Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan bahwa kenaikan harga CPO di pasar global menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan nilai ekspor Indonesia sepanjang semester pertama 2026.
Secara nasional, total ekspor Indonesia pada Januari–Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar, meningkat 4,13 persen, sedangkan ekspor nonmigas tumbuh 4,90 persen menjadi US$134,58 miliar.
Kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), termasuk CPO beserta produk turunannya, menjadi salah satu kontributor terbesar pertumbuhan ekspor nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari strategi pembangunan pertanian yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produksi, modernisasi budidaya, penguatan hilirisasi hingga pembukaan akses pasar ekspor.
“Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. Produksi kita naik, ekspor meningkat tajam, impor kita tekan. Artinya, fondasi pertanian kita semakin kuat dan semakin mandiri,” ujar Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, penguatan perdagangan internasional tidak terlepas dari meningkatnya produksi nasional yang mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menghasilkan surplus untuk diekspor.
Pada saat yang sama, pemerintah terus mendorong hilirisasi komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, rempah-rempah, serta berbagai produk pertanian bernilai tambah agar devisa yang diperoleh semakin besar.
Keberhasilan tersebut juga berjalan beriringan dengan meningkatnya indikator fundamental sektor pertanian. Total kenaikan pendapatan mencapai Rp437,25 triliun yang berasal dari peningkatan produksi padi, jagung, komoditas non-pangan, serta kontribusi ekspor.
Bahkan, dari sisi efisiensi devisa, Indonesia berhasil menghemat impor hingga Rp34 triliun, produksi beras naik 4,07 juta ton atau 13,29 persen, sementara Cadangan Beras Pemerintah mencapai sekitar 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Selain itu, kesejahteraan petani juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 127,84, tertinggi dalam lebih dari tiga dekade, sedangkan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh 5,74 persen, menjadi yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa penguatan ekspor bukan hanya meningkatkan devisa negara, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperkuat hilirisasi sebagai strategi utama peningkatan daya saing ekspor Indonesia.
“Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80 persen produksi CPO dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia,” ujar Mentan.
Ke depan, prospek perdagangan sektor pertanian diperkirakan masih akan terus menguat. Peningkatan produksi nasional, modernisasi pertanian, deregulasi kebijakan, penguatan hilirisasi, serta perluasan akses pasar internasional diyakini akan menjaga tren ekspor tetap meningkat sekaligus menekan impor.
Dengan kualifikasi logis tersebut, sektor pertanian tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan nasional, tetapi juga semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama perdagangan pertanian dunia.

