SulawesiPos.com – Media Inggris The Guardian dalam laporan Edward Helmore yang dipublikasikan pada Senin (2/3/2026), melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan kemungkinan akan ada lebih banyak korban tentara AS sebelum konflik dengan Iran berakhir setelah tiga personel militer Amerika tewas dalam serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran.
Dalam pidato video berdurasi enam menit yang diunggah di platform Truth Social, Trump menyatakan akan membalas kematian tiga tentaranya dan menuduh rezim Iran “mengobarkan perang terhadap peradaban itu sendiri” sembari menegaskan operasi militer akan terus berlanjut.
Trump menyampaikan duka atas gugurnya prajurit Amerika dan mendoakan lima tentara lain yang mengalami luka serius, namun ia menegaskan bahwa “kemungkinan besar akan ada lagi korban sebelum ini berakhir,” seraya memperkirakan konflik dapat berlangsung sekitar empat minggu.
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengonfirmasi bahwa hingga pukul 09.30 waktu Timur AS tiga prajurit tewas dan lima lainnya terluka serius dalam operasi yang disebut Pentagon sebagai Operation Epic Fury, yang menandai korban pertama pihak AS sejak perintah serangan dikeluarkan pada Sabtu dini hari.
Trump dalam pidatonya juga kembali mengulang klaim bahwa Iran berada di ambang kepemilikan senjata nuklir meskipun tidak ada bukti kredibel yang menunjukkan Teheran sedang membangun senjata tersebut.
Ia menyebut operasi gabungan AS–Israel sebagai salah satu ofensif militer terbesar dan paling kompleks yang pernah terjadi, dengan klaim ratusan target dihantam termasuk fasilitas Garda Revolusi, sistem pertahanan udara, hingga sembilan kapal dan fasilitas angkatan laut Iran dalam hitungan menit.
Di sisi lain, CNN melaporkan dengan mengutip kantor berita Tasnim bahwa dua ulama Syiah senior Iran mengeluarkan seruan keras pasca tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan tersebut, sehingga memperluas eskalasi dari konflik militer menjadi mobilisasi ideologis global.
Grand Ayatollah Makarem Shirazi yang berusia 99 tahun menyerukan umat Islam di seluruh dunia untuk berjihad melawan Amerika Serikat dan Israel, dengan menyatakan bahwa membalas kematian Khamenei adalah kewajiban religius seluruh Muslim untuk melenyapkan kejahatan para pelaku.
Tasnim juga melaporkan bahwa Ayatullah Uzhma Nouri Hamadani yang dikenal sebagai salah satu marja terkemuka menyerukan jihad aktif terhadap AS dan Israel. “Merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam untuk membalas darah Khamenei,” kata Ayatullah Nouri Hamedani
Eskalasi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi semata pertarungan militer, melainkan telah memasuki dimensi teologis dan simbolik yang berpotensi memperluas resonansi geopolitik di dunia Muslim.
Sementara itu, visual yang beredar luas dan disebut bersumber dari Dr. Muhsin Labib, Direktur Moderate Institute, menggambarkan narasi bahwa gugurnya Khamenei bukan sekadar kematian seorang pemimpin, melainkan bagian dari “sistem otoritas yang melampaui pengemban otoritas” sebagai pernyataan ideologis yang menempatkan syahadah sebagai kemuliaan, bukan sekadar risiko politik.
Dalam visual tersebut dijelaskan bahwa Khamenei tinggal di rumah sederhana yang alamatnya diketahui publik dan menerima kunjungan rakyat setiap hari sebagai simbol kedekatan dengan masyarakat, sementara Iran digambarkan dikepung pangkalan militer AS, jaringan intelijen global, dan satelit pengawas yang memungkinkan kekuatan Amerika dan Israel tetap mampu menjangkau targetnya.
Narasi itu juga menegaskan bahwa kemungkinan kesyahidan tidak dihindari karena struktur, jaringan ideologi, dan keyakinan kolektif diyakini tetap utuh meski figur pemimpin gugur, sehingga kematian seorang pengemban otoritas tidak dianggap sebagai akhir dari sistem otoritas itu sendiri.
Dengan kombinasi pernyataan keras Trump, seruan jihad para marja Syiah, serta narasi ideologis yang berkembang di ruang publik, konflik Iran–AS berpotensi berubah dari operasi militer terbatas menjadi konfrontasi berkepanjangan yang berdampak luas terhadap stabilitas Timur Tengah dan dinamika politik global. (Ali)

