SulawesiPos.com – Wafatnya Ali Khamenei membuka babak baru dalam politik Iran, terutama terkait proses suksesi kepemimpinan tertinggi negara tersebut.
Putranya, Mojtaba Khamenei disebut sebagai salah satu kandidat terkuat untuk menggantikan ayahnya.
Mojtaba selama ini telah lama dipandang oleh kalangan elite sebagai figur potensial penerus.
Meski tidak pernah memiliki peran resmi dalam rezim sang ayah, namanya konsisten muncul dalam diskusi tertutup di antara ulama senior dan petinggi militer.
Secara profil, Mojtaba dikenal memiliki hubungan dekat dengan IRGC dan jaringan ulama konservatif.
Kedekatan ini dinilai menjadi modal politik signifikan dalam sistem pemerintahan Iran, di mana keseimbangan antara otoritas keagamaan dan kekuatan militer memainkan peran sentral.
Namun demikian, proses penunjukan pemimpin tertinggi Iran secara konstitusional berada di tangan Majelis Ahli, lembaga yang berwenang memilih dan mengawasi pemimpin tertinggi.
Ayatollah Ahmad Khatami, seorang ulama senior Iran dan anggota Dewan Penjaga serta Majelis Ahli, mengatakan diskusi majelis sudah hampir pada tahap kesimpulan.
“Pemimpin tertinggi akan ditentukan pada kesempatan terdekat, kami hampir sampai pada kesimpulan,” kata anggota Majelis Ayatollah Ahmad Khatami kepada TV pemerintah.
Tiga Kandidat Ulama Senior
Isu suksesi sebenarnya sudah mengemuka sejak konflik besar pada Juni 2025 yang menewaskan sejumlah ilmuwan nuklir serta komandan terkemuka Iran.
Rangkaian peristiwa tersebut mempertegas risiko keamanan terhadap pucuk pimpinan negara, sehingga pembahasan mengenai skenario pergantian kepemimpinan disebut sudah disiapkan.
Terdapat laporan yang menyebut bahwa Ali Khamenei telah mempertimbangkan tiga ulama senior sebagai kandidat penerus.
Walau tidak ada konfirmasi resmi, nama Mojtaba Khamenei menjadi bahan spekulasi.
Israel Ancam Bunuh Penerus Khamenei
Pemerintah Israel mengeluarkan pernyataan keras terkait dinamika suksesi kepemimpinan di Iran.
Menteri Pertahanan Israel, Katz menegaskan bahwa siapa pun yang ditunjuk menggantikan Ali Khamenei akan masuk dalam radar militer negaranya.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui platform X, Katz menyebut figur penerus yang melanjutkan kebijakan konfrontatif terhadap Israel dan sekutunya akan dianggap sebagai ancaman langsung.
Ia menilai kepemimpinan baru di Teheran, jika tetap membawa agenda permusuhan, akan menghadapi konsekuensi serius.
“Pemimpin mana pun yang dipilih oleh rezim teror Iran untuk terus memimpin rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat, dunia bebas, dan negara-negara di kawasan itu, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target pembunuhan,” kata Katz.
Menurut Katz, Israel bersama Amerika Serikat akan mempertahankan langkah-langkah strategis untuk melemahkan kemampuan militer dan pengaruh regional Iran.
Ia juga menyatakan dukungan terhadap perubahan politik di dalam negeri Iran, dengan menyebut rakyat Iran berhak menentukan arah masa depan mereka tanpa tekanan rezim.
“Kami akan terus bertindak dengan kekuatan penuh, bersama dengan mitra Amerika kami, untuk membongkar kemampuan rezim dan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk menggulingkan dan menggantinya,” tambah Katz.

