25 C
Makassar
7 March 2026, 3:58 AM WITA

Harga Pakan Turun, Kementan Pastikan Biaya Produksi Peternak Makin Efisien

SulawesiPos.com, Jakarta – Kementerian Pertanian mencatat penurunan harga sejumlah jenis pakan ternak di tingkat produsen pada periode Februari hingga awal Maret 2026.

Penurunan harga ini dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi biaya produksi peternak, mengingat pakan menyumbang sekitar 60–70 persen dari total biaya usaha pada sektor peternakan unggas.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, tren penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun petelur.

Pakan ayam pedaging (broiler) fase starter (BR1) tercatat turun rata-rata Rp112 per kilogram dari 33 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp8.010 per kilogram.

Selain itu, pakan broiler fase pre starter (BR0) turun rata-rata Rp82 per kilogram dari 30 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp8.451 per kilogram.

Sementara itu, pakan broiler fase finisher (BR2) tercatat turun rata-rata Rp89 per kilogram dari 31 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp7.967 per kilogram.

Penurunan harga juga terjadi pada pakan ayam petelur. Pakan layer masa produksi (P3) tercatat turun rata-rata Rp86 per kilogram dari 32 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp6.803 per kilogram.

Konsentrat layer masa produksi (KP3) juga turun rata-rata Rp74 per kilogram dari 14 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp7.735 per kilogram.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda mengatakan tren penurunan harga pakan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.

Menurutnya, pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas sehingga setiap penurunan harga pakan akan berdampak langsung terhadap efisiensi biaya produksi peternak.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan pada akhirnya turut menjaga stabilitas harga produk seperti ayam dan telur di tingkat konsumen,” kata Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Meski demikian, Agung mencatat penurunan harga pakan saat ini baru dilakukan oleh sebagian pabrik pakan. Dari sekitar 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau sekitar 38 persen telah melakukan penyesuaian harga.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian, kami terus melakukan pemantauan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penyesuaian harga ini merupakan langkah positif yang diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi peternak,” ujarnya.

Kementerian Pertanian juga mendorong pabrik pakan lainnya untuk mengikuti langkah penyesuaian harga agar manfaat efisiensi biaya produksi dapat dirasakan lebih luas oleh peternak di berbagai daerah.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo mengatakan industri pakan terus melakukan berbagai langkah efisiensi agar harga pakan semakin kompetitif.

“Industri pakan terus melakukan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang efisien sehingga dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” kata Desianto.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak guna menjaga ketersediaan bahan baku pakan sekaligus menekan biaya produksi peternak.

“Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor. Ekspor di Kalimantan Barat ke Malaysia. Juga kita ekspor ke Filipina. Dari NTB, dari Gorontalo. Jadi ada tiga tempat, dan Bapak Presiden lepas langsung,” kata Mentan Amran dalam Panen Raya Jagung di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada 8 Januari 2026.

Penguatan produksi jagung nasional tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga ketersediaan bahan baku pakan, meningkatkan efisiensi biaya produksi peternakan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

SulawesiPos.com, Jakarta – Kementerian Pertanian mencatat penurunan harga sejumlah jenis pakan ternak di tingkat produsen pada periode Februari hingga awal Maret 2026.

Penurunan harga ini dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi biaya produksi peternak, mengingat pakan menyumbang sekitar 60–70 persen dari total biaya usaha pada sektor peternakan unggas.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, tren penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun petelur.

Pakan ayam pedaging (broiler) fase starter (BR1) tercatat turun rata-rata Rp112 per kilogram dari 33 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp8.010 per kilogram.

Selain itu, pakan broiler fase pre starter (BR0) turun rata-rata Rp82 per kilogram dari 30 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp8.451 per kilogram.

Sementara itu, pakan broiler fase finisher (BR2) tercatat turun rata-rata Rp89 per kilogram dari 31 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp7.967 per kilogram.

Penurunan harga juga terjadi pada pakan ayam petelur. Pakan layer masa produksi (P3) tercatat turun rata-rata Rp86 per kilogram dari 32 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp6.803 per kilogram.

Konsentrat layer masa produksi (KP3) juga turun rata-rata Rp74 per kilogram dari 14 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp7.735 per kilogram.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda mengatakan tren penurunan harga pakan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.

Menurutnya, pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas sehingga setiap penurunan harga pakan akan berdampak langsung terhadap efisiensi biaya produksi peternak.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan pada akhirnya turut menjaga stabilitas harga produk seperti ayam dan telur di tingkat konsumen,” kata Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Meski demikian, Agung mencatat penurunan harga pakan saat ini baru dilakukan oleh sebagian pabrik pakan. Dari sekitar 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau sekitar 38 persen telah melakukan penyesuaian harga.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian, kami terus melakukan pemantauan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penyesuaian harga ini merupakan langkah positif yang diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi peternak,” ujarnya.

Kementerian Pertanian juga mendorong pabrik pakan lainnya untuk mengikuti langkah penyesuaian harga agar manfaat efisiensi biaya produksi dapat dirasakan lebih luas oleh peternak di berbagai daerah.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo mengatakan industri pakan terus melakukan berbagai langkah efisiensi agar harga pakan semakin kompetitif.

“Industri pakan terus melakukan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang efisien sehingga dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” kata Desianto.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak guna menjaga ketersediaan bahan baku pakan sekaligus menekan biaya produksi peternak.

“Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor. Ekspor di Kalimantan Barat ke Malaysia. Juga kita ekspor ke Filipina. Dari NTB, dari Gorontalo. Jadi ada tiga tempat, dan Bapak Presiden lepas langsung,” kata Mentan Amran dalam Panen Raya Jagung di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada 8 Januari 2026.

Penguatan produksi jagung nasional tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga ketersediaan bahan baku pakan, meningkatkan efisiensi biaya produksi peternakan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/