Tanpa ragu, Mutahar meminjam orkes keraton dan memimpin permainan musik dengan penuh gelora sambil menaiki sebuah meja reot di Yogyakarta yang saat itu masih berada dalam situasi revolusi perang.
Ketika lagu tersebut diperdengarkan dalam upacara resmi 17 Agustus, Presiden Sukarno merasa sangat gembira dan memuji kepiawaian Mutahar.
Makna dari lagu ini sangat erat kaitannya dengan kebangkitan jiwa rakyat Indonesia setelah berhasil merebut kedaulatan.
Diksi yang tegas seperti “Sekali merdeka tetap merdeka” dan “Selama hayat masih dikandung badan” dirancang khusus untuk membakar semangat patriotisme agar masyarakat tidak pernah surut dalam membela nusa dan bangsa.
Menariknya, setahun sebelum menciptakan “Hari Merdeka”, H. Mutahar juga melahirkan lagu nasional legendaris berjudul “Syukur”.
Lagu tersebut lahir dari kepedihan mendalam ketika ia menyaksikan warga Semarang terpaksa memakan bekicot demi bertahan hidup di bawah pendudukan kejam Jepang.
Dengan berlinang air mata di kelas musik, ia menorehkan bait syahdu: “Dari yakinku teguh, Hati ikhlasku penuh…”
Mari terus kobarkan semangat nasionalisme demi menjaga keutuhan dan kejayaan Republik Indonesia tercinta!

