Gempa NTT M7,7 dan Peringatan Tsunami, Warga Flores Berlari ke Tempat Aman

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan kondisi muka air laut sudah tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan dan membahayakan masyarakat di wilayah pesisir terdampak.

“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly Florida Riama di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8).

Namun, berakhirnya peringatan tsunami tidak berarti masyarakat dapat mengabaikan risiko gempa susulan.

Nelly kembali mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak memiliki dasar.

“Peringatan dini tsunami sudah dinyatakan berakhir, namun gempa susulan masih terus terjadi. Kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab, serta selalu memperbarui informasi dari saluran resmi BMKG,” tutur Nelly.

Gempa Susulan Membuat Warga Belum Bisa Sepenuhnya Tenang

BMKG mencatat aktivitas gempa susulan terus terjadi setelah gempa utama.

Hingga pukul 14.00 WIB, tercatat 235 gempa susulan dengan magnitudo antara M2,5 hingga M6,2.

BACA JUGA:  BMKG: Tsunami 0,54 Meter Terdeteksi di Bulukumba, Selayar-Bantaeng-Jeneponto Siaga

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan aktivitas gempa susulan masih membutuhkan waktu untuk kembali normal.

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Teuku Faisal Fathani.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa setelah peringatan tsunami berakhir, masyarakat masih harus menghadapi fase gempa susulan.

Di Balik Evakuasi, Ada Ketakutan Warga

Bagi warga Flores, peristiwa tersebut bukan hanya persoalan angka magnitudo atau ketinggian gelombang tsunami.

Ada warga yang harus meninggalkan rumah, mencari tempat aman, menunggu informasi keluarga dan memastikan bangunan yang ditinggalkan tidak kembali membahayakan ketika gempa susulan terjadi.

BNPB dalam pembaruan situasi pukul 18.48 WIB mencatat 47 orang meninggal dunia.

Ratusan rumah juga mengalami kerusakan dengan 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang dan 148 rusak ringan berdasarkan data sementara.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB Berton SP Panjaitan sebelumnya menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama dalam penanganan pascagempa.

BACA JUGA:  18 Kelurahan di Makassar Dilanda Krisis Air Bersih, Puluhan Ribu Warga Terdampak

“Prioritas utama BNPB saat ini adalah memastikan keselamatan masyarakat serta mencegah adanya korban tambahan dari bahaya pascagempa.”

Gempa NTT M7,7 dengan demikian meninggalkan pengalaman yang berbeda bagi masyarakat Flores.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan kondisi muka air laut sudah tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan dan membahayakan masyarakat di wilayah pesisir terdampak.

“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly Florida Riama di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8).

Namun, berakhirnya peringatan tsunami tidak berarti masyarakat dapat mengabaikan risiko gempa susulan.

Nelly kembali mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak memiliki dasar.

“Peringatan dini tsunami sudah dinyatakan berakhir, namun gempa susulan masih terus terjadi. Kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab, serta selalu memperbarui informasi dari saluran resmi BMKG,” tutur Nelly.

Gempa Susulan Membuat Warga Belum Bisa Sepenuhnya Tenang

BMKG mencatat aktivitas gempa susulan terus terjadi setelah gempa utama.

Hingga pukul 14.00 WIB, tercatat 235 gempa susulan dengan magnitudo antara M2,5 hingga M6,2.

BACA JUGA:  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Takziah ke Rumah Siswa SD di Ngada, Soroti Pentingnya Ketahanan Keluarga

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan aktivitas gempa susulan masih membutuhkan waktu untuk kembali normal.

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Teuku Faisal Fathani.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa setelah peringatan tsunami berakhir, masyarakat masih harus menghadapi fase gempa susulan.

Di Balik Evakuasi, Ada Ketakutan Warga

Bagi warga Flores, peristiwa tersebut bukan hanya persoalan angka magnitudo atau ketinggian gelombang tsunami.

Ada warga yang harus meninggalkan rumah, mencari tempat aman, menunggu informasi keluarga dan memastikan bangunan yang ditinggalkan tidak kembali membahayakan ketika gempa susulan terjadi.

BNPB dalam pembaruan situasi pukul 18.48 WIB mencatat 47 orang meninggal dunia.

Ratusan rumah juga mengalami kerusakan dengan 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang dan 148 rusak ringan berdasarkan data sementara.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB Berton SP Panjaitan sebelumnya menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama dalam penanganan pascagempa.

BACA JUGA:  Gempa M7,7 Guncang NTT, BMKG Sebut Dipicu Sesar Naik Busur Belakang Flores

“Prioritas utama BNPB saat ini adalah memastikan keselamatan masyarakat serta mencegah adanya korban tambahan dari bahaya pascagempa.”

Gempa NTT M7,7 dengan demikian meninggalkan pengalaman yang berbeda bagi masyarakat Flores.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru