SulawesiPos.com – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal sebagai martir dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.
Dikutip dari AFP berdasarkan laporan televisi pemerintah Iran, Minggu (1/3/2026), kepemimpinan Iran untuk sementara akan dijalankan oleh sebuah dewan transisi yang dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian.
Dewan tersebut juga melibatkan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei serta seorang pejabat lain dari dewan hukum negara.
Informasi ini disampaikan televisi pemerintah dengan mengutip Mohammad Mokhber, salah satu penasihat Khamenei.
Kematian Khamenei menjadi pukulan besar bagi Republik Islam Iran yang dipimpinnya sejak 1989.
Ia naik ke tampuk kekuasaan satu dekade setelah revolusi teokratis 1979 yang menggulingkan monarki Iran dan mengubah lanskap politik Timur Tengah.
Media pemerintah Iran juga melaporkan sejumlah anggota keluarga Khamenei turut menjadi korban dalam serangan tersebut, termasuk anak perempuan, cucu perempuan, serta menantu laki-laki dan perempuan.
Respons Islamic Revolutionary Guard Corps
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Khamenei.
“Kita telah kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya,” demikian pernyataan yang dikutip Al Jazeera.
IRGC menyebut kemartiran Khamenei sebagai bukti legitimasi dan pengabdian tulusnya kepada bangsa Iran.
Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa “tangan pembalasan bangsa Iran tidak akan membiarkan mereka lolos” serta menekankan bahwa IRGC akan berdiri tegas menghadapi konspirasi domestik maupun asing.
Wafatnya Khamenei di tengah serangan militer Israel-AS berpotensi memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Selain memicu dinamika politik internal Iran, peristiwa ini juga membuka babak baru dalam eskalasi konflik regional.
Mekanisme suksesi permanen Pemimpin Tertinggi Iran selanjutnya akan menjadi perhatian utama, mengingat posisi tersebut merupakan otoritas tertinggi dalam sistem politik Republik Islam.

