29 C
Makassar
5 March 2026, 18:06 PM WITA

Pemerintah Pastikan PMI di Timur Tengah Aman di Tengah Eskalasi Konflik Iran

SulawesiPos.com – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin memastikan kondisi pekerja migran Indonesia (PMI) di kawasan Timur Tengah masih dalam keadaan aman meskipun terjadi eskalasi konflik setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

“Semuanya masih dalam under control (di bawah kendali),” kata Mukhtarudin usai penandatanganan dokumen kerja sama dengan mitra kerja di Kementerian P2MI, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, hingga saat ini belum ada instruksi dari pemerintah negara tujuan maupun dari perwakilan Indonesia untuk melakukan evakuasi terhadap PMI di kawasan tersebut.

Mukhtarudin menjelaskan, sejauh ini belum terdapat laporan mengenai dampak serius terhadap pekerja migran Indonesia akibat konflik di Timur Tengah.

“Belum ada laporan juga dari pekerja migran kita yang terdampak secara mungkin harus dievakuasi dan lain-lain. Ada beberapa pekerja migran yang di Kuwait, itu bukan dampak fisik, tetapi psikologis karena trauma,” ujarnya.

Pemerintah pun terus melakukan pendampingan terhadap PMI yang mengalami tekanan psikologis agar dapat pulih dan kembali beraktivitas secara normal.

Untuk mengantisipasi perkembangan situasi, Kementerian P2MI telah membangun pusat krisis (crisis center) serta menyediakan hotline bagi PMI yang membutuhkan bantuan atau ingin melaporkan kondisi darurat.

“Jika ada sesuatu segera kita laporkan ke kita,” kata Mukhtarudin.

Selain itu, perwakilan Indonesia di luar negeri seperti Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia juga aktif menyampaikan perkembangan situasi melalui berbagai kanal informasi.

Mukhtarudin menegaskan pemerintah akan terus memantau kondisi secara intensif.

“Prinsipnya, negara, kami, pemerintah, bersama perwakilan kita, KBRI dan KJRI, akan all out memantau dan mengikuti perkembangan day-to-day, detik-detik eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah,” ujarnya.

Terkait jumlah pekerja migran di Iran, Mukhtarudin menyebut angkanya relatif kecil, yakni sekitar 100 orang.

Sebagian besar bekerja sebagai pekerja rumah tangga dan berangkat melalui jalur mandiri.

“Itu bukan penempatan kami. Itu penempatan secara mandiri karena memang Iran bukan salah satu tujuan negara penempatan,” katanya.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi.

SulawesiPos.com – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin memastikan kondisi pekerja migran Indonesia (PMI) di kawasan Timur Tengah masih dalam keadaan aman meskipun terjadi eskalasi konflik setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

“Semuanya masih dalam under control (di bawah kendali),” kata Mukhtarudin usai penandatanganan dokumen kerja sama dengan mitra kerja di Kementerian P2MI, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, hingga saat ini belum ada instruksi dari pemerintah negara tujuan maupun dari perwakilan Indonesia untuk melakukan evakuasi terhadap PMI di kawasan tersebut.

Mukhtarudin menjelaskan, sejauh ini belum terdapat laporan mengenai dampak serius terhadap pekerja migran Indonesia akibat konflik di Timur Tengah.

“Belum ada laporan juga dari pekerja migran kita yang terdampak secara mungkin harus dievakuasi dan lain-lain. Ada beberapa pekerja migran yang di Kuwait, itu bukan dampak fisik, tetapi psikologis karena trauma,” ujarnya.

Pemerintah pun terus melakukan pendampingan terhadap PMI yang mengalami tekanan psikologis agar dapat pulih dan kembali beraktivitas secara normal.

Untuk mengantisipasi perkembangan situasi, Kementerian P2MI telah membangun pusat krisis (crisis center) serta menyediakan hotline bagi PMI yang membutuhkan bantuan atau ingin melaporkan kondisi darurat.

“Jika ada sesuatu segera kita laporkan ke kita,” kata Mukhtarudin.

Selain itu, perwakilan Indonesia di luar negeri seperti Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia juga aktif menyampaikan perkembangan situasi melalui berbagai kanal informasi.

Mukhtarudin menegaskan pemerintah akan terus memantau kondisi secara intensif.

“Prinsipnya, negara, kami, pemerintah, bersama perwakilan kita, KBRI dan KJRI, akan all out memantau dan mengikuti perkembangan day-to-day, detik-detik eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah,” ujarnya.

Terkait jumlah pekerja migran di Iran, Mukhtarudin menyebut angkanya relatif kecil, yakni sekitar 100 orang.

Sebagian besar bekerja sebagai pekerja rumah tangga dan berangkat melalui jalur mandiri.

“Itu bukan penempatan kami. Itu penempatan secara mandiri karena memang Iran bukan salah satu tujuan negara penempatan,” katanya.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/