Gawat! 363 Juta Jiwa Penduduk Bumi Terancam Kelaparan, Kita Patut Bersyukur Indonesia Surplus Beras

SulawesiPos.com – Gawat. Kelaparan penduduk bumi akan semakin meluas sebagai dampak krisis di Timur Tengah. Jika saat ini sudah terdapat 318 juta orang hidup dalam kerawanan pangan, maka diperkirakan ada tambahan 45 juta orang lagi jika konflik Timur Tengah berkepanjangan.

Maka, total penduduk yang hidup dalam kerawanan pangan bisa menjadi 363 juta orang di seluruh belahan bumi.

Sebagai pembanding, krisis global akibat Perang Rusia–Ukraina pada 2022 mendorong jumlah penduduk yang mengalami kelaparan mencapai rekor 349 juta jiwa.

Peringatan itu dikeluarkan oleh World Food Programme (WFP) atau Program Pangan Dunia, sebagamana dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (22/3/2026).

Menurut analisis WFP, jika konflik berkepanjangan tidak mereda hingga pertengahan tahun dan harga minyak bertahan di atas 100 dolar Amerika, maka dampaknya diperkirakan meluas jauh melampaui kawasan yang terlibat langsung.

Indonesia Swasembada dan Surplus Beras

Rakyat Indonesia patur bersyukur. Di saat dunia dilanda krisis pangan, negara kita bisa melakukan swasembada beras. Cadangan beras nasional kita paa April 2026 diprediksi mencapai 5,2 juta ton.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, stok pangan Indonesia cukup hingga 324 hari. Dan, cadangan beras kita terus bertambah setiap bulan. Mentan Amran mengatakan, Indonesia aman dalam hal ketersediaan pangan, meski ada eskalasi konflik di Timur Tengah.

BACA JUGA: 
Alex Indra Lukman Dorong Pemerintah Susun Peta Jalan Ekspor Beras di Tengah Stok Melimpah

Tak hanya swasembada, Indonesia bahkan bisa melakukan ekspor beras. Terbaru, Indonesia ekspor 2.208 ton beras ke Arab Saudi. Sungguh bersyukur kita hidup di bumi nusantara.

Harga Energi Naik, Pangan Ikut Tertekan

Menurut WFP, pengalaman krisis 2022 menunjukkan lonjakan harga pangan terjadi sangat cepat, sementara penurunannya berlangsung lambat.

Kondisi tersebut membuat banyak keluarga rentan kehilangan akses terhadap makanan pokok dalam waktu singkat, dan pola serupa dikhawatirkan kembali terulang.

Meski konflik terkini berlangsung di kawasan pusat energi dunia, bukan lumbung pangan, efeknya dinilai setara karena keterkaitan erat antara harga energi dan harga makanan.

Kenaikan biaya energi mendorong inflasi pangan, meningkatkan ongkos produksi dan distribusi, serta mempersempit daya beli masyarakat.

WFP memperingatkan, keluarga yang saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan makan harian berisiko segera kehilangan kemampuan tersebut.

Apabila konflik berlanjut, guncangan global akan semakin besar dan kelompok paling rentan akan menanggung dampak terberat.

Afrika dan Asia Jadi Wilayah Paling Rentan

Analisis WFP menunjukkan negara-negara di Afrika sub-Sahara dan Asia berada pada posisi paling rawan karena ketergantungan tinggi terhadap impor pangan dan energi.

BACA JUGA: 
Pesan Persatuan Mentan Amran pada 3.000 Warga KKSS Saat Bukber di Kediamannya

Jumlah penduduk rawan pangan diperkirakan meningkat hingga 21 persen di Afrika Barat dan Tengah, 17 persen di Afrika Timur dan Selatan, serta 24 persen di Asia.

Di Sudan, sekitar 80 persen kebutuhan gandum masih bergantung pada impor, sehingga kenaikan harga global akan langsung menekan masyarakat.

Sementara di Somalia, harga sejumlah komoditas penting dilaporkan telah melonjak sedikitnya 20 persen sejak konflik dimulai, memperburuk situasi di tengah kekeringan parah.

Kondisi ini terjadi saat pendanaan WFP mengalami kekurangan signifikan, memaksa organisasi tersebut memperketat prioritas bantuan di berbagai wilayah.
Tanpa tambahan sumber daya, lonjakan jumlah penduduk rawan pangan berisiko berubah menjadi bencana kemanusiaan di negara-negara yang sudah berada di ambang krisis.

Jalur Pelayaran Terganggu, Efek Domino Global

Gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta meningkatnya risiko keamanan di Laut Merah telah mendorong kenaikan biaya energi, bahan bakar, dan pupuk. Dampak ini meluas ke luar Timur Tengah melalui efek domino pada rantai pasok global.

BACA JUGA: 
Pastikan Harga Stabil Saat Nataru, Mentan Amran Turun Langsung ke Pasar Tebet Barat

Hambatan di dua koridor perdagangan maritim paling vital dunia memicu lonjakan biaya pengiriman dan meningkatkan potensi inflasi global baru.

Selain itu, ancaman kelangkaan pupuk dinilai sangat mengkhawatirkan, terutama menjelang musim tanam 2026 di banyak negara berkembang yang bergantung pada impor.

Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menegaskan bahwa tanpa respons kemanusiaan yang memadai, situasi ini dapat berkembang menjadi bencana besar.

“Jika konflik ini terus berlanjut, dampaknya akan mengguncang seluruh dunia, dan keluarga yang bahkan saat ini tidak mampu membeli makanan berikutnya akan menjadi yang paling terdampak. Tanpa respons kemanusiaan yang didanai secara memadai, kondisi ini bisa menjadi bencana bagi jutaan orang yang sudah berada di ambang krisis,” ucap Skau, dikutip dari laman resmi WFP, Sabtu (21/3/2026).

Di tengah situasi tersebut, WFP melaporkan telah menyalurkan bantuan kepada puluhan ribu keluarga terdampak konflik di Timur Tengah dan mengerahkan respons darurat untuk menjaga distribusi bantuan.

Namun, organisasi itu menegaskan dukungan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar bantuan pangan dapat menjangkau masyarakat paling rentan di tengah krisis global yang terus berkembang.*

SulawesiPos.com – Gawat. Kelaparan penduduk bumi akan semakin meluas sebagai dampak krisis di Timur Tengah. Jika saat ini sudah terdapat 318 juta orang hidup dalam kerawanan pangan, maka diperkirakan ada tambahan 45 juta orang lagi jika konflik Timur Tengah berkepanjangan.

Maka, total penduduk yang hidup dalam kerawanan pangan bisa menjadi 363 juta orang di seluruh belahan bumi.

Sebagai pembanding, krisis global akibat Perang Rusia–Ukraina pada 2022 mendorong jumlah penduduk yang mengalami kelaparan mencapai rekor 349 juta jiwa.

Peringatan itu dikeluarkan oleh World Food Programme (WFP) atau Program Pangan Dunia, sebagamana dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (22/3/2026).

Menurut analisis WFP, jika konflik berkepanjangan tidak mereda hingga pertengahan tahun dan harga minyak bertahan di atas 100 dolar Amerika, maka dampaknya diperkirakan meluas jauh melampaui kawasan yang terlibat langsung.

Indonesia Swasembada dan Surplus Beras

Rakyat Indonesia patur bersyukur. Di saat dunia dilanda krisis pangan, negara kita bisa melakukan swasembada beras. Cadangan beras nasional kita paa April 2026 diprediksi mencapai 5,2 juta ton.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, stok pangan Indonesia cukup hingga 324 hari. Dan, cadangan beras kita terus bertambah setiap bulan. Mentan Amran mengatakan, Indonesia aman dalam hal ketersediaan pangan, meski ada eskalasi konflik di Timur Tengah.

BACA JUGA: 
Presiden Prabowo Anugerahi Penghargaan untuk Danrem, Dandim, dan Kapolres Bone, Dinilai Berjasa atas Capaian Produksi Padi Tertinggi Nasional

Tak hanya swasembada, Indonesia bahkan bisa melakukan ekspor beras. Terbaru, Indonesia ekspor 2.208 ton beras ke Arab Saudi. Sungguh bersyukur kita hidup di bumi nusantara.

