31 C
Makassar
4 March 2026, 15:47 PM WITA

Serangan Iran Hancurkan 27 Pangkalan AS, Kawasan Timur Tengah Nilai Amerika Tidak Sehebat Itu

SulawesiPos.com – Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran dinilai berpotensi menimbulkan dampak besar bagi ekonomi global.

Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi, yang bisa mendorong inflasi, menekan daya beli masyarakat, serta menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi AS.

Serangan udara gabungan AS dan Israel ke Iran, yang dibalas Teheran, telah mengguncang pasar minyak dunia.

Gangguan pasokan energi termasuk risiko penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global, menjadi sorotan utama.

Publik menilai, serangan AS yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, dilakukan terburu-buru tanpa perhitungan matang.

Aktivis dan jurnalis pembebasan Baitul Maqdis, Muhammad Husein Gaza, menguraikan beberapa evaluasi hari keempat perang AS-Israel dan Iran.

Salah satunya, ia menekankan bahwa perang bukan soal kemenangan di hari pertama, melainkan ketahanan jangka panjang.

“Perang bukan masalah hari pertama, tapi hari ke seratus,” tegas Muhammad Husein Gaza dalam pernyataan di akun TikToknya.

Ia menambahkan, kawasan Teluk kini masuk zona rawan karena negara-negara kaya dengan pertahanan mahal mendadak terbuka secara strategis.

Menurutnya, pangkalan militer AS yang selama ini dianggap sebagai pelindung justru menjadi risiko besar.

Serangan balasan Iran ke 27 pangkalan militer AS di Timur Tengah menjadi bukti bahwa Amerika tidak sekuat yang diperkirakan banyak pihak.

“Amerika ini tidak sehebat itu,” pikirnya.

Ia menambahkan, banyak video amatir yang beredar menunjukkan pesawat tempur AS mulai dipindahkan dari pangkalan di kawasan karena khawatir dihancurkan oleh kekuatan Iran.

Hal serupa diungkapkan oleh Colonel (Purn.) Douglas Abbott Macgregor, veteran tempur dan mantan penasihat senior Menteri Pertahanan AS.

Dalam wawancara di kanal YouTube Glenn Diesen, Selasa (3/3/2026), ia menilai bahwa serangan Iran bersifat “terregionalisasi efektif,” menargetkan banyak pangkalan AS sekaligus.

Macgregor menekankan, Amerika tidak memiliki strategi yang jelas.

“Mereka mengira taktik serangan awal yang menewaskan Ali Khamenei cukup untuk meruntuhkan sistem Iran. Kamu bisa membunuh seorang pemimpin, tetapi kamu tidak bisa membom sebuah peradaban hingga tunduk,” ujarnya.

Dampak konflik ini tidak hanya pada keamanan, tetapi juga stabilitas ekonomi global, termasuk potensi lonjakan harga energi dan inflasi.

Dampak: Harga Minyak Melonjak

Lonjakan ketegangan di Timur Tengah juga memicu kenaikan harga minyak mentah global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyoroti dampak ini terhadap perekonomian Indonesia.

Pada awal pekan ini, harga minyak jenis Brent sempat menyentuh US$ 81 per barel, jauh di atas asumsi dalam APBN 2026 yang hanya US$ 70 per barel.

Bahlil menekankan bahwa pemerintah terus memantau pergerakan harga energi global agar dampaknya terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri dapat dikelola dengan baik.

Lonjakan harga energi akibat konflik ini berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

SulawesiPos.com – Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran dinilai berpotensi menimbulkan dampak besar bagi ekonomi global.

Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi, yang bisa mendorong inflasi, menekan daya beli masyarakat, serta menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi AS.

Serangan udara gabungan AS dan Israel ke Iran, yang dibalas Teheran, telah mengguncang pasar minyak dunia.

Gangguan pasokan energi termasuk risiko penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global, menjadi sorotan utama.

Publik menilai, serangan AS yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, dilakukan terburu-buru tanpa perhitungan matang.

Aktivis dan jurnalis pembebasan Baitul Maqdis, Muhammad Husein Gaza, menguraikan beberapa evaluasi hari keempat perang AS-Israel dan Iran.

Salah satunya, ia menekankan bahwa perang bukan soal kemenangan di hari pertama, melainkan ketahanan jangka panjang.

“Perang bukan masalah hari pertama, tapi hari ke seratus,” tegas Muhammad Husein Gaza dalam pernyataan di akun TikToknya.

Ia menambahkan, kawasan Teluk kini masuk zona rawan karena negara-negara kaya dengan pertahanan mahal mendadak terbuka secara strategis.

Menurutnya, pangkalan militer AS yang selama ini dianggap sebagai pelindung justru menjadi risiko besar.

Serangan balasan Iran ke 27 pangkalan militer AS di Timur Tengah menjadi bukti bahwa Amerika tidak sekuat yang diperkirakan banyak pihak.

“Amerika ini tidak sehebat itu,” pikirnya.

Ia menambahkan, banyak video amatir yang beredar menunjukkan pesawat tempur AS mulai dipindahkan dari pangkalan di kawasan karena khawatir dihancurkan oleh kekuatan Iran.

Hal serupa diungkapkan oleh Colonel (Purn.) Douglas Abbott Macgregor, veteran tempur dan mantan penasihat senior Menteri Pertahanan AS.

Dalam wawancara di kanal YouTube Glenn Diesen, Selasa (3/3/2026), ia menilai bahwa serangan Iran bersifat “terregionalisasi efektif,” menargetkan banyak pangkalan AS sekaligus.

Macgregor menekankan, Amerika tidak memiliki strategi yang jelas.

“Mereka mengira taktik serangan awal yang menewaskan Ali Khamenei cukup untuk meruntuhkan sistem Iran. Kamu bisa membunuh seorang pemimpin, tetapi kamu tidak bisa membom sebuah peradaban hingga tunduk,” ujarnya.

Dampak konflik ini tidak hanya pada keamanan, tetapi juga stabilitas ekonomi global, termasuk potensi lonjakan harga energi dan inflasi.

Dampak: Harga Minyak Melonjak

Lonjakan ketegangan di Timur Tengah juga memicu kenaikan harga minyak mentah global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyoroti dampak ini terhadap perekonomian Indonesia.

Pada awal pekan ini, harga minyak jenis Brent sempat menyentuh US$ 81 per barel, jauh di atas asumsi dalam APBN 2026 yang hanya US$ 70 per barel.

Bahlil menekankan bahwa pemerintah terus memantau pergerakan harga energi global agar dampaknya terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri dapat dikelola dengan baik.

Lonjakan harga energi akibat konflik ini berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/