SulawesiPos.com – Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa lebih dari 600 sekolah di negaranya hancur atau rusak akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari 2026.
Menurutnya, serangan tersebut juga menyebabkan lebih dari 1.000 siswa dan guru tewas atau terluka.
Dalam forum darurat Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Araghchi menyoroti serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Minab, Iran selatan.
Ia menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang disengaja dan terencana, dengan korban lebih dari 175 siswa dan guru.
“tidak ada yang dapat percaya bahwa serangan terhadap sekolah ini bukanlah tindakan yang disengaja dan direncanakan,” ujarnya.
Iran Sebut Kejahatan Perang
Araghchi menegaskan bahwa penargetan fasilitas pendidikan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Ia menyebut tindakan tersebut sebagai “kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan”, serta menilai serangan itu bukan sekadar kesalahan militer.
Selain sekolah, ia juga menuding adanya serangan terhadap fasilitas sipil lain seperti rumah sakit, ambulans, tenaga kesehatan, hingga infrastruktur vital seperti kilang minyak dan sumber air.
Menurut Araghchi, pola serangan yang terjadi menunjukkan adanya target terhadap warga sipil tanpa memperhatikan hukum perang dan prinsip kemanusiaan.
“Pola penargetan penyerang, yang disertai dengan retorika mereka, hampir tidak menyisakan keraguan mengenai niat jelas mereka untuk melakukan genosida,” ujarnya.
Di sisi lain, Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak menginginkan perang, namun akan tetap mempertahankan diri dari serangan yang disebutnya sebagai agresi.
Ia juga menyerukan agar pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut dimintai pertanggungjawaban di forum internasional.

