25 C
Makassar
7 March 2026, 1:01 AM WITA

Serangan Israel Diduga Hantam Lukisan Helikopter di Aspal, Analis Sebut Taktik Tipuan Iran

SulawesiPos.com – Militer Israel Defense Forces (IDF) menjadi sorotan setelah rekaman serangan udara yang mereka rilis memicu perdebatan di kalangan analis pertahanan.

Dalam video tersebut, IDF mengklaim berhasil menghancurkan sebuah helikopter militer milik Iran, yang disebut sebagai bagian dari upaya melemahkan kemampuan udara negara tersebut.

Target yang diserang disebut sebagai helikopter Mi-17 milik Iran.

Serangan tersebut dipresentasikan sebagai bagian dari operasi militer untuk melumpuhkan fasilitas dan aset udara Iran di tengah meningkatnya konflik di kawasan.

Namun, klaim tersebut kemudian dipertanyakan sejumlah analis keamanan.

Salah satunya analis independen Patricia Marins yang menilai objek dalam rekaman kemungkinan bukan helikopter sungguhan.

Menurut Marins, objek yang terlihat dari udara kemungkinan merupakan lukisan dua dimensi berukuran besar yang dibuat di atas permukaan aspal.

Lukisan semacam itu menggunakan teknik anamorfik sehingga tampak realistis dari sudut pandang tertentu seperti drone, satelit, atau pesawat pengintai.

Teknik ini memungkinkan gambar datar terlihat menyerupai objek tiga dimensi ketika dilihat dari ketinggian.

Jika benar digunakan oleh Iran, taktik tersebut diduga menjadi bagian dari strategi untuk mengecoh pengintaian udara musuh.

Target palsu seperti ini dapat mengalihkan serangan dari aset militer yang sebenarnya sekaligus memaksa lawan menghabiskan amunisi presisi pada sasaran yang tidak bernilai strategis.

“Teknik seni darat semacam ini bisa membuat objek terlihat sangat realistis dari perspektif udara,” kata Marins dalam analisanya.

Penggunaan target palsu sebenarnya bukan hal baru dalam peperangan modern. Sejumlah negara diketahui menggunakan berbagai bentuk kamuflase atau replika militer untuk melindungi aset strategis.

Dalam berbagai konflik, militer sering menggunakan tank tiruan, pesawat palsu, hingga instalasi militer replika untuk menipu sensor pengintaian musuh.

Strategi tersebut dinilai efektif dalam perang modern yang sangat bergantung pada drone, citra satelit, dan sistem pengintaian jarak jauh.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Israel dalam beberapa waktu terakhir.

Pertempuran kedua pihak semakin intens dengan penggunaan rudal, drone, serta operasi militer lintas wilayah.

Selain pertempuran fisik, perang informasi dan taktik psikologis juga semakin sering digunakan oleh kedua pihak untuk memengaruhi persepsi publik sekaligus mengganggu strategi militer lawan.

SulawesiPos.com – Militer Israel Defense Forces (IDF) menjadi sorotan setelah rekaman serangan udara yang mereka rilis memicu perdebatan di kalangan analis pertahanan.

Dalam video tersebut, IDF mengklaim berhasil menghancurkan sebuah helikopter militer milik Iran, yang disebut sebagai bagian dari upaya melemahkan kemampuan udara negara tersebut.

Target yang diserang disebut sebagai helikopter Mi-17 milik Iran.

Serangan tersebut dipresentasikan sebagai bagian dari operasi militer untuk melumpuhkan fasilitas dan aset udara Iran di tengah meningkatnya konflik di kawasan.

Namun, klaim tersebut kemudian dipertanyakan sejumlah analis keamanan.

Salah satunya analis independen Patricia Marins yang menilai objek dalam rekaman kemungkinan bukan helikopter sungguhan.

Menurut Marins, objek yang terlihat dari udara kemungkinan merupakan lukisan dua dimensi berukuran besar yang dibuat di atas permukaan aspal.

Lukisan semacam itu menggunakan teknik anamorfik sehingga tampak realistis dari sudut pandang tertentu seperti drone, satelit, atau pesawat pengintai.

Teknik ini memungkinkan gambar datar terlihat menyerupai objek tiga dimensi ketika dilihat dari ketinggian.

Jika benar digunakan oleh Iran, taktik tersebut diduga menjadi bagian dari strategi untuk mengecoh pengintaian udara musuh.

Target palsu seperti ini dapat mengalihkan serangan dari aset militer yang sebenarnya sekaligus memaksa lawan menghabiskan amunisi presisi pada sasaran yang tidak bernilai strategis.

“Teknik seni darat semacam ini bisa membuat objek terlihat sangat realistis dari perspektif udara,” kata Marins dalam analisanya.

Penggunaan target palsu sebenarnya bukan hal baru dalam peperangan modern. Sejumlah negara diketahui menggunakan berbagai bentuk kamuflase atau replika militer untuk melindungi aset strategis.

Dalam berbagai konflik, militer sering menggunakan tank tiruan, pesawat palsu, hingga instalasi militer replika untuk menipu sensor pengintaian musuh.

Strategi tersebut dinilai efektif dalam perang modern yang sangat bergantung pada drone, citra satelit, dan sistem pengintaian jarak jauh.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Israel dalam beberapa waktu terakhir.

Pertempuran kedua pihak semakin intens dengan penggunaan rudal, drone, serta operasi militer lintas wilayah.

Selain pertempuran fisik, perang informasi dan taktik psikologis juga semakin sering digunakan oleh kedua pihak untuk memengaruhi persepsi publik sekaligus mengganggu strategi militer lawan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/