SulawesiPos.com – Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, dilaporkan tewas dalam serangan udara di pinggiran Teheran pada Selasa (17/3/2026) waktu setempat.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan aliansi Amerika Serikat-Israel sejak akhir Februari 2026.
Mengutip laporan Reuters, serangan terjadi saat Larijani berada di rumah keluarganya di wilayah timur ibu kota.
Ia diketahui tengah mengunjungi putrinya di wilayah timur ibu kota dan tidak berada di fasilitas militer.
Serangan udara tersebut disebut menyasar lokasi tertentu, meski detail operasinya tidak diungkap secara jelas.
Pemerintah Iran melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi mengonfirmasi kematian Larijani dan menyebutnya sebagai martir.
Pernyataan resmi menyebut ia gugur setelah mendedikasikan hidupnya untuk negara dan Revolusi Islam.
“Setelah seumur hidup berjuang untuk kemajuan Iran dan Revolusi Islam, akhirnya ia mencapai keinginan yang telah lama diidamkannya, menjawab panggilan kebenaran, dan dengan bangga meraih kedudukan mulia sebagai martir di garis depan pengabdian,” demikian bunyi pernyataan dari dewan yang dimuat oleh Mehr.
Pihak Israel melalui Menteri Pertahanan, Israel Katz, juga sebelumnya mengklaim Larijani menjadi target dalam operasi tersebut.
Ali Larijani
Ali Larijani merupakan salah satu figur berpengaruh dalam pemerintahan Iran.
Lahir di Najaf, Irak, pada 1957, ia berasal dari keluarga ulama yang memiliki kedekatan dengan pendiri Republik Islam Iran, Ayatullah Ruhollah Khomeini.
Ia juga diketahui memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatullah Ali Khamenei.
Setelah tewasnya Ali Khamenai, ia kembali menjadi tangan kanan Mojtaba Khamenei
Sepanjang kariernya, Larijani pernah menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran selama lebih dari 12 tahun serta memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Ia juga terlibat dalam berbagai negosiasi nuklir Iran dengan negara-negara Barat, menjadikannya salah satu aktor penting dalam kebijakan strategis negara.
Dalam beberapa pekan terakhir sebelum tewas, Larijani dikenal vokal merespons serangan yang dilancarkan AS dan Israel.
Ia bahkan menyuarakan sikap tegas dan menolak kemungkinan negosiasi dengan pihak Amerika Serikat.

