya memperlihatkan harga kemanusiaan yang mengerikan ketika sumber daya alam ditambang tanpa keselamatan memadai, sementara para pemuda dan perempuan miskin mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan keluarga mereka dari keputusasaan. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru