Oleh: Kuro Sumargo
Pengamat Komunikasi Pertanian – Jakarta
SulawesiPos.com – Indonesia adalah raksasa sawit dunia. Produksi nasional mencapai sekitar 55–57 juta ton per tahun, dan kita menguasai sekitar 60 persen produksi global. Nilai ekspornya pun sangat besar, dalam beberapa tahun terakhir berada di kisaran Rp440 hingga Rp590 triliun, bahkan rata-rata sekitar Rp426 triliun.
Namun di balik angka besar itu, ada satu fakta yang tidak boleh diabaikan bahwa Indonesia belum mengendalikan harga.
Harga crude palm oil (CPO) dunia hingga hari ini masih banyak mengacu pada Bursa Malaysia Derivatives dan pusat perdagangan seperti Rotterdam. Artinya, komoditas yang sebagian besar diproduksi di Indonesia justru nilainya lebih banyak ditentukan di luar negeri.
Kita memproduksi, tetapi orang lain yang menentukan harga. Inilah akar persoalan yang selama ini membuat Indonesia belum sepenuhnya menikmati kekuatan sebagai produsen terbesar dunia.
Padahal, jika dikelola dengan strategi yang tepat, potensi sawit Indonesia sangat luar biasa. Dari nilai saat ini sekitar Rp400–500 triliun, hilirisasi dapat mendorong nilai tersebut meningkat hingga 3 sampai 30 kali lipat, bahkan berpotensi mencapai Rp4.500 triliun.
Selama ini, sebagian besar sawit Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri, ketika sawit diolah menjadi biodiesel, oleokimia, hingga produk pangan.
Akibatnya, Indonesia tetap bergantung pada harga global, sekaligus menghadapi paradoks yang tidak masuk akal: kita mengekspor bahan baku energi, tetapi masih mengimpor energi jadi.
Data menunjukkan Indonesia masih mengimpor sekitar 5,3 juta kiloliter solar, sementara pada saat yang sama mengekspor sekitar 26 juta ton CPO. Ini bukan sekadar ironi, tetapi gambaran nyata bahwa kita belum menguasai rantai nilai.
Padahal dunia telah memberi pelajaran penting. Gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz (yang hanya sekitar 20 persen pasokan global) sudah cukup membuat harga energi dunia melonjak dan mengguncang ekonomi global.
Sekarang bayangkan posisi Indonesia. Dengan penguasaan sekitar 60 persen sawit dunia, sebenarnya kita memiliki potensi pengaruh yang jauh lebih besar. Jika pasokan dikelola dengan baik dan didukung hilirisasi yang kuat, Indonesia tidak hanya bisa meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga memiliki daya tawar dalam menentukan harga.
Ekspor bisa naik nilainya, sementara impor solar dapat ditekan bahkan dihentikan.
Di sinilah hilirisasi menjadi kunci.
Hilirisasi bukan hanya soal meningkatkan nilai tambah, tetapi soal mengubah posisi Indonesia, dari pengekspor bahan mentah menjadi pengendali nilai. Ketika sawit diolah menjadi biodiesel, oleokimia, dan produk turunan lainnya, Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti harga, tetapi mulai memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pasar.
Dalam konteks energi, dampaknya bahkan lebih strategis. Pemerintah menargetkan produksi biodiesel hingga 40 juta ton, dengan kebutuhan sekitar 46,6 juta ton CPO untuk memenuhi kebutuhan domestik. Jika ini tercapai, ketergantungan pada impor energi akan turun drastis.
Tentu, langkah ini tidak berjalan tanpa tantangan.
Ketika Indonesia mulai memperkuat hilirisasi, tekanan dari luar akan muncul, terutama dari Uni Eropa. Berbagai regulasi dan standar kerap diberlakukan atas nama keberlanjutan. Namun dalam praktiknya, sering terasa tidak sepenuhnya adil.
Sawit dipersulit, sementara komoditas lain mendapatkan perlakuan berbeda. Inilah yang sering dipandang sebagai standar ganda dalam perdagangan global.
Karena itu, Indonesia tidak bisa hanya menjadi pengikut. Kita perlu membangun kekuatan sendiri, mulai dari memperkuat industri hilir, membangun acuan harga nasional, hingga menjalin kerja sama dengan negara produsen lain.
Dengan langkah tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi pemain besar, tetapi juga memiliki pengaruh nyata dalam menentukan arah pasar global.
Dalam konteks inilah, ketajaman membaca situasi global menjadi sangat penting. Langkah dan pemikiran Andi Amran Sulaiman patut diapresiasi karena melihat sawit sebagai kekuatan strategis, bukan sekedar hanya komoditas, tetapi instrumen untuk meningkatkan nilai tambah, menekan impor energi, dan memperkuat posisi Indonesia di dunia.
Hilirisasi sawit adalah momentum besar.
Momentum untuk meningkatkan nilai dari ratusan triliun menjadi ribuan triliun rupiah. Momentum untuk menghentikan paradoks ekspor bahan baku dan impor energi. Dan yang terpenting, momentum untuk mengubah posisi Indonesia, dari follower menjadi penentu.
Jika momentum ini dimanfaatkan dengan tepat, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi raksasa produksi, tetapi juga kekuatan yang mampu mengendalikan harga CPO dan bahkan mempengaruhi dinamika energi dunia.
Dan pada akhirnya, inilah makna sesungguhnya dari kedaulatan ekonomi: ketika kekayaan alam tidak hanya diekspor, tetapi dikelola untuk sebesar-besarnya kepentingan bangsa sendiri.*

