Sayed Mojtaba Khamenei Pimpin Republik Islam Iran, Teheran Tegaskan Kedaulatan di Tengah Tekanan Perang

SulawesiPos.com – Al Jazeera dalam laporannya yang terbit pada Senin (9/3/2026) menuliskan bahwa Sayed Mojtaba Khamenei secara resmi dipilih oleh Majelis Para Ahli ( Majles-e Khebregan-e Rahbari) sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran setelah wafatnya Sayed Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Dengan keputusan itu, Republik Islam Iran memasuki fase baru kepemimpinan nasional di tengah perang terbuka, ketika lembaga konstitusional negara bergerak cepat untuk menjaga kesinambungan pemerintahan dan persatuan nasional.

Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama menyatakan bahwa pemilihan tersebut dilakukan melalui suara yang mereka sebut sebagai “decisive vote”, lalu menyerukan kepada rakyat Iran, terutama kalangan elite dan intelektual hauzah serta universitas, agar menjaga persatuan dan menyatakan dukungan kepada kepemimpinan baru.

Selama bertahun-tahun, nama Sayed Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur berpengaruh di lingkungan inti kekuasaan Republik Islam, khususnya di sekitar kantor pemimpin tertinggi (Bayt-e Rahbari) dan jejaring strategis negara, meskipun ia memilih tetap jauh dari sorotan publik.

Di antara anak-anak Sayed Ali Khanei, pemimpin Republik Islam yang syahid, banyak orang menganggap Sayed Mujtaba sebagai orang yang paling mirip dengan Sayed Ali Khamenei
Di antara anak-anak Sayed Ali Khanei, pemimpin Republik Islam yang syahid, banyak orang menganggap Sayed Mojtaba sebagai orang yang paling mirip dengan Sayed Ali Khamenei dalam hal penampilan dan bahkan pandangan intelektual. (Kredit: Fars)

Karena itu, kenaikan Sayed Mojtaba Khamenei ke puncak kepemimpinan bukanlah kemunculan tokoh baru dari ruang hampa, melainkan penegasan atas sosok yang sejak lama dipandang mempunyai kedekatan mendalam dengan pusat pengambilan keputusan negara.

Dalam sejarah politik Iran kontemporer, namanya mulai lebih sering diperbincangkan sejak 2005 ketika Mehdi Karroubi menuduhnya ikut memengaruhi dinamika pemilihan presiden, lalu Sayed Ali Khamenei merespons kritik itu dengan penegasan bahwa putranya adalah “Agha”, bukan sekadar “aghazadeh”.

Baca Juga: 
Prabowo Saksikan Penandatangan 11 MoU Antara AS dan RI di Washington DC, Total Investasi Capai US$38,4 Miliar

Sejak saat itu, Sayed Mojtaba Khamenei semakin dipandang sebagai figur yang memiliki bobot simbolik dan politik di balik layar, terutama di tengah menguatnya pembicaraan mengenai suksesi kepemimpinan Republik Islam.

Sayed Mojtaba Khamenei, yang lahir pada 1969 dan merupakan putra kedua Sayed Ali Khamenei, berasal dari keluarga yang selama puluhan tahun berada di jantung kehidupan politik dan keagamaan Iran.

Al Jazeera melaporkan bahwa ibunda, istri, dan salah satu saudari Sayed Mojtaba juga termasuk korban dalam serangan yang menewaskan ayahnya, sementara ia sendiri dilaporkan tidak berada di lokasi saat serangan terjadi.

Perjalanan Sayed Mojtaba menuju dunia keulamaan berkembang melalui pendidikan di Qom dan keterlibatan panjangnya dalam studi keislaman, hingga namanya kemudian disebut oleh media hauzah di Qom sebagai “Ayatollah” yang mengajar dars-e kharij fikih dan ushul.

Dalam berbagai penilaian yang beredar di lingkungan internal Iran, Sayed Mojtaba kerap disebut sebagai putra yang paling menyerupai Sayed Ali Khamenei, baik dalam hal pembawaan pribadi maupun corak pandang ideologis.

Posisinya makin kuat karena ia selama ini dikenal memiliki hubungan erat dengan unsur-unsur strategis negara, termasuk jejaring keamanan dan militer, serta disebut oleh sejumlah laporan mempunyai kedekatan dengan Garda Revolusi Iran, Basij termasuk memiliki kedekatan dengan Mahmoud Ahmadinejad (Mantan Presiden Republik Islam Iran), walaupun tudingan itu selalu dibantah oleh pihak resmi Republik Islam.

Baca Juga: 
Garda Revolusi Iran Sebut Siap Perang 6 Bulan Melawan AS dan Israel

Dalam pembacaan banyak analis, salah satu sumber pengaruh paling penting Mojtaba justru berasal dari relasinya dengan para komandan Garda Revolusi, sehingga ia selama bertahun-tahun dipandang sebagai penghubung penting antara kantor pemimpin tertinggi dan inti kekuatan militer-politik Iran.

Meski demikian, berbeda dari banyak tokoh politik dan rohaniwan Republik Islam yang membangun pengaruh lewat pidato-pidato terbuka, Sayed Mojtaba justru membangun reputasinya lewat kerja senyap, jaringan terbatas, dan kedalaman relasi institusional di balik panggung.

Corak kepemimpinan seperti itu kini diuji dalam situasi yang amat berat karena Iran bukan hanya menghadapi perang dan serangan eksternal, tetapi juga tekanan ekonomi, sanksi internasional, inflasi, krisis energi, dan tantangan lingkungan yang telah menumpuk dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun sejumlah pengkritik di dalam dan luar negeri mencoba menafsirkan suksesi ini sebagai gejala pewarisan kekuasaan, Majelis Ahli menegaskan bahwa proses pemilihan didasarkan pada kelayakan religius dan politik, bukan pada logika monarki yang dahulu ditolak Revolusi Islam.

Dalam bingkai itu, penunjukan Sayed Mojtaba Khamenei dibaca oleh pendukung Republik Islam sebagai upaya mempertahankan stabilitas negara, kesinambungan garis perlawanan, dan kesatuan komando nasional di tengah agresi bersenjata Amerika Serikat dan Israel.

Sementara itu, campur tangan verbal dari Washington justru memperlihatkan bahwa suksesi di Teheran telah menjadi arena baru perebutan pengaruh geopolitik internasional.

Media Barat ABC News pada 8 Maret 2026 memuat pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengatakan bahwa pemimpin Iran berikutnya “tidak akan bertahan lama” tanpa persetujuan Washington.

Baca Juga: 
Surat Duka Presiden Prabowo untuk Iran: Dunia Berduka atas Syahidnya Ayatollah Sayyid Ali Khamenei

Dalam laporan yang sama, ABC News mengutip Trump berkata, “He’s going to have to get approval from us. If he doesn’t get approval from us, he’s not going to last long,” seraya menambahkan bahwa ia tidak menutup kemungkinan opsi lain karena menurutnya “all options are on the table.”

Pernyataan Trump itu kemudian juga dikutip oleh Reuters pada 8-9 Maret 2026, yang melaporkan bahwa komentar tersebut berpotensi memicu kemarahan Teheran karena Washington secara terbuka ingin memiliki suara dalam proses pemilihan pemimpin baru Iran.

Reuters juga mencatat bahwa pernyataan tersebut muncul tepat ketika Iran mengumumkan Sayed Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru, sehingga komentar Trump dipandang bukan sekadar opini politik, melainkan bentuk tekanan terbuka terhadap kedaulatan keputusan Republik Islam Iran.

Di tengah tekanan itu, pesan yang mengemuka dari Teheran adalah bahwa kepemimpinan Iran ditentukan oleh mekanisme internal Republik Islam, bukan oleh persetujuan Washington, Tel Aviv, atau kekuatan asing mana pun.

Dengan demikian, naiknya Sayed Mojtaba Khamenei bukan hanya menandai pergantian pemimpin ketiga sejak Revolusi 1979, tetapi juga menjadi ujian historis bagi daya tahan Republik Islam Iran dalam mempertahankan kedaulatan, persatuan, dan arah politiknya di tengah perang yang masih terus berkecamuk. (Ali)

SulawesiPos.com – Al Jazeera dalam laporannya yang terbit pada Senin (9/3/2026) menuliskan bahwa Sayed Mojtaba Khamenei secara resmi dipilih oleh Majelis Para Ahli ( Majles-e Khebregan-e Rahbari) sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran setelah wafatnya Sayed Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Dengan keputusan itu, Republik Islam Iran memasuki fase baru kepemimpinan nasional di tengah perang terbuka, ketika lembaga konstitusional negara bergerak cepat untuk menjaga kesinambungan pemerintahan dan persatuan nasional.

Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama menyatakan bahwa pemilihan tersebut dilakukan melalui suara yang mereka sebut sebagai “decisive vote”, lalu menyerukan kepada rakyat Iran, terutama kalangan elite dan intelektual hauzah serta universitas, agar menjaga persatuan dan menyatakan dukungan kepada kepemimpinan baru.

Selama bertahun-tahun, nama Sayed Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur berpengaruh di lingkungan inti kekuasaan Republik Islam, khususnya di sekitar kantor pemimpin tertinggi (Bayt-e Rahbari) dan jejaring strategis negara, meskipun ia memilih tetap jauh dari sorotan publik.

Di antara anak-anak Sayed Ali Khanei, pemimpin Republik Islam yang syahid, banyak orang menganggap Sayed Mujtaba sebagai orang yang paling mirip dengan Sayed Ali Khamenei
Di antara anak-anak Sayed Ali Khanei, pemimpin Republik Islam yang syahid, banyak orang menganggap Sayed Mojtaba sebagai orang yang paling mirip dengan Sayed Ali Khamenei dalam hal penampilan dan bahkan pandangan intelektual. (Kredit: Fars)

Karena itu, kenaikan Sayed Mojtaba Khamenei ke puncak kepemimpinan bukanlah kemunculan tokoh baru dari ruang hampa, melainkan penegasan atas sosok yang sejak lama dipandang mempunyai kedekatan mendalam dengan pusat pengambilan keputusan negara.

Dalam sejarah politik Iran kontemporer, namanya mulai lebih sering diperbincangkan sejak 2005 ketika Mehdi Karroubi menuduhnya ikut memengaruhi dinamika pemilihan presiden, lalu Sayed Ali Khamenei merespons kritik itu dengan penegasan bahwa putranya adalah “Agha”, bukan sekadar “aghazadeh”.

Baca Juga: 
Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Iran, Houthi Yaman: Ini Kemenangan Revolusi Islam

Sejak saat itu, Sayed Mojtaba Khamenei semakin dipandang sebagai figur yang memiliki bobot simbolik dan politik di balik layar, terutama di tengah menguatnya pembicaraan mengenai suksesi kepemimpinan Republik Islam.

Sayed Mojtaba Khamenei, yang lahir pada 1969 dan merupakan putra kedua Sayed Ali Khamenei, berasal dari keluarga yang selama puluhan tahun berada di jantung kehidupan politik dan keagamaan Iran.

Al Jazeera melaporkan bahwa ibunda, istri, dan salah satu saudari Sayed Mojtaba juga termasuk korban dalam serangan yang menewaskan ayahnya, sementara ia sendiri dilaporkan tidak berada di lokasi saat serangan terjadi.

Perjalanan Sayed Mojtaba menuju dunia keulamaan berkembang melalui pendidikan di Qom dan keterlibatan panjangnya dalam studi keislaman, hingga namanya kemudian disebut oleh media hauzah di Qom sebagai “Ayatollah” yang mengajar dars-e kharij fikih dan ushul.

Dalam berbagai penilaian yang beredar di lingkungan internal Iran, Sayed Mojtaba kerap disebut sebagai putra yang paling menyerupai Sayed Ali Khamenei, baik dalam hal pembawaan pribadi maupun corak pandang ideologis.

Posisinya makin kuat karena ia selama ini dikenal memiliki hubungan erat dengan unsur-unsur strategis negara, termasuk jejaring keamanan dan militer, serta disebut oleh sejumlah laporan mempunyai kedekatan dengan Garda Revolusi Iran, Basij termasuk memiliki kedekatan dengan Mahmoud Ahmadinejad (Mantan Presiden Republik Islam Iran), walaupun tudingan itu selalu dibantah oleh pihak resmi Republik Islam.

Baca Juga: 
Israel Ancam Bunuh Siapapun Pemimpin Baru Iran, Apakah Mojtaba Khamenei Jadi Target?

Dalam pembacaan banyak analis, salah satu sumber pengaruh paling penting Mojtaba justru berasal dari relasinya dengan para komandan Garda Revolusi, sehingga ia selama bertahun-tahun dipandang sebagai penghubung penting antara kantor pemimpin tertinggi dan inti kekuatan militer-politik Iran.

Meski demikian, berbeda dari banyak tokoh politik dan rohaniwan Republik Islam yang membangun pengaruh lewat pidato-pidato terbuka, Sayed Mojtaba justru membangun reputasinya lewat kerja senyap, jaringan terbatas, dan kedalaman relasi institusional di balik panggung.

Corak kepemimpinan seperti itu kini diuji dalam situasi yang amat berat karena Iran bukan hanya menghadapi perang dan serangan eksternal, tetapi juga tekanan ekonomi, sanksi internasional, inflasi, krisis energi, dan tantangan lingkungan yang telah menumpuk dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun sejumlah pengkritik di dalam dan luar negeri mencoba menafsirkan suksesi ini sebagai gejala pewarisan kekuasaan, Majelis Ahli menegaskan bahwa proses pemilihan didasarkan pada kelayakan religius dan politik, bukan pada logika monarki yang dahulu ditolak Revolusi Islam.

Dalam bingkai itu, penunjukan Sayed Mojtaba Khamenei dibaca oleh pendukung Republik Islam sebagai upaya mempertahankan stabilitas negara, kesinambungan garis perlawanan, dan kesatuan komando nasional di tengah agresi bersenjata Amerika Serikat dan Israel.

Sementara itu, campur tangan verbal dari Washington justru memperlihatkan bahwa suksesi di Teheran telah menjadi arena baru perebutan pengaruh geopolitik internasional.

Media Barat ABC News pada 8 Maret 2026 memuat pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengatakan bahwa pemimpin Iran berikutnya “tidak akan bertahan lama” tanpa persetujuan Washington.

Baca Juga: 
Prabowo Saksikan Penandatangan 11 MoU Antara AS dan RI di Washington DC, Total Investasi Capai US$38,4 Miliar

Dalam laporan yang sama, ABC News mengutip Trump berkata, “He’s going to have to get approval from us. If he doesn’t get approval from us, he’s not going to last long,” seraya menambahkan bahwa ia tidak menutup kemungkinan opsi lain karena menurutnya “all options are on the table.”

Pernyataan Trump itu kemudian juga dikutip oleh Reuters pada 8-9 Maret 2026, yang melaporkan bahwa komentar tersebut berpotensi memicu kemarahan Teheran karena Washington secara terbuka ingin memiliki suara dalam proses pemilihan pemimpin baru Iran.

Reuters juga mencatat bahwa pernyataan tersebut muncul tepat ketika Iran mengumumkan Sayed Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru, sehingga komentar Trump dipandang bukan sekadar opini politik, melainkan bentuk tekanan terbuka terhadap kedaulatan keputusan Republik Islam Iran.

Di tengah tekanan itu, pesan yang mengemuka dari Teheran adalah bahwa kepemimpinan Iran ditentukan oleh mekanisme internal Republik Islam, bukan oleh persetujuan Washington, Tel Aviv, atau kekuatan asing mana pun.

Dengan demikian, naiknya Sayed Mojtaba Khamenei bukan hanya menandai pergantian pemimpin ketiga sejak Revolusi 1979, tetapi juga menjadi ujian historis bagi daya tahan Republik Islam Iran dalam mempertahankan kedaulatan, persatuan, dan arah politiknya di tengah perang yang masih terus berkecamuk. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru