SulawesiPos.com – Ketika rudal-rudal Iran meluncur ke wilayah Israel pada akhir pekan lalu, dunia melihatnya sebagai eskalasi militer terbaru di Timur Tengah.
Namun di balik dentuman rudal tersebut, Teheran justru menjalankan operasi diplomasi besar-besaran yang melibatkan Turki, Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Prancis, Irak, hingga Inggris.
Langkah ganda Iran—menggabungkan respons militer dan diplomasi intensif—menunjukkan bahwa konflik terbaru di kawasan tidak semata-mata soal keamanan, tetapi juga menyangkut pertarungan pengaruh geopolitik, stabilitas energi, dan masa depan tatanan ekonomi regional.
Berdasarkan laporan Press TV yang dipublikasikan Minggu (7/6/2026), Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi melakukan serangkaian komunikasi dengan para pejabat tinggi dari Turki, Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Prancis, Irak, dan Inggris setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel.
Iran menegaskan bahwa serangan rudal yang dilancarkannya merupakan respons terhadap pelanggaran berulang gencatan senjata di Lebanon oleh Israel.
Dalam pandangan Teheran, pelanggaran di satu wilayah tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan kesepakatan sehingga harus direspons secara tegas.
Namun bagi Rhin Khairina Rahmat, S.IP., M.A., Peneliti Ekonomi Politik Internasional Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, perkembangan ini harus dibaca lebih luas daripada sekadar dimensi militer.

“Apa yang dilakukan Iran saat ini menunjukkan bahwa kekuatan militer dan diplomasi bukanlah dua instrumen yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari strategi yang sama. Iran ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan mempertahankan kepentingan strategisnya, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga ruang dialog dengan negara-negara kunci di kawasan maupun di luar kawasan,” ujar Rhin kepada SulawesiPos.com, Senin (8/6).
Menurutnya, dalam perspektif ekonomi politik internasional, langkah Iran tidak hanya bertujuan menjaga keamanan nasional, tetapi juga mempertahankan posisi tawar dalam struktur kekuatan regional yang sedang mengalami perubahan signifikan.
“Iran memahami bahwa pengaruh geopolitik hari ini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan jaringan aliansi, akses perdagangan, dan keterhubungan ekonomi regional. Karena itu, serangan terhadap Israel diposisikan sebagai respons terukur untuk menjaga kredibilitas strategis tanpa harus menutup pintu diplomasi,” jelasnya.
Rhin menilai aktivitas diplomatik intensif yang dilakukan Menteri Luar Negeri Iran kepada Turki, Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Prancis, dan Inggris memperlihatkan adanya kesadaran bahwa isolasi ekonomi merupakan ancaman yang sama seriusnya dengan ancaman militer.
Menurut data International Energy Agency dan berbagai lembaga energi internasional, kawasan Timur Tengah masih menyuplai sekitar sepertiga kebutuhan minyak dunia dan menjadi jalur penting perdagangan energi global melalui Teluk Persia dan Selat Hormuz. Karena itu, setiap eskalasi militer di kawasan hampir selalu memengaruhi persepsi pasar energi internasional.
“Komunikasi aktif Iran dengan Arab Saudi, Turki, Qatar, dan Prancis menunjukkan bahwa Teheran berupaya memastikan konflik tidak berkembang menjadi isolasi ekonomi yang lebih luas. Mereka ingin menjaga saluran negosiasi tetap terbuka sekaligus mengirim pesan bahwa Iran masih merupakan aktor penting yang tidak dapat diabaikan dalam arsitektur keamanan dan ekonomi kawasan,” katanya.
Lebih jauh, Rhin menjelaskan bahwa konflik di Lebanon tidak dapat dipisahkan dari struktur ekonomi Timur Tengah secara keseluruhan.
Menurutnya, Lebanon, Suriah, Irak, Teluk Persia, dan jalur Laut Merah merupakan bagian dari jaringan logistik dan energi yang saling terhubung. Ketika salah satu titik mengalami instabilitas, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor mulai dari transportasi maritim, perdagangan internasional, hingga harga energi global.
“Yang sering luput dari perhatian publik adalah bahwa keamanan dan ekonomi di Timur Tengah sesungguhnya merupakan dua sisi mata uang yang sama. Ketika rudal diluncurkan di Lebanon atau Israel, pasar energi di Eropa, Asia, bahkan Amerika ikut merespons. Itulah sebabnya konflik ini selalu memiliki konsekuensi global,” ujarnya.
Rhin juga menyoroti keterlibatan Qatar dan Pakistan dalam komunikasi diplomatik Iran sebagai indikator semakin pentingnya peran kekuatan menengah (middle powers) dalam menjaga keseimbangan kawasan.
Menurutnya, negara-negara tersebut tidak hanya berfungsi sebagai mediator politik, tetapi juga sebagai penjaga stabilitas ekonomi regional yang sangat bergantung pada kelancaran perdagangan, investasi, dan distribusi energi.
Sementara itu, tudingan Iran terhadap Amerika Serikat sebagai pendukung utama Israel memperlihatkan bahwa konflik yang sedang berlangsung tidak dapat dilepaskan dari rivalitas kekuatan besar dunia.
“Konflik ini bukan sekadar Iran versus Israel. Di belakangnya terdapat kompetisi yang lebih besar mengenai distribusi pengaruh global, kontrol terhadap jalur energi, serta arah masa depan tatanan internasional. Karena itu, setiap peristiwa di Timur Tengah harus dibaca dalam konteks persaingan geopolitik global yang lebih luas,” jelas Rhin.
Ia memperkirakan kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun mendatang akan tetap berada dalam kondisi yang disebutnya sebagai managed tension atau ketegangan yang terkelola.
Dalam situasi tersebut, eskalasi militer terbatas kemungkinan masih akan terjadi, tetapi akan diimbangi oleh diplomasi intensif untuk mencegah gangguan besar terhadap pasar energi dan ekonomi dunia.
“Dunia perlu memahami bahwa stabilitas Timur Tengah hari ini bukan lagi hanya persoalan negara-negara di kawasan. Stabilitas Timur Tengah adalah bagian dari stabilitas ekonomi global. Ketika harga energi naik, jalur perdagangan terganggu, dan ketidakpastian geopolitik meningkat, dampaknya dirasakan oleh masyarakat dari Jakarta hingga London. Karena itu, diplomasi yang mampu mencegah perang terbuka bukan hanya kebutuhan regional, tetapi kepentingan seluruh masyarakat internasional,” tegas Rhin.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa Timur Tengah sedang memasuki fase baru di mana penggunaan kekuatan militer dan diplomasi berjalan secara simultan. Bagi Iran, rudal mungkin menjadi bahasa untuk menunjukkan kapasitas pertahanan, tetapi diplomasi tetap menjadi instrumen utama untuk menjaga pengaruh, mencegah isolasi, dan mempertahankan posisi strategisnya dalam percaturan geopolitik dan ekonomi dunia. (Ali)