Harga Energi Naik, Pangan Ikut Tertekan

Menurut WFP, pengalaman krisis 2022 menunjukkan lonjakan harga pangan terjadi sangat cepat, sementara penurunannya berlangsung lambat.

Kondisi tersebut membuat banyak keluarga rentan kehilangan akses terhadap makanan pokok dalam waktu singkat, dan pola serupa dikhawatirkan kembali terulang.

Meski konflik terkini berlangsung di kawasan pusat energi dunia, bukan lumbung pangan, efeknya dinilai setara karena keterkaitan erat antara harga energi dan harga makanan.

Kenaikan biaya energi mendorong inflasi pangan, meningkatkan ongkos produksi dan distribusi, serta mempersempit daya beli masyarakat.

WFP memperingatkan, keluarga yang saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan makan harian berisiko segera kehilangan kemampuan tersebut.

Apabila konflik berlanjut, guncangan global akan semakin besar dan kelompok paling rentan akan menanggung dampak terberat.

Afrika dan Asia Jadi Wilayah Paling Rentan

Analisis WFP menunjukkan negara-negara di Afrika sub-Sahara dan Asia berada pada posisi paling rawan karena ketergantungan tinggi terhadap impor pangan dan energi.

BACA JUGA: 
Jaga Harga Ayam dan Telur, Mentan Amran: Pemerintah Perkuat Hulu Peternakan lewat BUMN

Jumlah penduduk rawan pangan diperkirakan meningkat hingga 21 persen di Afrika Barat dan Tengah, 17 persen di Afrika Timur dan Selatan, serta 24 persen di Asia.

Di Sudan, sekitar 80 persen kebutuhan gandum masih bergantung pada impor, sehingga kenaikan harga global akan langsung menekan masyarakat.

Sementara di Somalia, harga sejumlah komoditas penting dilaporkan telah melonjak sedikitnya 20 persen sejak konflik dimulai, memperburuk situasi di tengah kekeringan parah.

Kondisi ini terjadi saat pendanaan WFP mengalami kekurangan signifikan, memaksa organisasi tersebut memperketat prioritas bantuan di berbagai wilayah.
Tanpa tambahan sumber daya, lonjakan jumlah penduduk rawan pangan berisiko berubah menjadi bencana kemanusiaan di negara-negara yang sudah berada di ambang krisis.

Jalur Pelayaran Terganggu, Efek Domino Global

Gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta meningkatnya risiko keamanan di Laut Merah telah mendorong kenaikan biaya energi, bahan bakar, dan pupuk. Dampak ini meluas ke luar Timur Tengah melalui efek domino pada rantai pasok global.

BACA JUGA: 
Pastikan Harga Stabil Saat Nataru, Mentan Amran Turun Langsung ke Pasar Tebet Barat

Hambatan di dua koridor perdagangan maritim paling vital dunia memicu lonjakan biaya pengiriman dan meningkatkan potensi inflasi global baru.

Selain itu, ancaman kelangkaan pupuk dinilai sangat mengkhawatirkan, terutama menjelang musim tanam 2026 di banyak negara berkembang yang bergantung pada impor.

Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menegaskan bahwa tanpa respons kemanusiaan yang memadai, situasi ini dapat berkembang menjadi bencana besar.

“Jika konflik ini terus berlanjut, dampaknya akan mengguncang seluruh dunia, dan keluarga yang bahkan saat ini tidak mampu membeli makanan berikutnya akan menjadi yang paling terdampak. Tanpa respons kemanusiaan yang didanai secara memadai, kondisi ini bisa menjadi bencana bagi jutaan orang yang sudah berada di ambang krisis,” ucap Skau, dikutip dari laman resmi WFP, Sabtu (21/3/2026).

Di tengah situasi tersebut, WFP melaporkan telah menyalurkan bantuan kepada puluhan ribu keluarga terdampak konflik di Timur Tengah dan mengerahkan respons darurat untuk menjaga distribusi bantuan.

Namun, organisasi itu menegaskan dukungan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar bantuan pangan dapat menjangkau masyarakat paling rentan di tengah krisis global yang terus berkembang.*

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru