Cerita Tercecer dari Mubes IKA Unhas: Sebuah Testimoni di Antara Mubes Riang Gembira dan Bocah Tua Nakal yang Kembali Menemukan Panggungnya

SulawesiPos.com – Sudah setengah bulan lebih berlalu, cerita Mubes Ikatan Alumni Unhas (IKA Unhas), masih belum juga reda. Seperti api yang sudah padam, namun asapnya tak juga berhenti mengepul. Di tangan Andi Amran Sulaiman, IKA Unhas seolah punya bahan bakar yang tak habis-habis untuk membuatnya terus mengepul.

Pada Mubes kali ini, IKA Unhas juga tampak kian bergairah dengan wajah semakin utuh. Mubes dihadiri 25 dari 27 IKA Wilayah/Provinsi (92,5%); 30 dari 44 IKA Daerah/Kabupaten (85%); IKA Fakultas hadir 100%; dan 1 IKA Luar Negeri pun enggan ketinggalan. Total 452 peserta. Hebatnya lagi, mereka datang dengan biaya sendiri.

Fenomena semacam itu tak pernah terjadi pada era sebelumnya. Di masa lalu, IKA Unhas hanya seperti siluet, antara ada dan tiada. Kadang hadir dengan wajah IKA Jabedetabek. Di lain waktu kerap muncul dengan wajah IKATEK atau pun IKAFE. Selebihnya, hidup segan mati tak mau. Adanya tak pernah benar-benar utuh.

Tak hanya gairah, Mubes juga sarat dengan nuansa riang gembira. Tengok baligo yang bertebaran sekitar arena Mubes. Entah pengurus atau bukan, semua memasang gambar berdua dengan Ketua Umum.

Sebuah tren baru pemasangan baligo mengalahkan hajatan Parpol, yang lazimnya hanya memasang gambar Ketua Umum dan Sekjen partai, beserta Ketua Pengurus Wilayah.

Sore, sehari sebelum Mubes dilaksanakan, ditemani putraku yang baru kelas 10, penulis sengaja melintas di Jl. AP Pettarani depan Hotel Claro, lalu berbelok ke Jl. Andi Jemma hingga di Jl. Veteran Selatan. Rupanya, baligo yang bertebaran di sepanjang jalan yang kami lewati, tak luput dari perhatiannya

BACA JUGA: 
Mentan Amran Dorong IPB Perkuat Riset dan Hilirisasi: “Jual Ide, Bukan Mitos"

“Ayah juga alumni Unhas, kan? Tapi, kenapa tidak ada fotonya ayah bersama Pak Andi Amran?” Celetuknya tiba-tiba membuatku sedikit gelagapan. Karena tidak siap, saya pun menimpali sekenanya. “Ayah belum cukup layak memasang foto berdua dengan beliau, nak,” jawabku. Padahal sebenarnya dalam hati, mau banget.

Antusiasme mengikuti Mubes juga tak kalah seru. Bayangkan, menjadi peserta saja sampai harus diperebutkan. Tidak menjadi peserta penuh, tak apa. Sepanjang bisa masuk ke dalam ruangan Mubes, menjadi peserta peninjau pun tak masalah. Jika keduanya juga tidak dapat, apa boleh buat, terpaksa menjadi peserta Romli (Rombongan liar), seperti Penulis.

Adapun peserta Romli saat Mubes berlangsung, terkonsentrasi di Café Best Brews Hotel Four Point, sebuah café yang sangat bersahabat dengan kaum “Ahli hisap”. Antusiasme mereka tak kalah. Saking antusiasnya, tak satupun kejadian di dalam ruang sidang luput dari pantauannya. Termasuk pengusiran terhadap seorang yang kerap dijuluki “Bocah Tua Nakal” dari Gua Ikafe.

Mengapa diusir? Meski memakai ID Card peserta penuh, tetapi tetap saja dicurigai sebagai “penyelundup”. Sebab kadar kealumnian yang bersangkutan – menurut Konvensi Romli – paling jauh hanya menjadi peserta peninjau. Sehingga status kepesertaan paling pantas baginya adalah Romli juga, yang memiliki teritori dan berkuasa penuh di luar ruang sidang Mubes.

Konvensi Romli Mubes Ika Unhas pada empat tahun lalu di tempat yang sama, mengkategorisasi kadar ke-Unhas-an seorang alumni. Pertama, lulus test ujian masuk di Unhas, kuliah hingga mendapatkan gelar sarjana. Ini kategori alumni Unhas 24 karat. Kedua, lulus test masuk di Unhas, tetapi drop out (DO) di tengah jalan. Ini kategori alumni Unhas Kw 1.

BACA JUGA: 
Guru Besar IPB Apresiasi Kepemimpinan Mentan Amran, Dorong Kolaborasi dan Keberpihakan Nyata untuk Petani

Sedangkan, ketiga, disebut kategori alumni Unhas Kw 2. Ini disematkan pada alumni yang tidak pernah lulus Sipenmaru atau sejenisnya di Unhas. Kalau kemudian menjadi mahasiswa dan kuliah di Unhas, itu pasti melalui proses “penyelundupan” legal. Misalnya, ditampung dulu di kelas sore, kemudian ditranfer ke S1. Mungkin saja, si Bocah Tua Nakal itu, diduga melalui proses ini.

Mengapa ada kategorisasi semacam itu? “Tidak gampang lulus di Unhas, bro! Saya bahkan sampai tiga kali ikut test baru bisa berhasil menjadi mahasiswa Unhas,” seru seorang dedengkot Romli dengan rasa bangga yang masih tersisa di dadanya.

Mendengar itu, penulis lantas teringat pada seorang kawan yang pernah bercerita tetang kawannya. Kawannya itu, orang kita juga, pernah menjadi politisi hebat, kemudian menjadi figur publik yang kerap dimintai pendapatnya. Pokoknya sebuah sosok yang sangat terkenal. Tetapi ada satu hal yang sangat disesali di dalam hidupnya. Apa? Tidak pernah lulus test masuk di Unhas.

Kembali kepada si Bocah Tua Nakal. Sudah dicurigai menyelundup, banyak bacot pula. Nyaris semua hal diributi. Paling heboh soal laporan keuangan yang ada di tangannya.

“Bayangkan, bos. Selama empat tahun, IKA Unhas menghabiskan dana 31 M,” lontarnya dengan nada tinggi sembari melempar laporan itu di atas meja. Maqbul Halim yang duduk di sebelahnya tampak tengadah dengan bola mata berputar-putar pelan, seolah sedang berhitung. “Itu kurang lebih 21 juta setiap hari,” ujarnya kemudian.

BACA JUGA: 
Indonesia Berpotensi Menjadi Lumbung Pangan Dunia

“itu dia!” Potong Bocah Tua Nakal sembari memukul meja, “prakkk!” Dua gelas kopi susu yang baru dihidang, jatuh dan tumpah di lantai. “Pengurus harus dimintai pertanggungjawaban,” sambungnya.

Suasana makin gaduh tatkala Rahmat Sasmito dan Hasbi Lodang ikut menimpali, membuat Bocah Tua Nakal makin menyala karena merasa menemukan panggungnya.

“Oweh kamase, uangmukah? Berhentiko,” saya memotong dan membuat mereka terdiam. “Bukan begitu, bos. Akan jauh lebih bermafaat jika uang sebanyak itu dijadikan bea siswa bagi putra-putri alumni kita yang kurang mampu,” ujar Bocah Tua Nakal yang mulai melunak.

Si Bocah Tua Nakal itu ada benarnya, pikirku. “Uang itu punya Ketum sendiri. Mau diapakan, suka-sukanya Ketum,” potongku segera untuk mengakhiri. Habis, lambung mulai terasa perih, pertanda sudah lewat waktunya untuk diisi.

Terlepas dari segala kekurangan yang ada, IKA Unhas semenjak dipimpin Andi Amran Sulaiman, sudah jauh berbeda. Sebagai sebuah entitas organisasi, geliatnya kini sudah semakin jauh menjangkau 27 provinsi, bahkan sampai di mancanegara, seperti Timor Leste dan Jepang. Patut disyukuri karena Andi Amran tak segan merogoh koceknya untuk IKA Unhas.

“Engkai na elo”. Itulah kalimat paling tepat menggambarkan sosok Menteri Pertanian itu. Ada dan mau.

Yarifai Mappeaty
Alumni Unhas Angkatan 1985

SulawesiPos.com – Sudah setengah bulan lebih berlalu, cerita Mubes Ikatan Alumni Unhas (IKA Unhas), masih belum juga reda. Seperti api yang sudah padam, namun asapnya tak juga berhenti mengepul. Di tangan Andi Amran Sulaiman, IKA Unhas seolah punya bahan bakar yang tak habis-habis untuk membuatnya terus mengepul.

Pada Mubes kali ini, IKA Unhas juga tampak kian bergairah dengan wajah semakin utuh. Mubes dihadiri 25 dari 27 IKA Wilayah/Provinsi (92,5%); 30 dari 44 IKA Daerah/Kabupaten (85%); IKA Fakultas hadir 100%; dan 1 IKA Luar Negeri pun enggan ketinggalan. Total 452 peserta. Hebatnya lagi, mereka datang dengan biaya sendiri.

Fenomena semacam itu tak pernah terjadi pada era sebelumnya. Di masa lalu, IKA Unhas hanya seperti siluet, antara ada dan tiada. Kadang hadir dengan wajah IKA Jabedetabek. Di lain waktu kerap muncul dengan wajah IKATEK atau pun IKAFE. Selebihnya, hidup segan mati tak mau. Adanya tak pernah benar-benar utuh.

Tak hanya gairah, Mubes juga sarat dengan nuansa riang gembira. Tengok baligo yang bertebaran sekitar arena Mubes. Entah pengurus atau bukan, semua memasang gambar berdua dengan Ketua Umum.

Sebuah tren baru pemasangan baligo mengalahkan hajatan Parpol, yang lazimnya hanya memasang gambar Ketua Umum dan Sekjen partai, beserta Ketua Pengurus Wilayah.

Sore, sehari sebelum Mubes dilaksanakan, ditemani putraku yang baru kelas 10, penulis sengaja melintas di Jl. AP Pettarani depan Hotel Claro, lalu berbelok ke Jl. Andi Jemma hingga di Jl. Veteran Selatan. Rupanya, baligo yang bertebaran di sepanjang jalan yang kami lewati, tak luput dari perhatiannya

BACA JUGA: 
Pemerintah Pastikan Serap Hasil Panen Petani Pasca Bencana Banjir Sumatera

“Ayah juga alumni Unhas, kan? Tapi, kenapa tidak ada fotonya ayah bersama Pak Andi Amran?” Celetuknya tiba-tiba membuatku sedikit gelagapan. Karena tidak siap, saya pun menimpali sekenanya. “Ayah belum cukup layak memasang foto berdua dengan beliau, nak,” jawabku. Padahal sebenarnya dalam hati, mau banget.

Antusiasme mengikuti Mubes juga tak kalah seru. Bayangkan, menjadi peserta saja sampai harus diperebutkan. Tidak menjadi peserta penuh, tak apa. Sepanjang bisa masuk ke dalam ruangan Mubes, menjadi peserta peninjau pun tak masalah. Jika keduanya juga tidak dapat, apa boleh buat, terpaksa menjadi peserta Romli (Rombongan liar), seperti Penulis.

Adapun peserta Romli saat Mubes berlangsung, terkonsentrasi di Café Best Brews Hotel Four Point, sebuah café yang sangat bersahabat dengan kaum “Ahli hisap”. Antusiasme mereka tak kalah. Saking antusiasnya, tak satupun kejadian di dalam ruang sidang luput dari pantauannya. Termasuk pengusiran terhadap seorang yang kerap dijuluki “Bocah Tua Nakal” dari Gua Ikafe.

Mengapa diusir? Meski memakai ID Card peserta penuh, tetapi tetap saja dicurigai sebagai “penyelundup”. Sebab kadar kealumnian yang bersangkutan – menurut Konvensi Romli – paling jauh hanya menjadi peserta peninjau. Sehingga status kepesertaan paling pantas baginya adalah Romli juga, yang memiliki teritori dan berkuasa penuh di luar ruang sidang Mubes.

Konvensi Romli Mubes Ika Unhas pada empat tahun lalu di tempat yang sama, mengkategorisasi kadar ke-Unhas-an seorang alumni. Pertama, lulus test ujian masuk di Unhas, kuliah hingga mendapatkan gelar sarjana. Ini kategori alumni Unhas 24 karat. Kedua, lulus test masuk di Unhas, tetapi drop out (DO) di tengah jalan. Ini kategori alumni Unhas Kw 1.

BACA JUGA: 
SulawesiPos.com dan Kabarika.id Sponsori Liga Domino Unhas di Warkop Pegasus, Perkuat Kolaborasi Alumni dan Rektorat

Sedangkan, ketiga, disebut kategori alumni Unhas Kw 2. Ini disematkan pada alumni yang tidak pernah lulus Sipenmaru atau sejenisnya di Unhas. Kalau kemudian menjadi mahasiswa dan kuliah di Unhas, itu pasti melalui proses “penyelundupan” legal. Misalnya, ditampung dulu di kelas sore, kemudian ditranfer ke S1. Mungkin saja, si Bocah Tua Nakal itu, diduga melalui proses ini.

Mengapa ada kategorisasi semacam itu? “Tidak gampang lulus di Unhas, bro! Saya bahkan sampai tiga kali ikut test baru bisa berhasil menjadi mahasiswa Unhas,” seru seorang dedengkot Romli dengan rasa bangga yang masih tersisa di dadanya.

Mendengar itu, penulis lantas teringat pada seorang kawan yang pernah bercerita tetang kawannya. Kawannya itu, orang kita juga, pernah menjadi politisi hebat, kemudian menjadi figur publik yang kerap dimintai pendapatnya. Pokoknya sebuah sosok yang sangat terkenal. Tetapi ada satu hal yang sangat disesali di dalam hidupnya. Apa? Tidak pernah lulus test masuk di Unhas.

Kembali kepada si Bocah Tua Nakal. Sudah dicurigai menyelundup, banyak bacot pula. Nyaris semua hal diributi. Paling heboh soal laporan keuangan yang ada di tangannya.

“Bayangkan, bos. Selama empat tahun, IKA Unhas menghabiskan dana 31 M,” lontarnya dengan nada tinggi sembari melempar laporan itu di atas meja. Maqbul Halim yang duduk di sebelahnya tampak tengadah dengan bola mata berputar-putar pelan, seolah sedang berhitung. “Itu kurang lebih 21 juta setiap hari,” ujarnya kemudian.

BACA JUGA: 
Guru Besar IPB Apresiasi Kepemimpinan Mentan Amran, Dorong Kolaborasi dan Keberpihakan Nyata untuk Petani

“itu dia!” Potong Bocah Tua Nakal sembari memukul meja, “prakkk!” Dua gelas kopi susu yang baru dihidang, jatuh dan tumpah di lantai. “Pengurus harus dimintai pertanggungjawaban,” sambungnya.

Suasana makin gaduh tatkala Rahmat Sasmito dan Hasbi Lodang ikut menimpali, membuat Bocah Tua Nakal makin menyala karena merasa menemukan panggungnya.

“Oweh kamase, uangmukah? Berhentiko,” saya memotong dan membuat mereka terdiam. “Bukan begitu, bos. Akan jauh lebih bermafaat jika uang sebanyak itu dijadikan bea siswa bagi putra-putri alumni kita yang kurang mampu,” ujar Bocah Tua Nakal yang mulai melunak.

Si Bocah Tua Nakal itu ada benarnya, pikirku. “Uang itu punya Ketum sendiri. Mau diapakan, suka-sukanya Ketum,” potongku segera untuk mengakhiri. Habis, lambung mulai terasa perih, pertanda sudah lewat waktunya untuk diisi.

Terlepas dari segala kekurangan yang ada, IKA Unhas semenjak dipimpin Andi Amran Sulaiman, sudah jauh berbeda. Sebagai sebuah entitas organisasi, geliatnya kini sudah semakin jauh menjangkau 27 provinsi, bahkan sampai di mancanegara, seperti Timor Leste dan Jepang. Patut disyukuri karena Andi Amran tak segan merogoh koceknya untuk IKA Unhas.

“Engkai na elo”. Itulah kalimat paling tepat menggambarkan sosok Menteri Pertanian itu. Ada dan mau.

Yarifai Mappeaty
Alumni Unhas Angkatan 1985

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru